Richard memutar video itu lagi pada pagi harinya. Lalu sekali lagi menjelang siang.
Ia duduk di ruang makan penginapan dengan laptop terbuka, sementara di luar anak-anak nelayan berlarian di pasir. Piring nasi di sampingnya dingin tanpa disentuh.
"Jika kamu melihat ini, berarti jaringan telah berkembang tanpa kendali."
Berkembang. Bukan dibentuk, bukan dipaksakan kepada orang lain. Berkembang. Kata itu hanya dipakai untuk sesuatu yang memang ditanam sejak awal.
Yura duduk di seberangnya dengan dua gelas teh. Ia mendorong satu gelas mendekat, lalu menunggu.
"Kalau ayah saya ikut menciptakan sistem Ketua," kata Richard pelan, "berarti seluruh hidup saya dibangun di atas rahasia yang jauh lebih besar daripada penggelapan dana."
"Chard—"
"Saya membela dia di depan wartawan. Di depan Mama. Di depan kamu." Richard menutup laptopnya. "Saya bilang ayah saya cuma orang yang diperas. Saya bahkan marah sama Raka waktu dia meragukan itu."
Yura tidak buru-buru menjawab. Ia menunggu sampai Richard benar-benar diam.
"Lo belum tahu ceritanya utuh," katanya kemudian. "Lo baru tahu potongannya. Jangan buru-buru menghukum orang mati pakai setengah halaman."
Nadia datang membawa map cokelat yang sudah lecek di sudutnya. Ia menarik kursi tanpa diminta.
"Saya dengar dari tadi," katanya. "Dan saya rasa ini waktunya saya cerita dari awal, bukan sepotong-sepotong."
Richard menegakkan punggungnya. "Silakan."
"Sistem itu dibuat tahun sembilan puluhan akhir. Waktu itu belum ada nama Ketua. Namanya cuma proyek arsip." Nadia membuka map. "Tujuannya dua: melacak aliran uang ilegal antar-perusahaan, dan melindungi saksi. Saksi-saksi kasus korupsi waktu itu banyak yang hilang, Chard. Ditemukan atau tidak ditemukan sama saja. Ayahmu ingin ada satu tempat yang menyimpan siapa bicara apa, supaya kalau orangnya lenyap, kesaksiannya tidak ikut lenyap."
"Jadi sistem ini awalnya pelindung," kata Yura.
"Awalnya." Nadia menekan kata itu. "Masalahnya, alat yang bisa melacak semua orang juga bisa dipakai untuk mengancam semua orang. Bedanya cuma siapa yang pegang kuncinya."
"Dan setelah ayah saya disingkirkan?"
"Kuncinya pindah." Nadia mengeluarkan satu lembar daftar akses. "Ardi dan Mara yang mengubahnya. Mereka tidak menambah satu baris kode pun. Mereka cuma membalik gunanya. Data saksi jadi bahan pemerasan. Pelacakan uang jadi peta siapa yang bisa ditekan dan seberapa dalam kantongnya."
Richard memandang daftar itu tanpa mengambilnya.
"Ayahmu membangun pintu," kata Nadia. "Tetapi orang lain menggunakannya untuk masuk ke semua rumah."
Kalimat itu tinggal lama di ruangan.
Richard berdiri, berjalan ke jendela, lalu kembali duduk. Ia mengakui dalam hati bahwa yang paling sulit diterima bukan kejahatannya, melainkan kenyataan bahwa ayahnya cukup pintar untuk merancang sesuatu sebesar itu dan tidak pernah sekalipun menceritakannya di rumah.
"Saya mau lihat arsip lamanya," katanya. "Yang asli. Bukan salinan."
Mereka menghabiskan sisa hari itu di gudang berkas yang dibawa polisi dari rumah lama. Kardus-kardus berdebu, map pita yang talinya sudah rapuh, kertas yang menguning di tepi.
Yura yang menemukannya.
Sebuah surat pendek, diketik mesin tik, tertanggal delapan bulan sebelum ayah Richard meninggal. Isinya perintah kepada administrator sistem untuk menutup seluruh server dan memusnahkan cadangan data.
Di bawah tanda tangan ayah Richard, ada catatan tambahan dengan tinta berbeda.
Perintah dibatalkan oleh administrator lain.
"Chard." Yura mengangsurkan surat itu.
Richard membaca dua kali, tiga kali. Tangannya sedikit bergetar, dan ia tidak berusaha menyembunyikannya.
