Kontrak itu dibaca di atas meja kayu panjang di ruang arsip, dengan tiga senter diarahkan ke halamannya.
Kertasnya tebal, sudah kekuningan, dan tanda tangannya dibubuhi dengan tinta yang menekan sampai hampir menembus lembar berikutnya. Dua tanda tangan: ayah Richard, dan seorang notaris yang namanya tidak pernah terdaftar di kantor mana pun yang mereka periksa kemudian.
Isinya pendek, dan justru itu yang membuatnya kejam.
Jika Richard menikahi Mia dan menggabungkan kedua perusahaan, kendali atas seluruh saham akan berpindah kepada yayasan.
Jika ia menolak, saham itu dibekukan — dan jatuh kepada pemegang kode.
Richard membaca pasal itu tiga kali. Rahangnya mengeras.
"Jadi apa pun yang saya pilih, mereka yang menang," katanya. "Ayah saya sengaja meninggalkan perangkap."
"Jangan," kata Nadia.
Ia berdiri di ujung meja, memeluk sikunya sendiri.
"Dia menandatanganinya saat diancam," katanya. "Saya ada di ruangan itu. Mereka datang berempat, membawa map yang isinya foto Anda waktu kuliah, foto ibu Anda, dan alamat rumah adik ayah Anda. Mereka tidak berteriak. Mereka cuma menaruh map itu di meja, lalu menunggu."
Richard menatapnya.
"Ayah Anda menandatangani supaya kalian semua hidup," lanjut Nadia. "Tapi dia tidak menandatanganinya begitu saja."
Ia mengulurkan tangan dan membuka halaman terakhir.
"Dia menambahkan satu klausul. Dia menghabiskan dua jam berdebat demi kalimat ini, dan mereka mengizinkan karena mereka pikir kalimat ini tidak akan pernah bisa dipakai."
Yura mencondongkan badan dan membacanya dengan suara pelan.
Klausul pembatalan. Seluruh perjanjian gugur apabila ditemukan bukti bahwa penandatanganan dilakukan di bawah ancaman, atau apabila terbukti adanya tindak pidana yang dilakukan pihak yayasan terhadap keluarga penandatangan.
"Buktinya sudah ada," kata Raka cepat. "Rekaman ayah Mia. Pengakuan Hendra. Pengakuan Mara. Semuanya sudah di berkas pengadilan."
"Baca lanjutannya," kata Nadia.
Yura membaca, dan wajahnya berubah.
Pembatalan hanya sah jika ditandatangani oleh dua orang saksi yang hadir saat perjanjian dibuat.
Dua nama tertulis di bawahnya, diketik dengan mesin tik, hurufnya sedikit miring.
Elena.
Dan Mara.
"Kenapa dua saksi?" tanya Raka. "Kenapa nggak cukup satu?"
"Karena ayah Anda tahu satu orang bisa dibeli," jawab Nadia. "Dua orang yang saling membenci jauh lebih sulit dibeli bersamaan."
Richard menutup map itu pelan. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasa ayahnya bukan sekadar orang yang menyerah. Ia orang yang kalah, tetapi sempat menyelipkan satu pintu keluar di ruangan yang sudah dikunci.
Elena menandatanganinya dua hari kemudian, di kantor notaris resmi, tanpa berdebat sedetik pun.
"Saya menunggu bertahun-tahun untuk bisa membatalkan sesuatu," katanya sambil mengembalikan pena. "Biasanya perempuan di keluarga ini cuma diminta diam."
Mara jauh lebih rumit.
Ia berada di tahanan, berstatus tersangka dalam perkara yang sedang berjalan, dan tanda tangannya hanya sah kalau dilakukan di hadapan pejabat berwenang, dengan pengawalan resmi, di tempat berkas aslinya berada.
Artinya, Mara harus dibawa ke pulau.
Prosesnya memakan waktu sembilan hari. Surat, izin, jadwal, kapal.
Richard menemuinya sehari sebelum keberangkatan, bersama pengacara perusahaan.
Mara membaca kontrak itu dari halaman pertama sampai terakhir tanpa melewati satu baris pun. Ia membaca seperti orang yang pernah menyusun dokumen semacam itu sendiri.
