Data yang hilang dari ruang bawah tanah itu tidak menguap.
Butuh tiga hari bagi tim forensik digital untuk menelusuri jejaknya: sebuah alamat penyimpanan awan, disewa dengan kartu perusahaan, dan diakses dari satu jaringan yang sama berulang kali.
Jaringan itu milik sebuah firma hukum di kawasan Kuningan. Firma yang selama bertahun-tahun menangani hampir seluruh urusan hukum yayasan, dari sengketa tanah sampai perizinan.
Pemiliknya bernama Reza.
Ia tidak kabur. Ia bahkan datang lebih awal dari jadwal pemanggilan, memakai jas abu-abu, membawa tas kulit, dan menyapa petugas resepsionis dengan ramah.
"Saya siap membantu," katanya sambil duduk. "Saya hanya menjalankan tugas sebagai pengacara."
Richard memperhatikannya dari sudut ruangan. Orang ini berbeda dari Hendra yang gelisah, berbeda dari Kartika yang panik. Reza duduk seperti orang yang yakin ada dinding tebal di belakangnya.
"Anda memindahkan data dari server yayasan," kata penyidik.
"Saya menyimpan dokumen klien. Itu kewajiban profesi."
"Sembilan menit sebelum penggerebekan?"
"Kebetulan yang tidak menguntungkan." Reza tersenyum tipis. "Kalau ada yang memberi tahu saya soal jadwal penggerebekan, tolong sebutkan namanya. Saya akan menuntut dia lebih dulu."
Raka membuka mapnya dan meletakkan tiga lembar di atas meja.
"Ini transfer ke rekening pribadi Anda," katanya. "Bukan rekening firma. Tiga kali dalam setahun. Dari perusahaan perantara yang sama yang dipakai yayasan."
Reza melirik kertas itu tanpa mengubah posisi duduknya.
"Honor konsultasi pribadi. Semua tercatat."
"Empat ratus juta untuk konsultasi?"
"Saya mahal."
Di kursi sebelah, Livia menyalakan tabletnya, menoleh sebentar kepada penyidik, lalu memutar sebuah file audio.
Suara paman Mia keluar dari speaker kecil itu. Dan suara kedua, tenang dan terlatih, adalah suara yang baru saja mereka dengar di ruangan yang sama.
"...arsipnya sudah saya pindahkan. Kalau nanti ada pemeriksaan, yang mereka temukan cuma cangkang..."
Reza tidak bergerak. Tetapi tangannya, yang sejak tadi diam di atas meja, akhirnya berpindah ke pangkuan.
Rekaman itu berjalan satu menit lebih. Tidak ada yang memotongnya.
Ketika suara berhenti, ruangan itu sunyi cukup lama sampai Reza akhirnya menarik napas panjang.
"Baik," katanya. "Saya akan bicara. Tapi saya ingin dicatat bahwa saya tidak pernah tahu asal uangnya."
"Silakan."
"Saya menerima data dari seorang klien. Saya tidak pernah tahu namanya. Dalam semua surat, dia hanya menyebut dirinya Ketua."
"Siapa identitasnya?" tanya penyidik.
"Saya tidak pernah bertemu langsung. Semua instruksi melalui surat dan rekening luar negeri."
"Tidak pernah sekali pun?"
"Tidak pernah." Reza menggeleng. "Instruksinya datang dalam amplop, selalu diketik, tanpa tanda tangan. Pembayaran masuk dua hari setelah instruksi selesai dikerjakan. Kalau saya bertanya, jawabannya selalu sama: kerjakan saja, atau nama Anda ikut di dalam berkas."
"Anda tidak pernah curiga?"
Reza tersenyum, kali ini tanpa kepercayaan diri sama sekali.
"Di pekerjaan saya, orang yang terlalu banyak bertanya tidak bertahan lama."
Ia menyerahkan satu hal sebelum dibawa keluar: sebuah kotak kayu yang selama ini disimpan di ruang arsip firmanya, di rak paling atas, di balik berkas-berkas perkara tanah tahun sembilan puluhan.
"Apa isinya?" tanya penyidik.
