Richard terbangun pukul tiga pagi dengan satu bunyi di kepalanya.
Bukan mimpi. Bunyi.
Ketukan pelan yang berulang, dua kali setiap detik, suara yang dulu menemani seluruh masa kecilnya di ruang kerja ayahnya. Jam berdiri dari kayu jati, tinggi hampir sebahu orang dewasa, dengan kaca yang selalu berembun kalau hujan.
Ia menyalakan lampu dan menelepon Yura.
"Jam," katanya begitu telepon diangkat.
"Chard, ini jam tiga pagi."
"Bukan itu maksud saya." Richard sudah berdiri mencari celana panjangnya. "Jam tua ayah saya. Yang di ruang kerja rumah Mama. Benda yang tiap hari dilihat orang dan tidak pernah dicurigai."
Di ujung sana terdengar suara Yura duduk tegak. "Jam itu masih ada?"
"Polisi menyitanya sebagai barang bukti waktu penggeledahan," kata Richard. "Mereka memotret, mencatat, lalu menyimpannya di gudang barang bukti. Tapi bagian belakangnya tidak pernah dibuka. Buat apa? Itu cuma jam."
Pagi harinya mereka mengurus izin.
Prosesnya lebih lama daripada yang Richard sanggup tahan: tanda tangan penyidik, berita acara, dua petugas yang mengawasi. Jam itu diletakkan di meja panjang dengan alas kain putih.
Richard berdiri memandangnya sebentar sebelum menyentuh.
"Nggak apa-apa," kata Yura pelan di sampingnya. "Gue di sini."
Sekrup di panel belakang sudah berkarat. Petugas membukanya satu per satu dengan obeng kecil. Ketika papan itu terangkat, bau kayu lama dan minyak mesin keluar bersamaan.
Di dalam mekanismenya, terselip di antara pemberat dan rantai, ada dua benda.
Sebuah chip sebesar kuku kelingking, dibungkus plastik bening.
Dan sehelai foto keluarga.
Foto itu diambil di halaman rumah lama. Ayahnya berdiri di tengah dengan kemeja lengan pendek. Mama memegang lengannya. Dan Richard kecil, mungkin tujuh tahun, duduk di rumput sambil memegang bola.
Richard memegang foto itu dan tidak bisa bicara.
Ia ingat hari itu. Ia ingat bolanya bocor dua hari kemudian. Ia ingat ayahnya berjanji membelikan yang baru dan tidak pernah menepatinya, dan ia ingat betapa lama ia menyimpan kekesalan sekecil itu.
Sekarang lelaki di foto itu sudah mati, meninggalkan sebuah mesin yang memakan puluhan keluarga, dan yang ia sembunyikan di jantung mesin penghitung waktu bukan perintah, bukan sandi, melainkan satu sore biasa di halaman rumah.
"Dia naruh ini di dalam jam," kata Yura pelan. "Bareng kuncinya. Kayak dia pengin siapa pun yang nemu harus lihat kalian dulu sebelum lihat datanya."
Richard mengangguk sekali, lalu menyerahkan foto itu kepada petugas untuk dicatat. Yura mengambil alih chip-nya dan menyerahkannya kepada Raka.
Butuh dua jam untuk membacanya di ruang forensik.
Ketika akhirnya terbuka, layar menampilkan daftar yang panjangnya membuat Livia mengumpat pelan.
"Ini bukan bukti," kata Raka. "Ini peta."
Daftar itu memuat nama semua orang yang pernah dikendalikan sistem. Bukan pelakunya saja, tetapi juga yang ditekan, yang dibayar, yang diancam, lengkap dengan tanggal dan besaran.
Paman Mia ada di sana, dengan catatan pembayaran sejak sepuluh tahun lalu.
Kartika ada di sana, tiga baris, semuanya sebagai perantara.
Satrio ada di sana.
Beberapa hakim ada di sana.
Yura menggeser layar perlahan, membaca nama demi nama, sampai ia berhenti di satu baris yang berbeda dari semuanya.
Nama itu ada, tetapi dicoret. Satu garis lurus melintasinya.
Richard.
Richard mencondongkan badan. "Itu... saya?"
