Pesawat itu sudah meninggalkan landasan sembilan belas jam sebelum mereka sampai.
Tetapi pesawat carter tidak bisa terbang ke mana saja tanpa meninggalkan jejak. Petugas menara menyerahkan rencana penerbangannya: keluar dari wilayah, mendarat di lapangan perintis di sebuah pulau terpencil di timur, dan tidak ada jadwal kembali.
"Mereka tidak berniat pulang," kata penyidik. "Itu bukan pelarian. Itu pindah."
Helikopter berangkat pukul enam pagi.
Richard duduk di dekat pintu dengan rompi yang terlalu besar untuk tubuhnya. Yura di sebelahnya, memegang tali pengaman dengan kedua tangan, rambutnya diikat asal-asalan. Raka di seberang, diam sejak semalam, tidak sekali pun menoleh ke jendela. Livia membawa tas berisi peralatannya dan satu senter besar yang ia pinjam dari petugas.
Mama Yura tetap di kota, di rumah, dengan dua petugas yang berjaga bergantian. Yura meneleponnya sebelum pintu helikopter ditutup.
"Ma, jangan ke mana-mana."
"Yura." Suara Mama parau karena semalaman tidak tidur. "Bawa dia pulang, ya."
Perjalanan itu memakan waktu tiga jam. Di bawah mereka laut berubah dari biru tua ke hijau bening, lalu muncul garis pantai putih yang panjang.
Rumah itu tidak sulit ditemukan. Bangunan besar bercat terang berdiri sendirian dua ratus meter dari bibir pantai, dengan atap merah dan halaman berumput yang terlalu rapi untuk pulau sesepi ini. Ada dermaga kecil di depannya. Ada satu mobil dan satu van putih terparkir di samping.
Mereka mendarat di lapangan terbuka dan berjalan kaki sisanya.
Ketika mereka sampai lima puluh meter dari pagar, angin membawa satu suara yang membuat Yura berhenti melangkah.
Tangis bayi.
Kecil, serak, marah. Suara bayi yang sudah lama menangis dan tidak juga digendong dengan benar.
"Itu dia," bisik Yura.
Polisi bergerak melebar, mengepung bangunan dari tiga sisi. Perahu patroli menjaga dermaga. Seorang perwira memberi isyarat kepada Richard untuk maju bersamanya dengan pengeras suara.
Richard mengangkatnya, dan suaranya memantul di dinding rumah.
"Mara, lepaskan bayi itu."
Hening beberapa detik. Lalu pintu kaca di lantai dua terbuka, dan seorang perempuan melangkah ke balkon.
Mara memakai kemeja panjang dan sandal rumah. Rambutnya digulung asal. Di dadanya, dibungkus selimut biru yang sama dengan di rekaman kamera, ada seorang bayi yang masih menangis.
Ia menepuk punggung bayi itu pelan sambil bicara, dan anehnya, gerakan itu benar. Gerakan orang yang pernah punya anak.
"Saya tidak akan menyakitinya," kata Mara. "Saya ingin menyelamatkan dia dari keluarga kalian."
"Dengan membawanya tanpa izin?" balas Richard.
"Izin dari siapa?" Mara tertawa pendek, tanpa senang. "Dari ibunya yang tidak bisa membayar kontrakan? Dari keluarga yang tidak pernah menengoknya sekali pun?"
Yura merasakan kalimat itu menancap tepat di tempat yang paling lunak.
"Jaringan yang kalian hancurkan masih memiliki orang-orang lain," lanjut Mara, suaranya naik. "Kalian pikir dengan mematikan mesin semuanya selesai? Mesin itu cuma alat. Orangnya masih ada, dan mereka tahu anak ini menyambung tiga keluarga. Mereka akan mengambil anak ini jika saya tidak lebih dulu mengamankannya."
Yura melangkah maju sebelum ada yang menahannya.
"Kembalikan ke keluarganya," katanya. Suaranya bergetar karena menahan marah, bukan karena takut. "Dia punya ibu. Ibunya nyari dia dua hari ini. Lo nggak nyelametin siapa-siapa, lo cuma mindahin dia dari tangan satu orang ke tangan lo."