"Saya tidak pernah membukanya," kata Reza. "Instruksinya: simpan, jangan dibaca, serahkan kalau ada yang datang menanyakan nama Ketua."
"Dan Anda menurut?"
"Saya menurut selama dua belas tahun."
Kotak itu dibuka di hadapan penyidik.
Isinya bukan uang, bukan senjata, bukan dokumen tebal.
Hanya setumpuk kartu indeks berisi kode. Deret huruf dan angka, ditulis tangan, masing-masing dengan tanggal di sudut kanan atas.
Dan di dasar kotak, selembar kertas dengan satu nama.
Nadia.
Richard merasa lantai di bawahnya bergeser sedikit.
Nadia adalah sekretaris lama ayahnya. Perempuan yang dulu menyalami Richard di pemakaman, yang menangis di sudut ruangan, dan yang beberapa bulan lalu datang membawa surat terakhir ayahnya — surat yang justru menjadi awal dari semua yang mereka temukan.
"Nggak mungkin," kata Raka, meskipun ia sendiri tidak terdengar yakin.
"Dia yang memberi kita surat itu," kata Yura. "Kenapa dia kasih kalau dia bagian dari mereka?"
"Karena surat itu cuma menunjuk ke bawah," jawab Richard pelan. "Ke Hendra, ke paman Mia, ke Ardi. Tidak ada satu pun kalimat di surat itu yang menunjuk ke atas."
Ia menatap kartu-kartu kode itu.
Selama ini ia mengira Nadia hanyalah penjaga dokumen. Orang yang dipercaya karena setia, yang tahu di mana map disimpan dan kapan pajak harus dibayar.
Sekarang ia tidak yakin lagi apa arti kata dipercaya.
Polisi mendatangi rumah Nadia malam itu juga.
Rumah kecil di gang sempit, pagar besi dicat hijau, dengan pot-pot yang tanahnya masih basah seperti baru disiram pagi tadi.
Pintunya tidak dikunci.
Tetangga sebelah mengatakan Nadia pamit dua hari lalu, katanya mau menengok saudaranya di kampung. Ia bahkan menitipkan kunci cadangan dan uang untuk membayar tukang sampah bulan itu.
"Bu Nadia orangnya baik," kata tetangga itu. "Tiap Lebaran ngirim kue."
Di dalam, semuanya rapi. Terlalu rapi. Lemari pakaian terbuka setengah dengan beberapa gantungan kosong. Kulkas dikosongkan dan dicabut. Jam dinding masih berjalan.
Nadia tidak ada.
Di meja kerjanya di kamar belakang, di bawah lampu belajar yang masih menyala, tergeletak sebuah peta laut yang sudah lusuh.
Bukan peta kota. Peta perairan.
Sebuah pulau kecil dilingkari dengan pensil, dua kali, dan di sampingnya ditulis koordinat dengan tulisan tangan yang cepat.
Yura mendekat dan menatap lingkaran itu lama.
Ada sesuatu yang membuat perutnya mengencang, dan ia butuh beberapa detik untuk menyadari apa.
"Kalian sadar nggak," katanya pelan, "semua orang yang tahu rahasia ini akhirnya diarahkan ke tempat yang sama?"
Richard menoleh.
"Ardi ngasih kita gudang. Hendra ngasih kita kotak. Mara ngasih kita rekaman. Reza ngasih kita nama." Yura menunjuk peta itu. "Dan sekarang Nadia ninggalin ini, bukan bawa pergi."
"Maksud kamu ini jebakan."
"Gue nggak tahu." Yura menggeleng pelan. "Tapi coba pikir. Dari awal kita selalu merasa kita yang mengejar. Padahal tiap kali kita sampai di satu tempat, selalu ada yang udah nyiapin petunjuk berikutnya buat kita."
Raka melipat tangannya. "Terus kita tetap ke pulau itu?"
"Kita harus," kata Richard. "Cuma sekarang kita tahu kita bukan yang pertama sampai di sana."
Tidak ada yang menjawab lagi. Lampu belajar di meja itu berdengung pelan, dan di luar terdengar suara gerobak bakso lewat di ujung gang.
"Maksud gue," kata Yura pelan, "ini bukan kita yang nemuin jalan. Ini kita yang dituntun."