Ruang rapat di lantai enam kejaksaan itu terlalu terang dan terlalu dingin. Kursinya tiga puluh dua, dan pagi itu hampir semuanya terisi.
Richard berdiri di depan tanpa proyektor, tanpa berkas tebal, tanpa satu pun kalimat yang sudah ia hafalkan.
Ia memandangi wajah-wajah itu dulu.
Siska duduk di baris kedua, masih memakai jaket yang kebesaran, tangannya dilipat di depan dada. Elena di baris ketiga bersama pengacaranya. Di belakang mereka ada istri seorang pejabat yang suaminya sudah dua tahun membayar tanpa berani melapor, seorang guru yang anaknya dipakai sebagai alat tekan, dan seorang lelaki tua yang tidak mau menyebut namanya di daftar hadir.
Semua orang ini pernah dimiliki oleh sebuah mesin.
"Terima kasih sudah datang," kata Richard. "Saya tidak akan lama, dan saya tidak akan memperhalus apa pun."
Ia meletakkan kertas Selina di atas meja.
"Kami punya cara untuk mematikan sistem itu sampai habis. Bukan cuma pusatnya seperti kemarin. Semuanya, sampai tidak ada yang bisa menghidupkannya lagi."
Ada gumam kecil di ruangan.
"Tapi ada harganya," lanjut Richard. "Waktu sistem itu mati, sebagian data ikut hancur. Kami sudah menyalin yang kami bisa. Yang belum sempat tersalin, hilang selamanya. Dan sebagian dari yang hilang itu mungkin justru bukti yang Bapak dan Ibu butuhkan di pengadilan nanti."
Ruangan itu berubah.
Seorang perempuan di baris keempat berdiri lebih dulu. "Jadi kami disuruh merelakan bukti kami sendiri?"
"Bukan disuruh," kata Richard. "Ditanya."
"Suami saya membayar mereka lima tahun," kata perempuan itu, suaranya mulai naik. "Satu-satunya yang bisa membuktikan dia diperas, bukan menyuap, ada di mesin itu. Kalau hilang, dia yang masuk penjara, bukan mereka."
"Saya tahu."
"Bapak tahu?" Perempuan itu tertawa getir. "Bapak punya pengacara. Kami punya utang."
Siska yang menjawab.
"Saya nggak punya pengacara," katanya pelan, tetapi seluruh ruangan mendengar. "Dan saya tetap milih matiin."
Semua kepala menoleh.
"Selama mesin itu hidup, mereka tahu saya di mana tiap hari." Siska menelan ludah. "Kalian pikir bukti kalian aman di dalam sana? Itu bukan brankas. Itu rumah mereka. Tiap hari kalian nitip bukti di rumah orang yang meras kalian."
Elena berdiri. "Saya punya usul."
Ia berjalan ke depan dan meletakkan mapnya di meja.
"Salin dulu semuanya yang masih bisa disalin, lalu titipkan di pengadilan, bukan di kejaksaan saja. Dua tempat, dua berita acara, dua kunci berbeda. Setelah hakim menyatakan salinan itu sah, baru sistemnya dimatikan." Ia menoleh ke perempuan yang tadi marah. "Kalau bukti Ibu belum tersalin, kita tunda sampai tersalin. Tidak ada yang dimatikan sebelum semua nama di ruangan ini punya salinan sendiri."
Perdebatan itu berlangsung empat jam. Ada yang menangis, ada yang keluar lalu masuk lagi, ada yang menolak sampai akhir dan tetap menandatangani karena tidak ingin menjadi satu-satunya yang menghalangi.
Pukul tiga sore, semuanya sepakat.
Bagian yang paling sulit justru datang belakangan.
Ardi menandatangani persetujuannya dari rumah tahanan, dengan tangan diborgol ke meja dan dua petugas berdiri di belakangnya. Ia membaca dokumen itu lama sekali sebelum akhirnya menulis namanya.
"Kenapa mau?" tanya Raka setelahnya.
