Hendra masuk lewat pintu utama pukul delapan lewat empat puluh, ketika jam besuk sedang ramai dan tidak ada yang punya waktu memandangi wajah orang.
Ia memakai jas putih, stetoskop di leher, dan kartu identitas yang digantungkan terbalik. Ia berjalan tidak terburu-buru. Ia bahkan mengangguk kepada seorang perawat di lift.
Yang tidak ia perhitungkan adalah kamera di depan lift lantai lima.
Sistem pengenal wajah rumah sakit itu baru dipasang tiga bulan lalu, produk murah yang sering salah, tetapi malam itu ia benar. Layar di ruang keamanan berkedip merah, mencocokkan wajah itu dengan foto buronan yang dikirim kepolisian dua minggu lalu.
Petugas keamanan menekan tombol darurat empat detik kemudian.
Dalam sembilan menit, seluruh lantai lima dikepung.
"Bu Livia, ikut saya." Seorang perawat menarik selang infus dan mendorong tiangnya cepat-cepat. "Sekarang, Bu."
"Ada apa?"
"Nggak usah nanya dulu."
Mereka setengah berlari melewati koridor ke ruang obat di ujung lorong, ruangan kecil berdinding rak dengan pintu besi dan satu lampu neon. Perawat itu mengunci dari dalam, mematikan lampu, lalu menyuruh Livia duduk di lantai di belakang rak paling besar.
"Jangan bersuara," bisiknya. "Apa pun yang kedengaran di luar."
Livia memegang lututnya sendiri dan mengangguk.
Di koridor, Hendra menyadari ia terlambat.
Kamar 512 kosong. Selimutnya masih hangat dan monitor masih menyala, tetapi orangnya tidak ada. Ia keluar, melihat polisi sudah menutup dua ujung lorong, lalu melakukan satu-satunya hal yang tersisa.
Ia menarik perawat terdekat, seorang perempuan muda yang sedang mendorong troli, dan menodongkan senjata ke pelipisnya.
"Semua mundur!" teriaknya. "Mundur atau saya tembak!"
Richard dan Yura tiba dua puluh menit kemudian.
Lantai empat sudah dijadikan pos komando. Pasien dipindahkan, keluarga digiring turun, dan lorong yang biasanya penuh orang menunggu sekarang kosong kecuali sepatu bot dan kabel.
"Dia minta apa?" tanya Richard kepada perwira.
"Semua bukti dikembalikan. Semua berkas ditarik dari kejaksaan." Perwira itu menggeleng. "Dia tahu itu mustahil."
"Dia tidak tahu," kata Richard. "Dia cuma tidak punya permintaan lain."
Ia meminta pengeras suara.
Suaranya menggema di lorong kosong lantai lima.
"Hendra, kamu tidak akan keluar dengan membawa siapa pun."
Beberapa detik hening, lalu balasan itu datang, serak dan pecah.
"Kamu menghancurkan hidup saya!"
"Kamu memilih bekerja untuk orang yang salah," jawab Richard.
"Pilihan?" Tawa Hendra terdengar tidak waras. "Kalian yang punya pilihan! Saya punya utang! Saya punya ibu yang harus dioperasi! Mereka datang waktu saya nggak punya apa-apa, dan kamu, yang lahir di rumah dua lantai, berdiri di situ ngomongin pilihan!"
Yura melihat sesuatu berubah di wajah Richard. Bukan marah. Lebih seperti lelah.
"Kalau begitu keluar dan katakan itu di pengadilan," kata Richard. "Bukan di sini. Bukan sambil memegang orang yang tadi pagi masih mengganti infus adik saya."
"Mundur!" teriak Hendra, dan lewat layar CCTV mereka melihat laras itu berpindah, ditekan lebih keras ke pelipis perawat yang sudah menutup mata.
Yura mencengkeram lengan Richard.
"Chard." Ia menunjuk layar. "Pintu ruang obat."
"Kenapa?"
"Ventilasinya." Yura mencondongkan badan ke monitor. "Gue hafal rumah sakit ini, gue tiga minggu bolak-balik nengokin Livia. Pintu ruang obat itu ventilasinya gede, kisi-kisi besi, setinggi dada. Dari lorong servis di belakang, orang bisa lihat ke dalam dan ngomong tanpa buka pintu."
