Buku kode itu tipis, tetapi Richard membukanya seperti orang yang membuka pintu ruangan yang lama terkunci. Halaman-halamannya berbau lembap. Di luar, angin laut memukul jendela ruang server, dan suara mesin pendingin terdengar seperti napas yang tidak pernah berhenti.
Ia membaca deretan angka itu berulang-ulang. Semakin lama ia membaca, semakin jelas satu hal yang membuat tengkuknya dingin.
"Ini bukan daftar," kata Richard akhirnya. "Ini alamat."
Livia mengangkat wajah dari layar. "Maksudnya?"
"Setiap pemegang kode tidak bekerja sendiri-sendiri. Mereka saling berkirim pesan lewat satu sistem. Satu tempat." Richard membalik halaman dan menunjuk barisan huruf kecil di sudut. "Dan sistem itu masih hidup sampai detik ini."
Ruangan itu menjadi sunyi. Nadia yang sejak tadi berdiri di ambang pintu melangkah masuk.
"Hidup bagaimana?" tanya Yura.
Livia mengetik cepat. Layar besar di depan mereka berkedip, lalu terbagi menjadi banyak kotak. Ada daftar rekening yang saldonya bergerak sendiri. Ada gambar dari kamera pengawas: lobi hotel, halaman rumah, koridor rumah sakit. Ada folder-folder berisi akta, foto keluarga, rekam medis.
Yura mundur selangkah. Ia mengenali salah satu koridor itu. Rumah sakit tempat Livia dirawat dua minggu lalu.
"Mereka melihat semua orang," bisik Livia. "Rekening, kamera, dokumen pribadi. Selama ini kita pikir jaringan ini cuma orang-orang yang saling melindungi. Ternyata ada mesinnya."
Richard meletakkan buku kode di meja. "Matikan."
"Sebentar." Livia menahan tangannya. "Kalau kita mematikan sistem, semua bukti bisa ikut hilang."
Kalimat itu menggantung. Richard menarik napas panjang. Ia tahu Livia benar, dan ia benci Livia benar.
"Kita salin dulu," jawab Yura. Suaranya tenang, tetapi jemarinya sudah menarik kursi dan duduk di samping Livia. "Bukti dulu, baru tombolnya. Kalau kebalik, kita cuma jadi orang yang menghapus jejak mereka gratis."
Raka datang membawa dua kabel dan sebuah kotak hitam milik polisi. "Server penyidik siap. Tapi jalurnya lambat. Ini bisa semalaman."
"Kalau begitu kita semalaman," kata Yura.
Mereka bekerja sepanjang malam.
Livia memetakan struktur folder. Raka menyambungkan saluran ke server kejaksaan dan menjaga agar sambungannya tidak putus. Yura mengambil bagian yang paling melelahkan sekaligus paling menyakitkan: membuka satu per satu folder dan menandai mana yang berisi data keluarga mereka.
Ia menemukan nama ayahnya. Ia menemukan nama Mama. Ia menemukan foto dirinya sendiri, diambil dari seberang jalan, saat ia keluar dari kantor dengan map pernikahan Mia di tangan.
Yura menatap foto itu lama sekali. Tangannya berhenti di atas papan ketik.
"Yur." Richard berdiri di belakangnya. "Kamu nggak harus lihat itu."
"Justru harus." Yura menyeka mata dengan punggung tangan, lalu mengetik lagi. "Kalau gue nggak lihat, gue nggak akan percaya ini nyata."
Pukul dua pagi, mereka sudah memindahkan seperempat data. Pukul empat, hampir setengah. Kopi di gelas sudah dingin dan tidak ada yang peduli.
Lalu layar berkedip.
Bukan kedip biasa. Deretan folder di sisi kanan mulai menghilang satu per satu, rapi, seperti seseorang menghapus tulisan di papan dari ujung ke ujung.
"Livia," panggil Raka.
"Aku lihat." Jari Livia bergerak cepat. "Sistemnya menghapus dirinya sendiri. Dia tahu kita menyalin."
"Bisa dihentikan?"
"Aku sedang mencoba menahan yang paling penting. Rekening dulu. Kamera belakangan."
