Yura sudah menempelkan ponsel ke telinga sebelum ia sadar telah bergerak.
Nada sambungnya terdengar tiga kali, empat kali. Di ruang server yang baru saja mati itu semua orang diam, dan yang terdengar cuma napas Yura sendiri yang memburu.
"Angkat, Ma," bisiknya. "Angkat."
Klik.
"Yura?" Suara Mama langsung tinggi, tidak seperti biasa. "Kamu di mana? Mama dari tadi mau telepon."
"Mama kenapa?"
"Bayinya." Terdengar suara sesuatu jatuh di seberang sana. "Bayi itu, Yur. Anaknya perempuan itu."
Yura menutup matanya. "Kenapa bayinya, Ma."
"Dua hari lalu dibawa ke rumah keluarga kita yang di luar kota. Katanya biar ada yang urus, biar nggak di kontrakan sempit."
"Siapa yang bawa?"
"Ada orang datang menawarkan bantuan pengasuhan." Suara Mama mulai bergetar. "Mereka rapi, Yur. Pakai kemeja, bawa map. Mereka membawa surat resmi dan mengatakan bayi itu akan mendapat perawatan terbaik. Ada kopnya, ada stempelnya, ada nomor teleponnya. Mama sampai telepon nomornya dan diangkat orang."
Yura merasakan tubuhnya lemas dari lutut ke atas. Ia menopangkan tangan ke meja.
"Mama mengizinkan mereka?"
Hening sebentar.
"Mama tidak tahu mereka bagian dari jaringan," kata Mama akhirnya, dan suaranya pecah di kata terakhir. "Mama pikir itu bantuan. Mama pikir sekali ini ada orang yang datang bukan buat nagih."
"Ma—"
"Kamu marah sama Mama?"
Yura menggigit bibirnya sampai sakit. "Nggak, Ma. Mama tinggal di rumah. Jangan buka pintu buat siapa pun. Nanti ada polisi yang datang, minta lihat kartunya dulu."
Ia menutup telepon dan berbalik. Semua orang di ruangan itu sudah menatapnya.
"Dua hari lalu," kata Yura. "Mereka ambil bayinya dua hari lalu."
Richard sudah berdiri. "Raka, plat nomornya. Yur, minta Mama ingat mobilnya seperti apa."
Penyidik mengangkat telepon. Dalam sepuluh menit permintaan pelacakan kendaraan sudah masuk. Livia membuka kembali salinan berkas proyek yang sempat tersimpan sebelum sistem mati.
Raka yang menemukan alasannya.
"Ini bukan diambil acak," katanya. Ia memutar layar. "Bayi ini ditandai khusus. Ada kolom keterangannya."
Richard membaca. Kolom itu mencantumkan tiga nama keluarga bisnis, dan di sebelahnya satu kata: relasi darah.
"Ayah Yura punya hubungan dengan dua dari keluarga ini lewat utang lama," kata Livia. "Dan ibunya bayi ini keponakan jauh dari keluarga yang ketiga."
"Jadi bayi itu menyambung tiga keluarga sekaligus," kata Nadia pelan.
"Mereka mengambil anak-anak untuk dijadikan alat tawar," kata Raka. Ia menggeser layar ke atas, ke nama-nama sebelumnya. "Lihat yang di atas. Yang tahun dua ribu dua belas, sekarang umur tiga belas. Yang tahun dua ribu enam, sekarang sudah dewasa. Mereka nggak ambil buat sekarang, Chard. Mereka nanam. Dua puluh tahun lagi anak-anak ini yang pegang tanda tangan."
Yura mendengarnya seperti dari balik dinding.
Ia memikirkan bayi itu, yang bahkan belum pernah ia lihat langsung. Yang ia tahu cuma fotonya yang dikirim Mama lewat pesan, dan ia bahkan tidak membalas pesan itu. Ia terlalu sibuk. Terlalu marah pada ayahnya. Terlalu tenggelam dalam urusan orang lain.
"Gue nggak pernah nengok dia sekali pun," katanya tiba-tiba.
"Yur."