"Nama lo pernah dimasukkan," kata Raka. "Terus dicoret. Dan yang mencoret pemegang akun lama, bukan KETUA-0."
Ruangan itu sunyi. Yura meletakkan tangannya di punggung Richard.
"Ayah lo tidak pernah memasukkan nama lo karena ingin melindungi lo," katanya. "Dia pernah nulis, terus dia hapus sendiri. Dia milih lo, Chard. Sekali itu, dia milih lo."
Richard menunduk. Bahunya bergerak sekali, pendek, lalu ia menegakkan diri lagi seperti orang yang tidak mengizinkan dirinya runtuh di depan petugas.
"Ada berkas lain," kata Livia. "Terkunci, tapi kuncinya nama depan Richard."
Ia mengetik, dan sebuah dokumen pendek terbuka. Hanya beberapa baris, tanpa kop, tanpa tanda tangan.
Jika anakku membaca ini, jangan balas dendam. Hentikan sistem, lalu biarkan hukum bekerja.
Richard membacanya tiga kali. Yura melihat rahangnya mengeras, lalu mengendur.
"Susah," kata Richard akhirnya.
"Apanya?"
"Bagian membiarkan hukum bekerja." Ia menutup layar. "Tapi baik. Kita lakukan seperti yang dia minta."
Data itu dikirim ke kejaksaan malam itu juga, disalin ke tiga tempat berbeda, dengan berita acara yang ditandatangani lima orang. Nadia bersaksi dua hari penuh. Nara memberikan keterangan yang membuat penyidik harus menambah kursi di ruangannya.
Sisanya berjalan cepat, secepat yang mungkin terjadi di negeri ini.
Tiga pejabat ditahan pada minggu pertama. Dua hakim dinonaktifkan. Nama-nama yang selama bertahun-tahun hanya muncul di gosip ruang rapat sekarang muncul di layar televisi dengan rompi tahanan.
Yura menonton siaran itu dari kantor, di antara sampel undangan dan contoh kain untuk klien barunya, dan merasa aneh betapa dunia bisa terus berjalan sambil runtuh di saat yang sama.
Tetapi satu nama tidak pernah muncul.
"Kartika hilang," kata Raka lewat telepon. "Petugas datang ke rumahnya pagi tadi. Kosong. Paspornya tidak terpakai, jadi dia masih di dalam negeri."
"Berapa lama dia tahu?" tanya Richard.
"Kelihatannya dua hari sebelum kita bergerak."
Richard menutup telepon dan melempar ponselnya ke sofa.
Jawabannya datang malam itu.
Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal masuk ke ponsel Richard pukul sebelas lewat.
Saya tidak mau mati di penjara, dan kamu tidak mau mencari seumur hidup. Kita bisa selesaikan ini dalam satu pertemuan.
Richard membaca tanpa membalas. Pesan berikutnya datang dua menit kemudian.
Saya tahu di mana Selina. Kota, jalan, nomor rumahnya. Perempuan itu satu-satunya yang bisa mematikan sisa sistem.
Lalu yang ketiga.
Saya menyerah dengan satu syarat. Jangan buka semua data. Sebagian nama biarkan tidak terbaca. Kamu tetap dapat Selina, saya tetap dapat hidup.
Yura membaca dari balik bahunya. "Dia panik."
"Dia menawar," koreksi Richard. "Orang panik tidak menawar serapi ini."
Ia mengetik balasannya pelan-pelan, lalu menghapusnya, lalu mengetik lagi. Akhirnya hanya satu kalimat yang ia kirim.
Semua data sudah ada di kejaksaan. Tidak ada yang bisa saya sembunyikan untuk Anda.
Sepuluh menit tidak ada jawaban.
Dua puluh menit.
Richard hampir meletakkan ponselnya ketika layarnya menyala lagi.
Kalimat itu pendek. Tidak ada ancaman terbuka, tidak ada kata kasar, dan justru karena itu bunyinya lebih dingin daripada apa pun yang pernah Richard terima sepanjang kasus ini.
Kalau begitu, saya urus yang paling kamu jaga.
Di bawahnya ada satu foto.
Yura, keluar dari pagar rumah Mama-nya siang tadi, membawa kantong buah di tangan kanan.