Yura tidak tahu ia sedang diikuti sampai Raka menelepon dan menyuruhnya jangan menoleh.
"Sedan abu-abu, tiga mobil di belakang lo," kata Raka tenang. "Dari tadi belok ke mana pun lo belok. Jangan pelan, jangan cepat. Jalan biasa aja."
Yura mencengkeram setir. Kantong buah dari rumah Mama masih tergeletak di kursi penumpang, dan tiba-tiba benda sesederhana itu terasa seperti bukti bahwa hidupnya yang biasa sudah lama tidak biasa.
"Gue harus ke mana?"
"Lurus. Nanti di perempatan ketiga lo ambil kanan."
"Itu ke arah—"
"Iya," kata Raka. "Kantor polisi. Gue mau mereka ikut masuk halaman sendiri."
Yura melakukannya persis seperti yang diminta. Sedan itu mengikuti sampai tikungan terakhir, lalu berhenti terlambat satu detik, dan satu detik itu cukup. Dua petugas berpakaian preman sudah menunggu di mulut gerbang.
Dua orang di dalam mobil itu tidak melawan. Salah satunya membawa ponsel dengan tiga puluh empat foto Yura di dalamnya, diambil dari jarak jauh selama empat hari terakhir.
Malam itu Yura dibawa ke rumah aman.
Tempatnya kecil dan asing: dua kamar, dapur sempit, gorden yang harus selalu ditutup. Ada petugas di teras yang bertukar giliran tiap enam jam. Yura duduk di sofa dengan kaus lengan panjang dan rambut yang belum sempat ia sisir sejak siang.
Richard datang pukul sepuluh dan tidak duduk. Ia berdiri di dekat pintu seperti orang yang merasa tidak berhak masuk lebih jauh.
"Maaf," katanya.
"Buat apa?"
"Semua." Richard menggosok tengkuknya. "Lagi-lagi orang terdekat saya yang jadi sasaran. Livia, Raka, sekarang kamu. Setiap kali saya maju selangkah, ada yang harus bayar."
Yura menepuk sofa di sebelahnya. Richard akhirnya duduk, tetapi tetap di ujung, tetap tegang.
"Lo tidak bisa melindungi semua orang," kata Yura.
"Saya harus mencoba."
"Mencoba iya. Tapi lo bukan lagi mencoba, Chard. Lo lagi mikul." Yura memutar tubuhnya menghadap Richard. "Tiap kali ada yang kena, lo tambahin ke punggung lo sendiri. Terus lo diem. Terus lo jadi orang yang tiap malam ngirim petugas tambahan tapi nggak pernah ngomong apa-apa ke gue."
"Saya cuma tidak mau kamu takut."
"Gue udah takut." Yura tertawa pendek, tanpa lucu. "Gue takut dari minggu lalu. Yang gue butuhkan bukan penjaga. Gue butuh lo jujur."
Richard diam lama. Di luar terdengar suara motor lewat, lalu sunyi lagi.
"Kalau saya jujur," katanya pelan, "kamu mungkin akan marah."
"Coba aja."
Richard menatap lantai. "Saya mulai mencintai kamu lagi."
Kalimat itu keluar tanpa persiapan, dan setelahnya ia tidak berani mengangkat wajah.
"Sudah beberapa bulan," lanjutnya. "Mungkin lebih lama dari itu dan saya cuma tidak mau mengakuinya. Saya tidak bilang karena saya tahu apa yang saya lakukan ke kamu dulu. Saya pergi tanpa penjelasan. Saya biarkan kamu mengira kamu yang salah selama bertahun-tahun." Suaranya tersendat. "Orang yang pernah melakukan itu tidak pantas datang lagi sambil bilang saya cinta kamu, seolah waktu bisa dilipat begitu saja."
Yura tidak langsung menjawab.
Ia bangun dari sofa, berdiri di depan Richard, lalu memegang wajahnya dengan kedua tangan dan mengangkatnya supaya lelaki itu terpaksa menatapnya.
"Jangan gunakan rasa takut untuk menghukum diri sendiri," katanya.
Richard menutup matanya.
