Acara amal itu digelar di halaman sebuah gedung tua yang disulap Yura dalam sepuluh hari.
Tidak ada karpet merah. Tidak ada meja tamu dengan pita. Yang ada hanya tenda putih, lampu gantung sederhana, dan satu dinding besar berisi papan angka: berapa yang masuk, berapa yang keluar, berapa yang disalurkan, siapa penerimanya.
Orang-orang datang sejak sore. Ada yang datang karena diundang, banyak yang datang karena penasaran.
Menjelang malam, halaman itu penuh. Ibu-ibu datang bersama anaknya, mahasiswa datang berombongan, dan beberapa orang tua berdiri agak jauh sambil membaca papan angka itu satu per satu, dari baris pertama sampai terakhir.
Yura berjalan ke sana kemari dengan earpiece di telinga dan sepatu kets di bawah gaun kerjanya, memastikan antrean makanan tidak menumpuk dan pembawa acara tidak salah menyebut nama.
Richard hadir sebagai tamu.
Bukan sebagai pengusaha yang dikejar skandal, bukan sebagai anak korban pembunuhan yang jadi judul berita. Ia datang, duduk di deretan kursi biasa, menyalami orang yang menyapanya, dan tidak sekali pun naik ke panggung.
"Lo nggak mau kasih sambutan?" tanya Yura di sela-sela acara.
"Tidak. Malam ini bukan tentang saya."
Yura menatapnya sebentar lebih lama dari yang ia rencanakan, lalu pergi lagi karena ada yang memanggil dari arah dapur.
Acara selesai pukul sembilan. Angka terakhir di papan dibacakan keras-keras, dan orang-orang bertepuk tangan bukan karena terharu, melainkan karena untuk pertama kalinya mereka melihat sebuah acara amal yang berani menuliskan sisanya.
Dua wartawan yang biasa menulis judul paling pedas ikut datang. Salah satunya memotret papan angka itu lama sekali, lalu bertanya kepada Yura apakah ia boleh menyalin semuanya.
"Silakan," jawab Yura. "Itu memang ditulis buat disalin."
Kepercayaan publik tidak kembali malam itu juga. Tetapi sesuatu bergeser, dan semua orang di halaman itu merasakannya. Besok paginya, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, nama perusahaan Richard muncul di berita tanpa kata skandal di belakangnya.
Ketika tenda mulai dibongkar, Richard menghampiri Yura yang sedang duduk di anak tangga, melepas sepatu, dan memijat tumitnya sendiri.
"Ada waktu?"
"Buat apa?"
"Jalan sebentar."
Taman itu tidak jauh, hanya sepuluh menit berkendara. Taman yang sama tempat mereka dahulu pertama kali berbicara setelah bertahun-tahun berpisah — waktu itu Yura datang membawa map penawaran dan berniat memaki, tetapi akhirnya hanya duduk di bangku ini dan diam selama dua puluh menit.
Lampu tamannya masih yang dulu: kuning, agak redup, dengan serangga kecil berputar-putar di sekitarnya. Rumputnya basah oleh embun. Dari arah jalan terdengar suara motor sesekali lewat.
Mereka duduk di bangku yang sama.
"Bangkunya masih goyang," kata Yura.
"Masih."
"Dulu saya duduk di sini dua puluh menit tanpa ngomong apa-apa."
"Saya hitung dua puluh tiga menit," kata Richard. "Saya ingat karena saya menghitungnya sambil menyiapkan kalimat yang akhirnya tidak pernah saya ucapkan."
Yura tertawa kecil, lalu diam. Suara jangkrik mengisi jeda di antara mereka.
"Kamu selalu meminta kita mulai sebagai teman," kata Richard.
"Karena saya takut mengulang masa lalu."
"Saya juga takut." Richard memandang lurus ke depan. "Tapi saya tidak ingin kehilangan kesempatan kedua."
Yura tidak menjawab. Ia memainkan tali tasnya.
Richard mengeluarkan sesuatu dari saku dalam jasnya. Sebuah amplop putih, sudah lusuh di sudutnya, seperti sesuatu yang terlalu sering dibawa ke mana-mana.