Mara memandangnya lama.
Lalu perempuan itu mengalihkan pandangan, ke barisan polisi, ke Richard, dan akhirnya berhenti di satu titik di belakang mereka.
"Raka," panggilnya. "Kamu saja yang naik. Sendiri. Tanpa senjata."
Perwira di samping Richard menggeleng. "Jangan."
"Biarkan." Raka sudah melepas rompinya. "Dia nggak akan nyerahin ke orang lain."
Ia berjalan melewati pagar dengan kedua tangan terbuka di samping tubuh, pelan, tanpa berhenti. Tangis bayi itu terdengar lebih keras setiap langkah.
Mara turun menemuinya di teras depan.
Dari jarak itu, Yura bisa melihat wajah mereka berdua. Ibu dan anak yang saling mengenali dan saling asing di saat yang sama.
"Ibu, saya mengerti ketakutanmu," kata Raka. "Tapi kau tidak bisa menyelamatkan siapa pun dengan menculik mereka."
Mara tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca. Ia memandangi wajah bayi di gendongannya, lalu memandangi wajah Raka, seolah mencari sesuatu yang hilang di antara keduanya.
Kemudian ia mengangkat bayi itu dan meletakkannya di lengan Raka, hati-hati, menyangga kepalanya seperti yang dilakukan orang yang tahu caranya.
Saat itulah terdengar suara mesin.
Sebuah mobil melaju masuk dari jalan pantai, berhenti melintang, dan pintunya terbuka sebelum roda berhenti berputar. Empat orang turun. Lalu satu lagi, terakhir, dari kursi depan.
Hendra.
Lelaki yang dua minggu lalu dinyatakan tertangkap, berdiri di sana dengan senapan laras pendek di tangan dan wajah yang sama sekali tidak terkejut melihat polisi.
"Masuk!" teriak Mara.
Ia mendorong Raka ke dalam rumah dengan kedua tangan, keras, lalu membanting pintu dan mengunci dari luar.
Tembakan pertama meledak ke arah barisan polisi.
Setelah itu semuanya terjadi terlalu cepat.
Richard menarik Yura ke bawah, menyeretnya ke balik tembok pagar beton, menutupi kepala perempuan itu dengan lengannya. Serpihan semen jatuh di punggungnya. Ada teriakan perintah, ada balasan tembakan, ada suara kaca pecah di lantai dua.
"Chard—"
"Jangan angkat kepala."
"Raka di dalam!"
"Saya tahu."
Livia merangkak di parit samping halaman dengan tas peralatannya. Ia sudah melihatnya sejak tadi: kotak panel listrik di dinding luar rumah, dekat pipa air. Ia membuka penutupnya dengan obeng, menarik tuas utama, lalu menghantam sekeringnya dengan gagang senter.
Seluruh lampu rumah padam sekaligus.
Dalam gelap, orang-orang Hendra kehilangan sudut tembak mereka. Tembakan berhenti sebentar, dan sebentar itu cukup.
Pintu belakang rumah terbuka.
Raka keluar setengah membungkuk, punggungnya menghadap ke arah tembakan, bayi itu dijepit erat di dadanya dan diselimuti dua lapis. Ia berlari menyusuri dinding, melompati got kecil, lalu jatuh berlutut di balik perahu terbalik tempat dua polisi menunggunya.
Bayi itu menjerit sekencang-kencangnya.
Yura menangis mendengarnya, karena jeritan itu artinya hidup.
Di dermaga, mesin kapal kecil menyala. Hendra sudah berada di atasnya bersama dua orangnya, memutar haluan ke laut lepas sebelum perahu patroli sempat memotong. Tembakan terakhir terdengar dari air, lalu suara mesin itu mengecil ke arah cakrawala.
Ketika lampu dinyalakan kembali, Mara masih berdiri di teras depan.
Ia tidak lari. Ia tidak bersembunyi.
Ia mengangkat kedua tangannya, dan untuk kedua kalinya dalam hidupnya, menyerah.