Bayi itu dikembalikan kepada Mama Yura pada Selasa sore, di ruang tunggu kantor polisi yang berbau kopi instan dan kursi plastik.
Mama menerimanya dengan kedua tangan gemetar, lalu menempelkan pipinya ke kepala bayi itu dan tidak bicara selama hampir semenit. Bayi itu sudah berhenti menangis. Ia tidur, mulutnya bergerak-gerak seperti masih menyusu dalam mimpinya.
"Kecil sekali," kata Mama akhirnya. "Yur, lihat. Kecil sekali."
Yura melihat. Untuk pertama kalinya, benar-benar melihat.
Perempuan itu datang dua hari kemudian.
Ia duduk di ruang tamu rumah Mama dengan seorang pengacara di sebelahnya, memakai baju terbaik yang jelas bukan miliknya sendiri. Umurnya mungkin dua puluh empat. Tangannya tidak berhenti meremas tali tas.
"Klien saya ibu kandung anak tersebut," kata pengacara itu. "Kami mengajukan permohonan hak asuh."
Yura berdiri dari kursinya. "Hak asuh."
"Yura," kata Mama pelan.
"Dua hari, Ma." Yura menoleh ke perempuan itu. "Dua hari lo nggak tahu anak lo di mana. Orang datang bawa map, lo lepas. Sekarang bawa pengacara?"
Perempuan itu menunduk. "Saya nggak lepas, Mbak. Saya dibilangin kalau saya nolak, saya dilaporin."
"Dilaporin apa?"
"Apa aja." Suaranya nyaris tidak terdengar. "Saya nggak punya apa-apa buat ngelawan. Saya cuma punya dia."
Yura membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Mama meletakkan tangannya di lengan Yura. "Duduk dulu."
"Ma—"
"Yura." Mama menatapnya. "Mama juga marah sama bapakmu. Sampai sekarang. Tapi bayi itu tidak bersalah atas kesalahan orang dewasa. Dia belum pernah milih apa-apa. Jangan dia yang kita hukum."
Yura duduk. Ia tidak menjawab, tetapi ia duduk.
Sidang sementara berlangsung minggu berikutnya dan hanya makan waktu empat puluh menit. Hakim menetapkan bayi itu berada dalam perlindungan keluarga Yura sampai perkara jaringan selesai, dengan hak kunjung untuk ibu kandungnya tiga kali seminggu.
Perempuan itu menangis di koridor setelahnya. Yura melewatinya, berhenti dua langkah, lalu kembali.
"Hari Rabu jam sepuluh," katanya. "Jangan telat."
Richard mengurus tempat tinggalnya.
Sebuah rumah kecil di kompleks yang dijaga, dua kamar, dapur yang cukup, halaman sempit dengan satu pohon jambu. Ia menyuruh orangnya memasang teralis dan kamera sebelum Yura sempat melihat tempatnya.
Yura melihat kunci di meja dan langsung mengerti.
"Berapa?" tanyanya.
"Apanya?"
"Sewanya, Chard. Gue mau tahu angkanya."
Richard menghela napas. "Yura."
"Gue nggak mau ngutang sama lo." Yura menyilangkan tangan. "Gue udah kerja delapan tahun buat bisa berdiri sendiri tanpa minta siapa-siapa. Gue nggak mau selesai kasus ini, gue bangun tidur, dan sadar hidup gue dibayarin mantan."
"Ini bukan uang pinjaman," kata Richard. "Ini tanggung jawab."
"Tanggung jawab siapa?"
"Saya." Richard menunjuk dirinya sendiri tanpa nada tinggi. "Anak itu masuk daftar karena jaringan yang dibangun ayah saya. Dia diambil dari rumah karena ada nama keluarga saya di pangkalnya. Kalau saya cuma minta maaf lalu pulang ke rumah saya yang aman, saya bukan orang yang bertanggung jawab. Saya cuma orang yang merasa bersalah, dan itu murah."
Yura terdiam.
"Kalau kamu mau, tulis saja perjanjiannya," lanjut Richard. "Rumah itu atas nama bayinya, diurus wali. Bukan atas nama saya, bukan atas nama kamu. Supaya tidak ada yang bisa dipakai untuk menekan siapa pun nanti."