"Lo pikir lo lagi jadi orang baik dengan diam," kata Yura. "Padahal lo cuma lagi nyari tempat aman. Kalau lo diem, lo nggak usah dengar jawaban gue. Nggak usah ambil risiko." Ibu jarinya bergerak sekali di pipi Richard. "Gue nggak minta lo sempurna. Gue minta lo ada, dan lo ngomong."
"Dan jawaban kamu?"
"Belum sekarang." Yura melepaskan tangannya pelan. "Tapi bukan tidak."
Richard mengangguk. Untuk pertama kalinya malam itu bahunya turun.
Telepon Raka datang pukul setengah dua belas.
"Nara ketemu," katanya, napasnya cepat. "Selina. Dia ketemu ibunya."
Kota itu kecil dan dingin, jauh di luar negeri, dengan atap-atap rendah dan jalan batu yang basah sepanjang tahun. Mereka tiba setelah dua kali ganti pesawat dan tiga jam perjalanan darat, bersama dua petugas polisi dan seorang atase yang mengurus izinnya.
Rumahnya sederhana. Pagar kayu, pot-pot tanah di depan jendela, cerobong yang mengeluarkan asap tipis.
Nara mengetuk pintu, dan yang membuka adalah seorang perawat.
Selina duduk di kursi dekat perapian, berselimut sampai pinggang. Ia jauh lebih tua daripada perempuan di foto angkatan itu. Rambutnya putih seluruhnya. Tangannya bergetar halus tanpa berhenti.
Tetapi matanya jernih, dan ia mengenali Richard bahkan sebelum lelaki itu memperkenalkan diri.
"Kamu anaknya," katanya. Bahasa Indonesianya masih rapi, dengan jeda panjang di antara kalimat. "Kamu punya dahi ayahmu."
Richard duduk di kursi yang disodorkan perawat. Yura berdiri di belakangnya.
"Ibu tahu kenapa kami datang."
"Saya menunggu orang datang selama dua puluh tahun." Selina tersenyum tipis. "Saya cuma tidak tahu apakah yang datang nanti polisi, atau mereka."
Ia batuk, dan perawat memberinya air.
"Saya menciptakan sebagian sistem itu," kata Selina kemudian. Tidak ada pembelaan dalam suaranya, tidak ada tangis. Hanya keterangan, seperti orang yang sudah lama menyiapkan kalimat ini. "Ayah Richard ingin menggunakannya untuk melindungi korban. Itu benar. Saya tidak akan berbohong untuk membuat dia terlihat lebih buruk atau lebih baik."
"Lalu?" tanya Richard.
"Lalu saya ingin menghapusnya setelah tahu Ardi menggunakannya untuk balas dendam." Tangan Selina mengepal di atas selimut, sejauh yang bisa dilakukan tangan setua itu. "Alat yang saya buat untuk menjaga orang, dipakai untuk memburu orang. Saya lari, Nak. Saya mengaku. Saya lari dan membiarkannya."
Ruangan itu hening kecuali suara api.
"Sekarang sistemnya sudah kami matikan," kata Richard. "Pusatnya."
"Pusatnya." Selina mengangguk. "Tapi bukan akarnya. Kamu tahu itu, kalau tidak kamu tidak akan ada di sini."
Ia meminta perawat mengambil sebuah buku dari rak. Di dalamnya, terselip di antara halaman, ada selembar kertas dengan deretan karakter yang ditulis tangan.
"Ini kata sandi terakhir," katanya, menyerahkannya kepada Richard. "Yang bisa mematikan semuanya sampai habis."
Richard menerimanya. "Sesederhana ini?"
Kertas itu ringan sekali di tangannya. Richard hampir marah karena benda sekecil ini bisa menahan begitu banyak orang di dalam ketakutan selama bertahun-tahun.
"Tidak." Selina menahan tangan Richard sebentar, dan Yura melihat jari tua itu bergetar menempel di punggung tangan Richard. Cengkeramannya lebih kuat dari yang terlihat. "Sandi ini tidak bekerja kalau dimasukkan satu orang. Sistem itu hanya mati sepenuhnya kalau semua saksi menyetujui."