Pesan Mara tidak bisa dianggap gertakan begitu saja.
Pagi berikutnya, sebelum matahari benar-benar naik, Richard dan Raka sudah duduk di ruang rapat dengan dua kotak dokumen yayasan di atas meja. Kopi dibuat tiga kali, dan tiga-tiganya dingin sebelum sempat diminum.
Selama ini yayasan itu terlihat seperti yang paling bersih di antara semua nama yang muncul.
Mereka membangun rumah setelah gempa. Mereka membiayai sekolah anak-anak nelayan. Foto-fotonya bagus, laporan tahunannya dicetak di kertas tebal, dan setiap Desember ada acara penyerahan bantuan yang diliput televisi.
Namun setelah halaman ketujuh, Richard mulai merasa ada yang salah.
"Lihat rekening ini," katanya. "Saldo akhir tahun nol koma sekian. Tahun berikutnya juga nol. Tahun berikutnya lagi nol."
"Itu wajar kalau semua dana langsung disalurkan," kata Raka.
"Tidak ada organisasi yang menyalurkan seratus persen dananya persis di hari terakhir tahun buku. Selama sembilan tahun berturut-turut."
Livia yang menemukan polanya, menjelang tengah hari, dengan rambut diikat asal dan tiga layar terbuka sekaligus.
Ia masih memakai gelang rumah sakit yang belum sempat digunting.
"Setiap proyek amal punya perusahaan perantara," katanya. "Namanya beda-beda, alamatnya beda-beda, tapi nomor teleponnya cuma tiga. Dan tiga-tiganya terdaftar atas nama notaris yang sama."
Ia menarik satu diagram ke layar besar.
Dana bantuan masuk ke yayasan. Dari yayasan dipindahkan ke perusahaan perantara, dengan alasan pengadaan barang atau jasa konsultasi. Dari perusahaan perantara, uang itu pecah menjadi puluhan transfer kecil, dan berakhir di rekening pribadi.
Rekening pejabat. Rekening pengusaha. Rekening orang-orang yang selama ini duduk di panggung yang sama saat foto bersama diambil.
Ruangan itu hening cukup lama.
"Yayasan ini bukan organisasi," kata Raka akhirnya. "Ini jaringan pencucian uang."
"Dan amalnya?" tanya Yura.
"Amalnya nyata," jawab Livia. "Itu bagian paling pintarnya. Rumah yang dibangun beneran ada. Sekolahnya beneran jalan. Cuma nilainya sepersepuluh dari yang dilaporkan. Sembilan persepuluh sisanya jalan-jalan dulu sebelum pulang ke kantong orang."
Yura menarik kursi dan duduk, menatap diagram di layar itu lama sekali.
"Gue pernah kerja buat acara mereka," katanya pelan. "Dua tahun lalu. Acara penyerahan beasiswa. Gue inget anak-anaknya nangis pas dipanggil ke panggung."
"Anak-anaknya beneran dapat beasiswa," kata Livia.
"Tapi gue jadi bagian dari panggung yang bikin orang percaya." Yura menggosok pelipisnya. "Itu yang bikin gue muak."
Richard menutup map di depannya.
"Bekukan," katanya kepada tim hukum di ujung meja. "Semua rekening perusahaan yang terhubung. Hari ini juga."
"Pak, sebagian dari perusahaan itu mitra resmi—"
"Hari ini juga."
Nama Kartika muncul dua jam kemudian, di daftar penasihat yayasan periode empat tahun terakhir.
Ia datang sendiri ke kantor sebelum dipanggil, dengan blus rapi dan wajah tenang.
"Saya hanya penasihat nama," katanya. "Saya dipakai supaya laporan mereka terlihat kredibel. Saya tidak pernah ikut rapat apa pun."
Raka memutar salah satu rekaman Mara tanpa berkata apa-apa.
Di layar, di sebuah ruang rapat hotel, Kartika duduk di kursi keempat dari kiri. Ia tidak banyak bicara. Tetapi ia ada di sana, mengangguk, dan sekali menandatangani sesuatu yang disodorkan kepadanya.
Wajah Kartika berubah.
"Saya tidak tahu isi dokumennya," katanya, lebih pelan.