"Gue tahu dia lahir. Gue tahu dia ada." Suaranya naik. "Tapi gue sibuk ngurusin kasus lo, Chard. Berbulan-bulan gue ngurusin kontrak, server, orang-orang yang udah mati. Sementara di kontrakan ada bayi yang nggak punya siapa-siapa dan gue mikir itu bukan urusan gue karena gue benci bapak gue."
Richard memegang kedua bahunya dan menahannya di tempat.
"Dengar saya."
"Lepasin—"
"Dengar saya, Yura." Richard menunduk sampai wajah mereka sejajar. "Yang mengambil dia bukan kamu. Yang menandatangani surat palsu bukan kamu. Dan kalau kamu mau menghitung dosa, saya duluan yang harus antre."
Yura menarik napas panjang, tersendat.
"Kita akan menemukan bayi itu," kata Richard.
Rumah keluarga di luar kota itu berjarak dua jam dari kota, di ujung jalan desa yang sempit. Mereka tiba menjelang tengah malam.
Pintunya tidak dikunci.
Di dalam, lampu masih menyala. Ada botol susu di meja, setengah penuh, sudah dingin. Ada kain gendong tergantung di kursi. Ada bedak bayi yang tumpah sedikit di lantai kamar, dengan satu jejak sepatu dewasa di tengahnya.
Yura berdiri di ambang kamar itu dan tidak masuk.
"Mereka buru-buru," kata Raka. "Tapi rapi. Nggak ada dokumen yang ketinggalan."
Polisi mengetuk rumah-rumah sebelah. Yang ketiga punya kamera di teras, dipasang untuk mengawasi motor.
Mereka memutar rekamannya di ruang tamu tetangga, dikelilingi orang-orang desa yang berdiri diam.
Pukul empat lewat dua puluh sore, sebuah van putih berhenti di depan rumah. Dua orang turun. Satu masuk, satu menunggu di dekat pintu sambil melihat jam tangannya. Sebelas menit kemudian yang pertama keluar sambil menggendong sesuatu yang dibungkus selimut biru.
Van itu pergi ke arah timur.
"Mundurin," kata Raka. "Yang bagian dia lihat jam tangan."
Rekaman diputar ulang. Lelaki yang menunggu di dekat pintu mengangkat pergelangan tangannya, lalu menoleh ke ujung jalan, lalu mengangkat tangannya lagi.
"Dia ngejar waktu," kata Raka. "Orang yang cuma nyulik nggak ngitung menit kayak gitu. Dia ngejar jadwal sesuatu."
Yura menatap layar itu. Selimut biru di gendongan lelaki pertama bergerak sedikit, sekali, dan itu satu-satunya tanda bahwa yang dibawa keluar dari rumah itu memang hidup.
Ia menahan diri untuk tidak menyentuh layar.
"Ke timur ada apa?" tanya Richard.
Polisi setempat menjawab tanpa ragu. "Bandara kecil, Pak. Penerbangan carter. Empat puluh menit dari sini."
Mereka sampai di bandara itu pukul dua pagi dengan tiga mobil dan sirene yang dimatikan sebelum gerbang. Akses ditutup. Petugas menara dibangunkan. Daftar penerbangan pribadi dicetak di kertas yang masih hangat dari mesin.
Richard membacanya berdiri, dengan Yura di sampingnya dan Raka di belakang.
Empat penerbangan carter dalam dua hari terakhir. Tiga di antaranya rombongan perusahaan dengan nama lengkap dan nomor identitas.
Yang keempat berangkat kemarin pagi. Satu penumpang dewasa. Satu bayi tanpa nama, tercatat hanya sebagai tanggungan.
Nama penumpang dewasa itu: Maya Ratri.
Richard berhenti membaca.
Yura menoleh cepat karena merasakan tubuh lelaki di sampingnya menegang.
"Apa," katanya. "Chard, siapa?"
Raka yang menjawab, dan suaranya tidak seperti suaranya sendiri.
"Maya Ratri," katanya. "Itu identitas yang pernah dipakai ibu saya."
Tidak ada yang bicara. Di luar, lampu landasan menyala berderet ke kegelapan, dan angin malam membawa bau aspal panas yang belum sempat dingin.
Mara.