Bagas datang sendiri.
Tidak ada penjemputan paksa, tidak ada pintu yang didobrak. Polisi menelepon pukul sembilan pagi, dan pukul sepuluh lelaki itu sudah berdiri di lobi kantor penyidik dengan setelan abu-abu, tas kulit di tangan, dan senyum yang tenang seperti orang yang datang untuk rapat rutin.
"Selamat pagi," katanya kepada petugas resepsionis. "Saya diminta hadir. Ruang mana?"
Ia bahkan menyalami dua penyidik yang menunggunya.
Di ruang pemeriksaan, Bagas membuka tasnya dan mengeluarkan setumpuk dokumen, disusun rapi dengan pembatas warna.
"Sebelum kita mulai," katanya, "saya bawa keterangan tertulis. Saya rasa ini menghemat waktu kita semua."
Penyidik membacanya sekilas. Isinya pernyataan panjang bahwa Hendra pernah menjadi klien firmanya bertahun-tahun lalu dalam perkara perdata kecil, bahwa hubungan itu berakhir, dan bahwa apa pun yang dilakukan lelaki itu di rumah sakit adalah perbuatan pribadi seorang buronan yang panik.
"Hendra bertindak sendiri," kata Bagas. "Saya turut prihatin, tetapi saya tidak bisa bertanggung jawab atas mantan klien yang kehilangan akal."
Richard duduk di kursi pengamat di sudut ruangan dan tidak berkata apa-apa.
Livia yang masuk berikutnya.
Ia masih memakai gelang pasien di pergelangan tangannya, masih pucat, dan berjalan pelan dengan Raka di sebelahnya. Ia meletakkan sebuah perekam kecil di meja.
"Ini dari malam di rumah sakit," katanya. "Ponsel saya di saku jubah, menyala sejak perawat menyuruh saya bersembunyi. Saya nggak sengaja. Saya cuma lupa matiin."
Penyidik menekan tombolnya.
Suara di rekaman itu berderak, tetapi cukup jelas. Suara Hendra, di lorong, meneriakkan sesuatu kepada orang-orangnya sebelum polisi mengepung.
"Saya cuma jalanin perintah Pak Bagas! Kalau ada apa-apa, dia yang tanggung!"
Ruangan itu sunyi.
Raka meletakkan map keduanya. "Dan ini dari tim keuangan."
Ia membuka lembar demi lembar: tiga transfer dari yayasan ke sebuah firma hukum, lalu dari firma itu ke rekening perantara, lalu ke rekening yang dipakai membayar Hendra. Bukan sekali. Dua puluh tiga kali dalam empat tahun.
"Nama firmanya ada di kop surat yang Bapak bawa hari ini," kata Raka pelan.
Bagas akhirnya berhenti tersenyum.
Ia menutup pulpennya dengan gerakan lambat, dan ketika bicara lagi, suaranya sudah berbeda. Lebih rendah. Lebih jujur, dan justru karena itu lebih buruk.
"Kalian tidak memahami sistem hukum," katanya. "Kalian pikir ini soal benar dan salah. Ini soal berkas. Siapa yang memegang, siapa yang membaca, siapa yang lupa memasukkannya ke dalam daftar." Ia menyandarkan punggung. "Saya akan keluar sebelum kalian bisa membuktikan apa pun."
Richard berdiri dari kursinya di sudut.
"Mungkin dulu bisa," katanya. "Sekarang semua bukti sudah disalin ke banyak tempat."
Bagas menoleh kepadanya.
"Kejaksaan punya. Pengadilan punya salinannya dengan berita acara terpisah. Tim kuasa hukum para korban punya salinan terenkripsi. Dua redaksi memegang arsipnya dengan syarat baru dibuka kalau perkaranya dihentikan tanpa alasan." Richard mendekat satu langkah. "Bapak terbiasa dengan satu berkas yang bisa hilang di satu meja. Yang sekarang Bapak hadapi bukan berkas. Ini salinan yang tidak bisa dihitung lagi."
Untuk pertama kalinya, Bagas tidak punya jawaban yang sudah disiapkan.
Ia memandangi dokumennya sendiri yang tersusun rapi di meja, pembatas warna yang ia siapkan semalaman, dan tiba-tiba benda itu terlihat seperti barang dari zaman lain.
