Petugas arsip yang tua itu membutuhkan waktu lama untuk menemukan buku daftar angkatan. Ia membukanya di meja kayu, menjilat ujung jari, lalu menelusuri baris demi baris dengan kaca pembesar.
"Yang duduk paling kiri," katanya akhirnya. "Selina."
Richard mengulang nama itu dalam hati. Selina.
"Dia mahasiswa ayahnya?" tanya Yura sambil menunjuk Richard.
"Mahasiswa, lalu asisten riset." Petugas itu menunjuk kolom di sebelahnya. "Dua tahun sebagai asisten. Setelah itu tidak ada catatan lagi."
Richard menelepon Nadia dari koridor kampus. Ia menyebut nama itu, dan di ujung sana terdengar suara napas yang tertahan.
"Selina," ulang Nadia. "Ya Tuhan. Saya sudah tidak mendengar nama itu hampir dua puluh tahun."
"Ibu kenal dia?"
"Semua orang di proyek arsip kenal dia." Suara Nadia berubah pelan, seperti orang yang berhati-hati memilih kalimat. "Dia yang paling memahami kode sistem itu, Chard. Lebih dari ayahmu. Ayahmu punya idenya, tetapi Selina yang tahu bagaimana mesinnya bernapas. Kalau ada satu orang yang bisa membangun ulang sistem itu dari nol, orangnya dia."
"Di mana dia sekarang?"
"Itu yang tidak pernah ada yang tahu." Nadia terdiam sebentar. "Selina menghilang beberapa bulan setelah ayahmu meninggal. Tidak pamit, tidak berhenti resmi. Rumah kontrakannya kosong dalam semalam."
Yura yang berdiri dekat mendengar itu. "Menghilang sendiri atau dihilangkan?"
"Waktu itu orang-orang bilang dia membawa salinan algoritmanya," jawab Nadia. "Dan menjualnya kepada yayasan. Saya tidak pernah bisa membuktikan itu. Tapi itu cerita yang beredar, dan cerita itulah yang membuat tidak ada yang mencarinya."
Richard menutup telepon dan kembali ke ruang arsip.
Mereka menghabiskan tiga jam berikutnya membongkar rak berkas pengajaran. Raka membaca daftar nilai, Yura membuka map laporan penelitian, Richard mengambil kotak berlabel catatan kuliah dengan tulisan tangan yang ia kenali sampai ke lengkung huruf g-nya.
Ia menemukannya di kotak kedua.
Sebuah buku catatan bersampul cokelat. Isinya bahan kuliah biasa untuk dua puluh halaman pertama. Setelah itu berubah menjadi coretan teknis: diagram server, jalur data, daftar izin akses.
Di salah satu halaman, satu baris digarisbawahi dua kali.
Akses penuh: S. Tidak ada pembatas. Tidak ada saksi kedua.
"S," kata Raka. "Selina."
"Ayah saya memberi dia akses penuh ke server," kata Richard. "Tanpa pembatas. Itu artinya dia percaya mati-matian sama perempuan ini."
Ia membalik halaman-halaman berikutnya. Kosong, kosong, kosong. Sampai halaman terakhir.
Di sana tidak ada diagram. Tidak ada angka. Hanya satu kata, ditulis miring, seperti dicatat buru-buru.
Nara.
"Nama orang," kata Yura.
"Nama anak," sahut Raka, menunjuk angka kecil di bawahnya. "Ada tahun lahirnya."
Yura mengambil buku itu dan memandangi kata itu lama. Ada sesuatu yang menggelitik di belakang kepalanya, sesuatu yang sudah ia lihat tetapi belum ia sambungkan.
Lalu ia teringat.
"Chard." Suaranya berubah. "Nara. Perempuan yang dulu kerja di perusahaan lo."
Richard mengerutkan kening. "Konsultan keuangan?"
"Yang cuma bertahan sembilan bulan." Yura menegakkan badan. "Gue ingat karena waktu itu tim gue lagi ngurus gala dinner perusahaan lo dan dia yang pegang anggarannya. Rapi banget orangnya. Terus tiba-tiba resign. Nggak ada alasan, nggak ada pamitan."
"Dia mengundurkan diri lewat surat," kata Richard pelan. "Saya bahkan tidak sempat bertanya kenapa."