"Dia berusaha menutupnya," katanya. "Delapan bulan sebelum meninggal, dia sudah mau menutup semuanya. Tapi perintahnya dibatalkan."
"Dibatalkan siapa?"
"Itu masalahnya." Richard menunjuk baris terakhir. "Tidak ada namanya. Cuma tertulis administrator lain." Ia menurunkan kertas itu ke pangkuannya. "Ayah tidak tahu siapa yang mengambil alih."
Yura duduk di sampingnya di lantai gudang, di antara kardus dan debu.
"Berarti dia bukan cuma korban dan bukan cuma pelaku," kata Yura. "Dia orang yang bikin sesuatu, sadar itu salah, lalu kalah waktu mau membereskan."
"Itu tetap tidak menghapus apa pun."
"Nggak menghapus. Tapi mengubah bentuknya." Yura menyenggol bahu Richard pelan. "Dan lo berhak tahu bentuk yang benar, bukan yang paling enak atau paling kejam."
Raka menemukan sisanya malam itu.
Ia duduk berjam-jam menelusuri sisa-sisa kode yang berhasil disalin sebelum sistem menghapus diri. Ketika akhirnya ia memanggil yang lain, wajahnya pucat.
"Akun KETUA-0," katanya. "Aku ketemu tanggal pembuatannya."
Ia memutar layar.
Richard membaca tanggal itu, lalu berhenti bernapas sejenak.
"Itu setelah ayah saya meninggal."
"Empat bulan setelahnya," kata Raka. "Akun itu tidak pernah ada selama ayahmu masih hidup. Sistemnya sempat mati, Chard. Benar-benar mati. Lalu ada orang yang sengaja menghidupkannya kembali dan memberi dirinya sendiri nama Ketua."
"Berarti Ketua bukan warisan," kata Livia dari ambang pintu. "Ketua itu orang baru."
Yura merangkum semuanya dengan satu kalimat pendek. "Ada orang yang nunggu ayah lo mati dulu, baru menyalakan lagi mesinnya."
Raka mengangguk. "Dan dia ceroboh satu kali. Cuma satu kali."
"Di mana?"
"Alamat yang dipakai waktu akunnya dibuat." Raka membesarkan barisnya. "Bukan alamat perusahaan. Ini alamat kampus. Universitas lama."
Richard membaca nama universitas itu, dan sesuatu di dadanya jatuh.
"Ayah saya pernah mengajar di sana," katanya. "Dua tahun. Mata kuliah manajemen risiko."
Mereka berangkat keesokan paginya.
Di dalam mobil, Richard diam hampir sepanjang jalan. Yura membiarkannya, sampai akhirnya ia sendiri yang tidak tahan.
"Lo takut nemu apa di sana?" tanyanya.
Richard menatap jalan di depan. "Takut ketemu foto ayah saya lagi tertawa. Lagi mengajar. Kelihatan baik-baik saja."
"Kenapa itu nakutin?"
"Karena berarti waktu itu dia sudah tahu apa yang dia bangun, dan dia tetap bisa tertawa."
Yura menyandarkan kepalanya ke jendela. "Atau berarti waktu itu dia belum tahu. Dua-duanya masih mungkin, Chard. Jangan pilih yang paling nyakitin cuma karena lo merasa pantas dihukum."
Richard tidak menjawab, tetapi tangannya mengendur sedikit di setir.
Kampus itu tua dan sepi, dengan pohon-pohon besar yang akarnya mengangkat paving. Ruang arsip berada di lantai dasar gedung lama, berbau kertas dan kapur. Seorang petugas tua mengizinkan mereka masuk setelah melihat surat polisi.
Foto-foto angkatan digantung berderet di dinding, berdebu, sebagian kacanya retak. Richard berjalan pelan menyusurinya sampai ia menemukan tahun yang ia cari.
Di sana ayahnya berdiri di barisan belakang, lebih muda, rambutnya masih hitam penuh. Di depannya duduk deretan mahasiswa.
Yura yang lebih dulu berhenti.
Ia mendekatkan wajahnya ke kaca, menyeka debunya dengan lengan baju, lalu menoleh ke Richard dengan mata yang berbeda.
"Chard," katanya. "Lihat yang duduk paling kiri."
Richard menunduk.
Seorang perempuan muda, rambut diikat, tersenyum tipis ke kamera.
Wajahnya sangat mirip dengan Mara.