"Itu yang nanti Anda jelaskan di sana," kata Richard, dan ia tidak menambahkan apa pun lagi.
Penggerebekan kantor yayasan dilakukan keesokan sorenya.
Dari luar, bangunan itu terlihat seperti kantor lembaga sosial biasa: dua lantai, cat krem, papan nama dengan logo daun. Di lobinya tergantung foto-foto anak-anak tersenyum memegang buku.
Polisi masuk melalui pintu depan dan pintu samping bersamaan. Pegawainya tidak melawan. Sebagian besar bahkan terlihat benar-benar bingung, dan Richard menduga mereka memang tidak tahu apa-apa. Di lembaga seperti itu, orang yang mengurus surat undangan dan orang yang mengurus uang tidak pernah duduk di lantai yang sama.
Yang mereka cari bukan di lantai dua.
Di bawah tangga, di balik rak arsip yang bisa digeser, ada pintu menuju ruang bawah tanah. Udaranya dingin, jauh lebih dingin daripada seharusnya, karena ada sistem pendingin yang bekerja sepanjang waktu.
Di dalamnya berdiri deretan server.
Di rak sebelahnya, kotak-kotak berisi dokumen identitas: KTP, paspor, kartu keluarga, semuanya palsu dan semuanya rapi.
Dan di dinding paling jauh, tertempel foto.
Puluhan, mungkin ratusan. Foto keluarga-keluarga yang tidak saling kenal. Ada yang diambil di depan rumah, ada yang di parkiran sekolah, ada yang di rumah sakit. Di bawah setiap foto ada catatan kecil: tanggal, jumlah, dan satu kata yang berulang — selesai, selesai, selesai.
"Ini orang-orang yang pernah mereka peras," kata petugas.
"Kenapa disimpan?" tanya Raka. "Kenapa nggak dibakar setelah selesai?"
"Karena buat mereka ini bukan barang bukti," jawab petugas itu. "Ini katalog. Sekali orang bisa ditekan, dia bisa ditekan lagi kapan pun."
Yura berjalan pelan menyusuri dinding itu, dan berhenti.
Di antara semua wajah asing, ada satu foto yang membuat kakinya berhenti bergerak.
Foto dirinya. Dan Richard.
Diambil diam-diam, dari jarak jauh, saat mereka keluar dari sebuah gedung. Yura bahkan ingat hari itu — hari pertama mereka membahas pernikahan Richard dan Mia sebagai pekerjaan.
Di bawah foto itu tertulis sebuah tanggal.
Tanggal pernikahan yang direncanakan.
Yura bergidik. Tangannya dingin dan ia menarik lengan bajunya sendiri tanpa sadar.
"Mereka sudah mengawasi kita jauh sebelum Mia pergi," katanya.
Richard berdiri di sampingnya, menatap foto itu lama. Kemudian ia menggenggam tangan Yura, erat, seolah ingin memastikan perempuan itu benar-benar ada di sebelahnya dan bukan hanya gambar di dinding.
"Sekarang mereka tidak bisa menyentuhmu," katanya.
Namun kalimat itu belum sempat dingin ketika salah satu petugas forensik digital memanggil dari sudut ruangan.
Suaranya datar, dan justru itu yang membuat semua orang menoleh.
"Pak. Server utamanya kosong."
Richard mendekat. "Kosong bagaimana?"
"Bukan rusak. Bukan diformat buru-buru. Datanya dipindahkan." Petugas itu menunjuk deretan angka di layar. "Lihat waktunya. Proses terakhir selesai sembilan menit sebelum kami masuk."
Ruang bawah tanah itu terasa semakin dingin.
"Berapa banyak yang sempat dipindahkan?" tanya Richard.
"Semuanya, Pak. Yang tersisa cuma sistem operasinya."
Raka mengusap wajah dengan kedua tangan. "Berarti rencana penggerebekan ini bocor."
"Atau mereka memang selalu siap," kata Livia. "Orang yang membangun sistem seperti ini pasti sudah menyiapkan tombol untuk mengosongkannya."
Richard menatap deretan lampu server yang masih berkedip hijau, seolah mesin-mesin itu masih bekerja untuk seseorang yang tidak ada di ruangan.
Seseorang tahu mereka akan datang.