Raka sudah menelepon kantor polisi sebelum kalimat itu selesai.
Alamat lama Nara berada di sebuah perumahan tua di pinggir kota. Rumah nomor tiga belas, cat hijau yang mengelupas, pagar yang tidak dikunci.
Kosong.
Bukan kosong seperti ditinggalkan buru-buru, melainkan kosong yang rapi. Lantai disapu. Gorden ditutup. Tidak ada sehelai kertas pun tertinggal.
"Dia pergi dengan tenang," kata Richard. "Dia tahu akan ada yang datang."
Seorang ibu dari rumah sebelah keluar sambil menggendong anaknya.
"Mbak Nara?" katanya. "Dua hari lalu masih ada. Dia bawa tas ransel, naik taksi pagi-pagi. Saya sempat tanya mau ke mana."
"Dia jawab?" tanya Yura.
"Katanya mau ke kantor tempat menyimpan komputer besar-besar." Ibu itu tertawa kecil. "Saya nggak ngerti. Tapi dia sebut daerahnya."
Raka mencatat nama daerah itu dan mengeceknya dalam dua menit.
"Pusat data," katanya. "Ada satu di sana. Milik swasta."
Polisi bergerak sore itu juga.
Gedungnya dingin dan berdengung, penuh lorong-lorong berkabel dengan lampu putih yang menyakitkan mata. Mereka menemukan Nara di ruang kendali lantai tiga, duduk di depan tiga layar, jemarinya masih di atas papan ketik.
Ia tidak lari. Ia bahkan tidak berdiri.
Perempuan itu mengangkat kedua tangannya pelan, lalu menyerah tanpa sedikit pun perlawanan.
"Saya bukan Ketua," katanya sebelum ada yang bertanya. "Saya hanya ingin menghentikan sistem sebelum orang-orang seperti Ardi memakainya."
Richard melangkah mendekat. "Kenapa saya harus percaya?"
Nara memandangnya. Wajahnya tenang, tetapi matanya merah karena kurang tidur.
"Karena saya bekerja di perusahaan Anda sembilan bulan dan tidak pernah mengambil satu rupiah pun," katanya. "Saya masuk ke sana untuk mencari apa yang ditinggalkan ayah Anda. Setelah saya tahu tidak ada di situ, saya keluar. Itu saja."
"Siapa kamu sebenarnya?"
Nara menarik napas panjang.
"Selina ibu saya," katanya.
Ruangan itu terasa lebih dingin.
"Ibu saya masih hidup," lanjut Nara. "Di luar negeri. Sakit, tetapi hidup. Dia yang menyuruh saya melakukan ini. Dia bilang sistem itu harus dimusnahkan sampai ke akarnya, dan dia tidak sanggup melakukannya sendiri."
Yura menoleh ke Richard, tetapi Richard tidak bergerak.
"Saya membantu Anda tanpa Anda tahu," kata Nara. "Beberapa data yang bocor ke penyidik tahun lalu, itu dari saya."
"Kalau begitu kenapa sistemnya masih bisa hidup?" tanya Raka.
Nara memandang layar di depannya, lalu menutupnya.
"Karena kalian belum punya semuanya," jawabnya. "Ayah Anda menyimpan satu kunci utama. Satu-satunya yang tidak pernah ada di server mana pun."
"Di mana?"
"Kalau saya tahu, saya tidak akan duduk di sini tiga malam berturut-turut mengetik sampai jari saya kaku." Nara menatap Richard lurus-lurus. "Ibu saya cuma bilang satu hal. Ayah Anda tidak pernah menyimpan yang paling penting di tempat yang dijaga. Dia menyimpannya di tempat yang tidak ada yang merasa perlu menjaganya."
Yura menoleh cepat ke Richard. "Di rumah?"
"Bisa di mana saja," kata Nara. "Di benda yang tiap hari dilihat orang dan tidak pernah dicurigai."
Richard merasakan sesuatu bergerak di ingatannya, terlalu cepat untuk ditangkap. Sebuah benda. Suara. Ruangan.
"Kunci itu masih ada?" tanyanya.
"Selama tidak ada yang membuangnya, masih ada." Nara mengangkat bahu pelan. "Dan itu," katanya, "yang sampai hari ini belum ada yang menemukan."