Kapal berangkat dari dermaga kecil di utara sebelum matahari naik.
Richard berdiri di haluan bersama Yura, Raka, dan Livia, sementara tim polisi memeriksa peralatan mereka di bagian belakang. Laut pagi itu tenang, warnanya kelabu, dan udara berbau garam bercampur solar dari mesin.
Perjalanan memakan waktu dua jam.
Livia duduk di bangku samping, memeluk tas laptopnya, wajahnya masih pucat sisa perawatan.
"Lo nggak harus ikut," kata Yura.
"Gue harus." Livia menatap air. "Gue yang pertama nemu perusahaan perantaranya. Kalau ada yang salah baca dokumen di sana, gue mau salah bacanya di depan mata sendiri, bukan lewat telepon."
Pulau itu tidak besar. Dari kejauhan hanya terlihat seperti punggung kura-kura hijau yang mengapung. Tidak ada dermaga resmi, hanya beton tua dengan tiang-tiang yang sudah ditumbuhi teritip.
"Dulu ini pusat pelatihan yayasan," kata salah satu petugas sambil membaca catatan. "Izinnya berhenti diperpanjang delapan tahun lalu. Di atas kertas, bangunannya sudah dibongkar."
Bangunan itu jelas belum dibongkar.
Ia berdiri di tengah pulau, dua lantai, tembok putih yang sudah menghitam oleh lumut, dengan jendela-jendela kaca nako yang sebagian pecah. Jalur menuju ke sana masih bersih dari semak, tanda ada orang yang rutin melewatinya.
Pintu depannya tidak dikunci. Lagi.
Di dalam, udara terasa sejuk dan kering. Bukan seperti bangunan terbengkalai, melainkan seperti perpustakaan tua yang masih dirawat.
Mereka berjalan melewati ruang depan yang kosong, melewati lorong dengan lantai teraso, lalu berhenti di ambang sebuah ruangan besar.
Ruangan itu penuh lemari.
Deretan lemari besi setinggi dada, berjajar rapi dari dinding ke dinding, dengan gang sempit di antaranya. Ada mungkin dua ratus, mungkin lebih.
Dan setiap lemari diberi nama.
Bukan nomor. Nama keluarga.
Yura berjalan pelan menyusuri gang pertama, membaca satu per satu. Nama-nama yang tidak ia kenal, lalu nama yang pernah ia lihat di berita, lalu nama seorang menteri yang sudah pensiun.
Ia berhenti di gang ketiga.
Di sana, dua lemari berdiri bersebelahan.
Satu bertuliskan nama keluarga Richard.
Satu lagi bertuliskan nama keluarganya sendiri.
Yura menyentuh label nama keluarganya dengan ujung jari. Cetakannya rapi, dibuat dengan mesin label, bukan ditulis tangan buru-buru. Seseorang pernah duduk di ruangan ini, mengetik nama keluarganya, dan menempelkannya dengan tenang.
"Richard," panggilnya, dan suaranya hampir tidak keluar.
Sebelum Richard sempat menjawab, terdengar suara langkah dari balik rak di ujung ruangan.
Semua senter diarahkan ke sana.
Nadia muncul perlahan, mengangkat satu tangan untuk melindungi matanya dari cahaya. Ia memakai kemeja lengan panjang yang kebesaran, rambutnya diikat seadanya, dan wajahnya terlihat jauh lebih tua daripada terakhir kali Richard melihatnya.
Di tangan kanannya ada sebuah kunci besar.
"Saya sudah menunggu," katanya. "Sejak kemarin."
Petugas bergerak maju, tetapi Richard mengangkat tangan.
"Kenapa Bu Nadia lari?"
"Saya tidak lari," jawabnya. "Saya pulang."
Ia menurunkan tangannya, dan menatap Richard lama.
"Saya tidak pernah menjadi Ketua," katanya. "Saya hanya menjaga arsip agar tidak digunakan untuk memeras orang lain."
"Arsip ini bukan milik Anda."
"Memang bukan." Nadia mengangguk. "Tapi kalau saya tidak menjaganya, tempat ini sudah dikosongkan sepuluh tahun lalu, dan semua nama di ruangan ini sudah dijual satu per satu."