Yura memandanginya lama, lalu mengangguk sekali.
Malam itu mereka duduk di lantai ruang tengah rumah baru itu, di antara kardus yang belum dibuka. Bayi itu tidur di kasur lipat di dekat dinding, tangannya terangkat di samping kepala.
"Namanya belum diganti," kata Yura pelan. "Masih yang di daftar itu."
"Nanti bisa."
"Gue mikir, dia bakal gede dan nanya dari mana dia." Yura menarik lututnya ke dada. "Terus gue mau jawab apa? Bapak gue punya simpanan, lo lahir dari situ, terus ada jaringan yang mau make lo buat tanda tangan dua puluh tahun lagi?"
"Kamu bisa jawab yang lain."
"Apa?"
Richard memandang bayi itu. "Bahwa ada orang-orang yang datang menjemputnya."
Yura menoleh. Sudut matanya basah, tetapi ia tersenyum tipis.
"Keluarga bukan hanya soal darah," katanya.
Kalimat itu tinggal di kepala Richard sepanjang perjalanan pulang.
Ia memikirkan Raka, anak Mara, yang berjalan tanpa senjata ke teras rumah itu dan keluar sambil menggendong bayi orang lain. Ia memikirkan Livia, adiknya yang selama bertahun-tahun ia anggap manja, yang merangkak di parit dengan obeng dan senter demi memadamkan lampu. Ia memikirkan Nadia, Nara, bahkan Mia.
Tidak satu pun dari hubungan itu terbentuk karena garis keturunan. Semuanya terbentuk karena luka, lalu karena pilihan.
Kabar dari penyidik datang keesokan harinya.
Mara memberikan kesaksian selama lima jam. Di jam keempat, ia menyebut satu hal yang membuat penyidik memanggil Richard.
"Hendra tidak bergerak sendiri," kata Mara di ruang pemeriksaan, dengan suara datar. "Dia masih menerima perintah."
"Dari siapa?"
"Saya tidak pernah melihat wajahnya. Kami menyebutnya Pengurus."
"Jabatan di jaringan?"
"Bukan jabatan lama." Mara menggeleng. "Pengurus itu orang yang menjaga jaringan setelah sistem digital dihancurkan. Orang yang menyiapkan kemungkinan mesin itu mati, jauh sebelum kalian datang. Dia yang memegang orang, bukan data."
Dua hari kemudian tim keuangan polisi menemukan tiga rekening baru, dibuka atas nama badan usaha yang berdiri sebulan lalu. Uangnya berpindah dalam pola yang sama seperti dulu.
"Transaksinya terakhir di kota pelabuhan," lapor Raka lewat telepon. "Hendra bergerak ke sana. Kemungkinan cari jalur keluar lewat kapal barang."
"Saya ikut," kata Richard.
"Chard—"
"Saya ikut, Raka."
Yura yang menghentikannya, malam itu, di dapur rumah baru sambil mencuci botol susu.
"Berhenti dulu," katanya tanpa menoleh.
"Yura—"
"Lo sudah terlalu banyak terluka." Ia mematikan keran dan berbalik. "Gue nggak ngelarang lo peduli. Gue ngelarang lo naik ke kapal barang jam tiga pagi buat ngejar orang yang bawa senapan."
"Saya tidak bisa membiarkan Hendra bebas."
"Emang siapa yang bilang bebas?" Yura mengeringkan tangannya di celana. "Kita punya polisi. Mereka dibayar buat itu, mereka punya alat, mereka punya izin. Percayakan sebagian masalah kepada mereka." Ia melangkah lebih dekat. "Lo boleh nggak jadi pahlawan sekali aja, Chard. Sekali aja."
Richard menatapnya lama.
Lalu ia menarik napas, dan bahunya turun.
"Baik," katanya. "Saya di sini."
Pukul sebelas malam, ponselnya bergetar di meja.
Satu pesan dari nomor tak dikenal. Tidak ada tulisan, hanya sebuah foto.
Hendra, berdiri di trotoar dengan jaket gelap dan tangan di saku, menatap lurus ke kamera.
Di belakangnya, terang oleh lampu papan nama, berdiri gedung rumah sakit tempat Livia dirawat sejak jahitan lamanya terbuka.
Hendra masih memburu saksi.