Ardi tidak menatapnya. "Karena kalau sistemnya hidup, ada yang bisa memakai nama saya lagi. Saya sudah cukup jadi orang yang mereka pakai."
Mara menandatangani di ruang sebelah. Ia meminta satu hal sebelum pena menyentuh kertas: melihat wajah Raka. Raka masuk, berdiri di ambang pintu, dan tidak berkata apa-apa. Mara mengangguk, lalu menandatangani.
Mia datang pada hari ketiga.
Ia lebih kurus dari terakhir kali Yura melihatnya, dan rambutnya dipotong pendek. Ia memberikan kesaksian terakhir tentang ayahnya di depan penyidik selama enam jam: bagaimana lelaki itu menandatangani perjanjian pertama, bagaimana rumah mereka dibayar dengan uang yang bukan miliknya, bagaimana ia diminta diam sejak umur enam belas.
Setelah selesai, Mia berhenti di depan Yura di koridor.
"Gue bukan minta maaf lagi," katanya. "Gue udah kebanyakan minta maaf sampai nggak ada artinya."
"Terus?"
"Gue cuma mau lo tahu gue ngomong semuanya. Nggak ada yang gue simpan buat lindungin nama keluarga gue."
Yura memandangnya sebentar, lalu mengangguk sekali. Itu saja. Itu yang mereka punya sekarang, dan untuk hari ini cukup.
Pemutusan dijadwalkan Jumat malam.
Mereka berkumpul di ruang server kejaksaan: Richard, Yura, Raka, Livia, Nadia, Nara, dua penyidik, dan seorang hakim pengawas. Di layar kecil di sudut, Selina ikut lewat sambungan video, duduk di kursinya yang sama di depan perapian, ditemani perawatnya.
Richard memasukkan kode satu per satu.
Kode dari kontrak ayahnya. Kode dari chip di dalam jam. Kata sandi tulisan tangan Selina. Lalu deretan persetujuan yang sudah dikumpulkan: tanda tangan digital para saksi, satu demi satu, dua puluh sembilan nama.
Layar besar berkedip, lalu menampilkan angka.
Hitungan mundur dari tiga ratus.
Tidak ada yang bicara. Livia mengawasi jalur salinan. Raka berdiri di belakang kursi Richard. Yura memegang sandaran kursi itu, dan Richard tanpa menoleh meletakkan tangannya di atas tangan Yura.
"Setelah ini, tidak ada yang bisa mengendalikan sistem," kata Selina dari layar kecil. Suaranya lirih, hampir tenggelam oleh dengung mesin.
Seratus.
Lima puluh.
Sepuluh.
Nol.
Suara dengung itu turun satu nada, lalu satu nada lagi, lalu berhenti. Lampu-lampu kecil di rak padam berbaris seperti jendela kota yang dimatikan satu per satu. Di layar, daftar sambungan menyusut: empat ratus, dua ratus, tiga, nol.
Semua jaringan terputus.
Data resmi tersimpan aman di server kejaksaan dan salinannya terkunci di pengadilan. Akses gelap yang selama dua puluh tahun membuka rekening, kamera, dan kamar tidur orang lain hilang selamanya.
Nadia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Livia mengembuskan napas panjang dan tertawa kecil, setengah tidak percaya.
Yura meremas bahu Richard. "Selesai."
Tetapi layar utama belum mati.
Satu jendela kecil muncul di tengah, terlambat, seperti sesuatu yang terlepas dari pegangan pada detik terakhir.
Judulnya: Proyek Keluarga Baru.
Richard menggerakkan kursor dan membukanya.
Isinya daftar nama. Nama anak-anak, lengkap dengan tanggal lahir, nama ibu, dan kolom terakhir berisi keterangan yang membuat perut Yura mengerut: diambil dari keluarga korban, disiapkan sebagai penerus jaringan.
Mereka membacanya dari atas. Enam nama. Delapan. Dua belas.
Nama terakhir membuat semua orang terdiam.
Itu adalah nama anak yang baru lahir dari perempuan simpanan ayah Yura.