Ketika sampai di halaman terakhir, ia berhenti lama di dua nama saksi.
"Saya ingat malam itu," katanya akhirnya.
"Anda ada di sana."
"Saya berdiri di dekat pintu." Mara menaruh kertas itu. "Saya yang membawa mapnya masuk."
Richard tidak berkata apa-apa. Pengacaranya menggeser formulir ke depan.
"Ada satu kalimat yang tidak pernah kulupakan," kata Mara. "Sebelum dia menandatangani, dia menarik lenganku dan mengatakannya pelan sekali, supaya yang lain tidak dengar."
"Apa?"
"Ayahmu memintaku menyelamatkan perusahaan, bukan menghancurkannya. Aku gagal." Mara menatap tangannya sendiri.
Ia mengambil pena. Tanda tangannya pendek, tegas, selesai dalam dua detik.
Kapal berangkat pagi berikutnya, membawa Mara, empat petugas bersenjata, seorang pejabat pencatat, Richard, Yura, Raka, dan map berisi kontrak asli beserta lembar pembatalan yang sudah lengkap.
Laut sedang tidak bersahabat. Ombaknya pendek dan rapat, membuat lambung kapal berdebum setiap beberapa detik.
Mara duduk di bangku tengah, tangannya diborgol di depan, memandang garis pantai yang menjauh.
"Kamu tahu kenapa aku setuju?" tanyanya kepada Raka, yang duduk dua bangku darinya.
Raka tidak menjawab.
"Karena ini satu-satunya hal yang bisa kulakukan yang hasilnya tidak untuk aku."
Raka tetap memandang laut. Tetapi ia tidak pindah tempat duduk.
Penandatanganan di pulau berjalan lancar. Pejabat pencatat membubuhkan stempel, memfoto setiap halaman, lalu memasukkan berkas asli ke dalam map kulit dan menyerahkannya kepada Richard.
"Simpan baik-baik," katanya. "Salinan digital tetap harus dibuat hari ini juga."
Mereka berangkat pulang sebelum pukul tiga.
Serangan itu datang dua puluh menit setelah kapal meninggalkan pulau.
Sebuah perahu cepat muncul dari balik tanjung, tanpa nomor lambung, dan menghantam sisi kanan kapal polisi dengan sengaja. Bunyinya seperti ledakan tumpul. Orang-orang terjatuh. Salah satu petugas terlempar ke pagar.
"Tiarap! Tiarap!"
Ada asap. Entah dari mesin, entah dari sesuatu yang dilempar.
Yura merasakan tangan Richard menariknya ke lantai dek, punggung lelaki itu menutupi kepalanya. Di sekitar mereka terdengar teriakan, air, dan derak fiber yang pecah.
Semuanya berlangsung kurang dari dua menit.
Ketika asap menipis, satu petugas terkapar memegang lengannya, dan seorang lagi berteriak meminta kotak obat. Mesin kapal masih hidup. Tidak ada yang tenggelam.
Perahu cepat itu sudah berbalik ke arah pulau, dan Richard baru menyadari sesuatu.
Map kulit di tangannya ringan.
Ia membukanya. Kosong.
Kontrak asli — beserta lembar pembatalan yang baru saja ditandatangani Mara — tidak ada.
"Raka!"
Raka sudah lebih dulu melompat ke sekoci bersama dua petugas, mesin dinyalakan, dan mereka memburu perahu itu kembali ke pantai.
Penyusup itu sampai lebih dulu. Ia meninggalkan perahunya di pasir dan berlari ke arah hutan kecil di punggung pulau. Raka mengejar, kakinya tersandung akar, bangkit lagi, terus berlari mengikuti suara ranting yang patah.
Ia sampai di sebuah tanah lapang kecil, dan berhenti.
Tidak ada siapa pun.
Hanya sebuah topeng plastik hitam tergeletak di tanah, jenis yang dijual murah di mana saja, masih basah oleh keringat di bagian dalamnya.
Dan di atas topeng itu, sebuah kartu putih kecil, dijepit oleh sebatang ranting agar tidak terbang.
Raka mengangkatnya dengan tangan gemetar.
Hanya satu kata yang tercetak di sana.
Ketua.