"Saya minta pengacara," katanya akhirnya.
"Silakan," jawab penyidik. "Bapak pasti tahu nomornya di luar kepala."
Mia datang siang itu.
Ia memberikan kesaksian terakhir selama tiga jam, dengan suara yang beberapa kali berhenti tetapi tidak pernah mundur. Ia menceritakan malam ketika Bagas datang ke rumah mereka membawa map, dan ayahnya menandatangani kontrak itu di meja makan sementara ia mengintip dari tangga. Ia menceritakan bagaimana setiap kali ada berita yang mulai menyebut nama keluarganya, berita itu hilang dalam dua hari, dan Bagas selalu tahu lebih dulu berita mana yang akan hilang.
"Dia yang mengatur semuanya," kata Mia. "Bukan Om saya. Om saya cuma yang paling berani terlihat."
Perintah penahanan keluar keesokan sorenya.
Wartawan sudah menunggu sejak pagi. Ketika Bagas dibawa keluar, halaman kantor kejaksaan penuh kamera, mikrofon, dan orang-orang yang saling dorong. Ia sempat berhenti dan menoleh ke arah lampu, dengan borgol ditutupi jaket, dan tidak mengatakan apa pun.
Setelah itu, semuanya terbuka.
Kasus jaringan Ketua dibuka dalam berkas berjilid-jilid. Nama-nama yang selama dua puluh tahun hanya berani disebut dengan bisik sekarang tercetak di surat dakwaan. Prosesnya masih akan panjang, bertahun-tahun mungkin, dengan banding dan kasasi dan segala kelambatannya.
Tetapi ancaman langsung itu berhenti.
Tidak ada lagi orang di seberang jalan. Tidak ada lagi mobil abu-abu di belakang. Keluarga Richard dan keluarga Yura, untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, bisa keluar rumah tanpa menghitung siapa yang mengikuti.
Yura menemui Richard di taman kota dua minggu kemudian.
Sore itu cerah. Ada anak-anak main bola di lapangan sebelah, penjual balon di dekat gerbang, dan bangku kayu yang catnya mengelupas tempat Richard duduk menunggu.
Yura menyerahkan satu bungkus kacang rebus, lalu duduk di sebelahnya.
"Kita sudah melewati banyak hal," katanya.
"Terlalu banyak."
Mereka diam beberapa saat. Angin membawa bau rumput basah dan suara peluit wasit anak-anak dari lapangan sebelah.
"Gue kemarin nganterin dia imunisasi," kata Yura tiba-tiba. "Nangisnya kenceng banget. Suster sampai ketawa."
"Dia sehat?"
"Sehat." Yura membuka bungkus kacang dan mengupas satu. "Aneh ya. Dua bulan lalu kita ngomongin server sama kontrak rahasia. Sekarang gue ngomongin jadwal imunisasi."
"Itu bukan aneh," kata Richard. "Itu artinya sudah lewat."
"Belum semua."
"Belum semua," ia mengakui. "Tapi cukup buat duduk di sini."
"Chard." Yura memandang lurus ke depan. "Apa lo masih ingin memperbaiki hubungan kita?"
Richard tidak buru-buru menjawab, dan Yura bersyukur untuk itu. Ia tidak mau jawaban yang keluar hanya karena pertanyaannya sudah diajukan.
Lelaki itu menggenggam tangannya.
"Setiap hari," katanya.
Yura tersenyum. Matanya panas, tetapi ia tersenyum.
"Kalau begitu, jangan pergi lagi tanpa penjelasan."
"Saya janji."
Di kejauhan, di ujung taman dekat tempat parkir, Raka berdiri di samping mobilnya dengan sebuah amplop di tangan.
Amplop itu diambilnya dari kantor pos sore tadi. Cap resmi rumah tahanan. Tulisan tangan yang ia kenali karena sudah dua kali ia baca dalam berkas.
Ardi.
Raka merobek ujungnya dan mengeluarkan selembar kertas. Isinya cuma satu kalimat, ditulis rapi di tengah halaman, seperti orang yang sudah lama memikirkan cara menuliskannya.
Bagas bukan akhir dari jaringan. Ada seseorang yang mewarisi semua kode dan sedang menunggu waktunya.