Ia berjalan pelan ke arah meja di tengah ruangan dan duduk, seperti orang yang kakinya sudah tidak kuat berdiri lama.
Ceritanya keluar sedikit demi sedikit.
Ia mulai bekerja untuk ayah Richard tiga puluh tahun lalu. Awalnya hanya mengurus surat. Lalu, ketika perusahaan mulai bersinggungan dengan yayasan, ia diminta mengurus sesuatu yang lain: menyimpan salinan, mencatat siapa yang datang, memastikan dokumen penting tidak berada di satu tempat saja.
"Ayah Anda tahu suatu hari dia akan ditekan," kata Nadia. "Dia ingin ada yang memegang bukti kalau itu terjadi."
"Lalu?"
"Lalu dia meninggal. Dan yang datang kepada saya bukan polisi, melainkan Ardi dan Mara."
Nadia menunduk.
"Mereka memaksa saya memberikan akses. Saya memberikannya. Bukan untuk menyembunyikan kejahatan — saya minta bagian tertentu dihapus, yang berisi nama keluarga-keluarga kecil yang tidak tahu apa-apa. Ada nama pengasuh, sopir, perawat. Kalau arsip itu bocor, hidup mereka habis, padahal mereka cuma kebetulan bekerja di rumah yang salah."
"Anda melanggar hukum," kata penyidik.
"Saya tahu." Nadia mengangkat wajahnya. "Silakan proses. Saya tidak akan lari lagi."
Raka melangkah maju, tidak sabar.
"Terus siapa Ketua? Kalau bukan Bu Nadia, kalau bukan Mara, kalau bukan ayah Mia — siapa?"
Nadia menatapnya dengan tatapan yang aneh, hampir seperti kasihan.
"Kalian salah mencari," katanya. "Ketua terakhir bukan yayasan. Ketua adalah sistem yang mereka buat. Siapa pun dapat memegang kendali selama memiliki kode."
"Kode apa?"
Ia meletakkan sesuatu di atas meja.
Sebuah buku tulis bersampul keras, warnanya cokelat pudar, yang sudut-sudutnya sudah tumpul karena terlalu sering dibuka.
Di dalamnya, halaman demi halaman berisi deret kode. Setiap kode diikuti satu baris keterangan kecil: sebuah rekening, sebuah identitas, sebuah wewenang.
"Jadi siapa pun yang pegang buku ini—" Raka berhenti sendiri.
"Bisa memerintahkan apa saja, atas nama siapa saja," Nadia menyelesaikannya. "Bisa memindahkan uang. Bisa membuat identitas. Bisa menutup perkara."
"Kode ini yang menandatangani, bukan orangnya," kata Nadia. "Itu sebabnya jaringan ini tidak pernah mati meskipun orangnya ditangkap. Ketua hanya nama untuk siapa pun yang sedang memegang buku ini."
Livia membalik halaman demi halaman dengan sarung tangan tipis, sampai berhenti di halaman terakhir.
Ia mengangkat wajahnya ke Richard, dan tidak langsung bicara.
"Kenapa?" tanya Richard.
"Kode terakhir," kata Livia. "Yang paling tinggi. Yang bisa membatalkan semua kode lain."
"Kenapa dengan kode itu?"
"Identitas yang tertulis di sampingnya adalah nama perusahaan lo."
Ruangan itu hening total.
Richard berjalan ke gang ketiga, ke lemari besi yang bertuliskan nama keluarganya sendiri.
Nadia menyerahkan kunci tanpa diminta.
Kunci itu masuk dengan mudah, seolah gemboknya memang menunggu tangan ini sejak lama. Pintu lemari terbuka dengan suara berderit panjang.
Di dalamnya tidak banyak.
Sebuah map tebal, diikat tali, dengan tulisan tangan ayahnya di sampul.
Richard membukanya di tempat, berdiri, dengan Yura menahan senter di atas bahunya.
Di dalam map itu ada kontrak asli. Kontrak yang tidak pernah ia lihat, tidak pernah disebut notaris mana pun, dan tidak pernah ada dalam berkas warisan.
Kontrak yang menyerahkan perusahaan itu kepadanya dengan syarat tertentu.