Perwira itu mendekat. "Lorong servis tembus dari mana?"
"Dari tangga barat, lewat ruang linen." Yura sudah berdiri. "Gue tunjukin."
"Yura." Richard menahan pergelangan tangannya.
"Gue nggak masuk ke lorong utama." Yura menatapnya. "Gue cuma nunjukin jalan, terus gue turun. Lo yang tahan dia ngomong. Selama dia dengerin lo, dia nggak dengerin yang di belakang."
Richard menahan tangannya satu detik lagi, lalu melepasnya.
"Hati-hati."
"Lo juga."
Setelah itu semuanya berjalan di dua tempat sekaligus.
Di lorong utama, Richard terus bicara. Ia bertanya tentang ibu Hendra. Ia bertanya rumah sakit mana, operasi apa, sudah berapa lama. Ia mengulang pertanyaan, membiarkan jeda panjang, memancing lelaki itu menjawab. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Hendra adalah beberapa detik lagi bagi orang-orang di belakang.
Di lorong servis, Yura menunjukkan pintu ruang linen kepada tim, lalu ditarik turun oleh seorang petugas ke tangga barat seperti janjinya.
Raka yang masuk lebih dulu.
Ia mengetuk kisi ventilasi itu dua kali, pelan, dan berbisik.
"Liv. Ini gue."
Terdengar gerakan di dalam, lalu wajah Livia muncul di balik kisi-kisi, pucat, matanya membesar.
"Raka—"
"Buka kuncinya pelan-pelan. Jangan bunyi."
Mereka keluar lewat pintu belakang ruang obat yang tersambung ke koridor gizi, Livia setengah digendong karena kakinya lemas, infusnya dicabut dan ditekan dengan kapas oleh perawat yang ikut keluar di belakang mereka.
Dua menit setelah itu, tim penyergap masuk dari arah ruang linen.
Hendra tidak sempat menoleh. Ia masih menjawab pertanyaan Richard tentang nama rumah sakit ibunya ketika lengannya ditarik ke belakang dan senjatanya jatuh ke lantai dengan suara logam yang keras di lorong kosong.
Perawat itu terlepas dan langsung jatuh berlutut. Seorang petugas menariknya menjauh, dan perempuan muda itu menangis tanpa suara, kedua tangannya masih terangkat seolah belum percaya sudah boleh menurunkannya.
Semuanya selesai dalam sebelas detik.
Hendra tidak melawan saat diborgol. Ia duduk di lantai, punggungnya menempel di dinding, jas putih curian itu melorot dari bahunya.
Richard berjalan mendekat dan berjongkok di depannya.
"Siapa Pengurus?"
Hendra tertawa lemah. "Buat apa saya kasih tahu."
"Karena orang itu membiarkan kamu ke sini sendirian," kata Richard. "Dia tahu lantai ini penuh polisi. Dia tetap menyuruh kamu naik."
Sesuatu di wajah Hendra runtuh.
Ia diam hampir satu menit penuh, memandangi lantai di antara sepatunya.
"Mantan jaksa," katanya akhirnya. "Dia pernah kerja bareng Kartika. Dia yang atur siapa dapat kasus apa, siapa dipindah, siapa diam."
"Namanya."
Hendra menggeleng sekali, lalu menggeleng lagi, seperti orang yang sedang menawar dengan dirinya sendiri.
"Kalau saya sebut, saya nggak akan sampai persidangan."
"Kalau kamu tidak sebut," kata Richard, "kamu yang akan dicatat sebagai satu-satunya pelakunya."
Hendra mengangkat wajah.
"Bagas."
Di belakang Richard, seseorang menjatuhkan sesuatu. Richard tidak menoleh. Ia merasa lorong itu menyempit di sekelilingnya.
Bagas.
Pengacara yang selama berbulan-bulan mendampingi keluarga Mia menghadapi penyidikan. Yang duduk di ruang tunggu kejaksaan sambil menawarkan kopi. Yang tahu jadwal semua pemeriksaan, isi setiap berkas, dan alamat setiap saksi yang dilindungi.
Orang yang selama ini berdiri paling dekat dengan pintu, dan tidak pernah sekali pun dicurigai.