"Apa ini?"
"Surat yang saya tulis tujuh tahun lalu," katanya. "Saya tidak pernah berani mengirimnya."
Yura membukanya dengan tangan yang mulai dingin.
Tulisan Richard di dalamnya lebih berantakan daripada yang ia kenal sekarang. Tulisan orang berumur dua puluhan yang sedang panik.
Di surat itu Richard menulis bahwa ia pergi bukan karena berhenti mencintai Yura.
Ia pergi karena ayah Mia datang ke rumahnya, malam sebelum kepergiannya, dan meletakkan sebuah map di atas meja. Isinya nama ayah Richard, nama perusahaan, dan nama ibu Yura. Lelaki itu bicara dengan sangat sopan, bahkan sempat memuji teh yang disuguhkan, sebelum mengatakan bahwa hubungan Richard dan Yura harus berakhir kalau Richard masih ingin semua nama di map itu baik-baik saja.
Ia pergi keesokan harinya. Tanpa penjelasan. Karena penjelasan, waktu itu, justru yang paling berbahaya.
Yura membaca surat itu sampai habis, lalu membacanya lagi dari awal. Matanya berkaca-kaca dan ia tidak berusaha menyembunyikannya.
"Kenapa baru sekarang?"
"Karena saya pengecut."
"Tujuh tahun, Richard." Suaranya bergetar. "Tujuh tahun saya pikir saya cuma perempuan yang nggak cukup buat ditinggalin tanpa alasan."
"Saya tahu."
"Saya benci kamu waktu itu. Beneran benci."
"Saya juga membenci diri saya."
"Kamu tahu bagian yang paling bikin sakit?" Yura mengusap pipinya dengan punggung tangan. "Bukan kamu pergi. Tapi saya sempat nyalahin diri sendiri selama bertahun-tahun buat sesuatu yang bahkan bukan urusan saya."
Richard menunduk. "Kalau saya bisa mengulang, saya akan bicara. Apa pun risikonya."
"Nggak bisa diulang."
"Tidak bisa," akunya. "Makanya saya cuma bisa minta sisanya."
Yura menatapnya lama sekali. Lampu taman membuat wajah lelaki itu terlihat lebih tua dari umurnya, dan untuk pertama kalinya Yura melihat betapa banyak hal yang ditanggung orang ini tanpa pernah diletakkan.
Lalu ia menggenggam tangan Richard.
"Saya belum bisa melupakan semuanya," katanya.
"Saya tidak meminta kamu melupakan."
"Tapi saya mau mencoba lagi."
Richard tersenyum. Bukan senyum lega, melainkan senyum orang yang baru saja diberi sesuatu yang tidak ia sangka masih tersisa.
Mereka berpelukan di bawah lampu taman. Yura menyembunyikan wajahnya di bahu lelaki itu, dan Richard tidak berkata apa-apa lagi, hanya menahan pelukan itu lebih lama daripada yang diperlukan.
Angin malam lewat, membawa bau rumput basah dan sisa asap sate dari pedagang di ujung jalan. Entah sudah berapa lama mereka tidak merasa setenang itu.
"Besok kita masih harus urus kelanjutan sidang," kata Yura pelan, masih di bahunya.
"Besok," jawab Richard. "Malam ini tidak."
Di kejauhan, Raka bersandar di kap mobil, menunggu dengan sabar dan sengaja menghadap arah lain.
Ponselnya berdering.
Ia melirik layar. Nomor yang tidak dikenal, tetapi ia sudah tahu siapa. Hanya satu orang yang menghubunginya dari nomor berbeda setiap kali.
Mara.
Pesan itu masuk dari rumah tahanan, entah lewat siapa, dan isinya membuat Raka berdiri tegak.
Masih ada satu nama besar yang belum terungkap dalam jaringan itu. Nama yang tidak pernah disebut di ruang pemeriksaan, tidak pernah muncul di rekaman mana pun, dan tidak pernah ditulis di dokumen apa pun.
Raka membuka pesan lanjutannya.
Hanya satu kalimat.
"Ketua terakhir bukan manusia yang kalian kenal, melainkan yayasan yang selama ini kalian percaya."