Raka menggeser laptopnya dan membuka daftar akun. Ia berhenti di baris paling atas.
"Ada akun administrator," katanya pelan. "Yang punya izin di atas semuanya. Yang bisa memerintahkan penghapusan ini."
"Siapa?" tanya Richard.
Raka memutar layarnya.
Nama pengguna di sana bukan nama manusia.
KETUA-0.
Nadia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Richard memandang tulisan itu seperti memandang wajah yang pernah ia kenal di tempat yang salah.
"Buku kode ayah saya," katanya tiba-tiba. "Di kontrak ada satu deret angka yang tidak pernah cocok dengan apa pun. Saya pikir itu nomor rekening."
Ia membuka salinan kontrak dan mengetikkan angka itu.
Penghapusan berhenti.
Seluruh layar menjadi gelap, lalu muncul jendela kecil di tengah. Sebuah video mulai berputar.
Ayah Richard duduk di ruang kerja yang Richard hafal sampai ke letak asbaknya. Lelaki itu lebih kurus dari yang Richard ingat. Ada kantong hitam di bawah matanya.
"Jika kamu melihat ini, berarti jaringan telah berkembang tanpa kendali. Hancurkan sistem, tetapi simpan bukti agar para korban mendapatkan keadilan."
Video itu berhenti sendiri. Tidak ada salam. Tidak ada kalimat untuk anaknya.
Richard berdiri tanpa bergerak cukup lama sampai Yura menyentuh lengannya.
"Chard."
"Saya dengar." Suaranya serak. "Livia, berapa persen?"
"Delapan puluh sembilan. Sisanya file kamera."
"Cukup." Richard meletakkan jarinya di atas tombol pemutus pusat jaringan. "Matikan."
Satu per satu lampu indikator di rak server padam. Dengungan mesin turun, lalu hilang. Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di pulau itu, ruangan benar-benar sunyi.
Semua layar mati.
Kecuali satu.
Di layar paling ujung, satu baris tulisan muncul dengan huruf putih yang tenang, seolah sudah disiapkan sejak lama untuk malam seperti ini.
"Kalian boleh menghancurkan sistem. Tapi orang yang menciptakannya masih hidup."
Tidak ada yang bicara. Raka bergerak mendekat, tetapi tulisan itu memudar sebelum ia sampai.
Nadia menatap mereka dengan cemas. Bibirnya bergetar sedikit sebelum ia memaksa dirinya bersuara.
"Pencipta sistem itu adalah ayah Richard."
Yura menoleh cepat. "Nadia—"
"Saya tahu bagaimana kedengarannya." Nadia menggeleng. "Tapi saya pernah melihat rancangan awalnya. Tulisan tangannya. Saya diam selama ini karena saya pikir itu tidak penting lagi."
Richard tidak menjawab. Ia memandang layar hitam di depannya, dan yang ia lihat di sana bukan pantulan dirinya, melainkan seorang lelaki tua yang selama ini ia bela di setiap ruang sidang di dalam kepalanya.
Selama bertahun-tahun ia memegang satu keyakinan: ayahnya korban. Ditekan, diperas, dipaksa menandatangani, lalu dibuang.
Sekarang keyakinan itu retak.
Mungkin ayahnya memang korban. Tapi mungkin juga lelaki itu ikut membangun jaringan ini lebih dulu, dengan tangannya sendiri, sebelum akhirnya berusaha menghentikannya ketika sudah terlambat.
Dua hal itu bisa benar sekaligus, dan justru itu yang paling sulit ditelan.
"Chard." Yura menggenggam tangannya. Telapaknya hangat di antara jemari Richard yang dingin. "Kita akan mencari kebenaran terakhir bersama."
Richard menunduk memandang tangan mereka. Lalu ia mengangguk.
Di luar, langit di atas laut mulai berubah abu-abu, lalu jingga tipis di garis paling bawah. Matahari terbit. Burung-burung mulai terdengar di balik pohon kelapa.
Tetapi di dalam ruangan itu tidak ada yang merasa malam sudah selesai.
Perang mereka belum selesai.