Mara berbicara selama hampir empat jam di ruang pemeriksaan, dan tidak sekali pun ia meminta air.
Ia duduk tegak, tangannya tetap di atas meja, dan menjawab setiap pertanyaan dengan kalimat lengkap. Petugas yang mengetik sampai harus berganti dua kali karena jarinya pegal.
"Saya yang memperkenalkan Ardi kepada jaringan itu," katanya membuka.
"Dengan tujuan apa?"
"Melawan ayah Mia."
Ia menjelaskannya seperti orang yang menjelaskan strategi kerja. Waktu itu, katanya, tidak ada satu pun jalur resmi yang bisa menyentuh keluarga itu. Laporan hilang di meja. Saksi mencabut keterangan. Wartawan dipindahkan ke desk lain.
"Kalau kamu tidak bisa membongkar rumah dari luar," kata Mara, "kamu harus masuk dan menjadi penghuni."
"Dan kamu masuk."
"Kami berdua masuk."
Richard menonton dari balik kaca, tangannya bersedekap. Raka berdiri di sebelahnya, tidak bergerak sama sekali.
"Lalu apa yang terjadi?" tanya penyidik.
Mara diam sebentar untuk pertama kalinya.
"Saya menyadari jaringan itu bukan sekadar kuat. Jaringan itu nyaman," katanya. "Uangnya datang tanpa perlu ditagih. Orang-orang menunduk tanpa perlu diancam. Dan tidak ada satu pun yang bertanya dari mana asalnya."
"Jadi kamu berhenti melawan."
"Saya berhenti melawan, lalu saya mulai mengurus."
Ia mengakui semuanya dengan urutan yang rapi, seolah sudah lama disusun di kepalanya. Ia bekerja sama dengan paman Mia untuk mengendalikan perusahaan dari dalam. Ia mengatur siapa yang duduk di kursi mana. Ia menyiapkan dokumen yang suatu saat bisa dipakai untuk menekan siapa pun yang membangkang.
Lalu sampailah pada pertanyaan yang membuat seluruh ruangan berhenti bernapas.
"Apakah kamu yang memerintahkan kematian ayah Richard?"
"Tidak."
Penyidik menunggu.
"Saya tidak memerintahkannya," ulang Mara. "Tetapi saya tahu rencananya. Saya tahu malam keberapa. Saya tahu obat apa yang akan diganti."
"Dan kamu tidak menghentikannya."
Mara menatap meja.
"Saya tidak menghentikannya."
Di balik kaca, Richard merasakan sesuatu yang aneh: bukan ledakan marah, melainkan rasa dingin yang pelan-pelan naik dari perut ke tenggorokan. Selama berbulan-bulan ia membayangkan akan berteriak di depan orang yang mengakui kalimat itu. Nyatanya ia hanya berdiri, diam, dan merasa sangat lelah.
Raka yang bersuara lebih dulu, pelan sekali.
"Dia bahkan nggak bohong buat bikin dirinya kelihatan lebih baik."
"Karena bohong sekarang tidak ada gunanya," kata Richard. "Dia sedang menukar sesuatu."
Richard benar.
Menjelang sore, Mara menyerahkan apa yang ia bawa: sebuah kartu memori kecil yang selama ini ia simpan di jahitan tas.
Isinya rekaman pertemuan rahasia. Bertahun-tahun, di banyak tempat. Ruang rapat hotel, restoran, bahkan mobil.
Di salah satu rekaman, ayah Mia terdengar berbicara tentang dana yang mengalir dari pejabat tinggi ke rekening yayasan, lengkap dengan potongan untuk masing-masing pihak. Di rekaman lain, ada nama-nama yang selama ini hanya muncul di acara peresmian dan berita amal.
Penyidik memutar tiga file pertama, lalu berhenti dan memanggil atasannya. Setelah file keempat, atasannya memanggil atasannya lagi.
"Kenapa kamu simpan semua ini?" tanya penyidik.
"Karena di jaringan seperti itu, satu-satunya hal yang membuat kamu tetap hidup adalah kemampuan menghancurkan orang lain," jawab Mara. "Rekaman ini bukan bukti. Ini asuransi."
"Dan sekarang kamu menyerahkannya."
"Sekarang saya tidak punya apa pun lagi yang perlu diasuransikan."
Malam itu juga, kasus yang tadinya bernama kematian seorang pengusaha berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Mara ditangkap secara resmi pukul delapan lewat.
Ia tidak melawan. Ia berdiri, merapikan lengan blazernya, dan menoleh kepada petugas.
"Boleh saya bicara dengan anak saya? Satu menit."
Petugas melihat ke arah Richard. Richard melihat ke arah Raka.
Raka berjalan masuk sendiri.
Mereka berdiri berhadapan di tengah ruangan, dengan jarak dua langkah yang tidak dilewati siapa pun.
"Kamu tidak bertanya kenapa aku menyerahkan rekaman itu," kata Mara.
"Gue nggak peduli kenapa."
Mara mengangguk. Sudut matanya berkerut sedikit, dan untuk sepersekian detik wajahnya terlihat seperti wajah perempuan biasa yang lelah, bukan seperti nama yang membuat orang-orang ketakutan selama bertahun-tahun.
"Kamu boleh membenciku," katanya. "Tapi jangan menjadi seperti saya."
Raka tidak menjawab.
Ia hanya memalingkan wajah, menatap dinding di samping, dan bertahan di posisi itu sampai suara langkah Mara menjauh, sampai pintu ditutup, sampai tidak ada lagi yang perlu ditahan.
Yura menunggunya di lorong. Ia tidak bertanya apa-apa, hanya menyodorkan botol air, dan Raka menerimanya.
Mereka duduk berdampingan di kursi besi yang dingin, mendengarkan bunyi mesin fotokopi dari ruang sebelah.
"Gue kira bakal lega," kata Raka.
"Nggak lega?"
"Kosong." Ia memutar tutup botol itu bolak-balik. "Kayak nyari sesuatu bertahun-tahun, terus pas ketemu, ternyata isinya bukan yang gue cari."
Dalam dua minggu berikutnya, semuanya bergerak cepat.
Bukti Mara membuat perkara itu berkembang menjadi penyelidikan nasional. Nama-nama pejabat mulai dipanggil. Dua pengusaha besar dicegah bepergian ke luar negeri. Sebuah lembaga yang selama ini rutin muncul di iklan layanan masyarakat mendadak menutup akun media sosialnya.
Berita berganti setiap jam. Dan di antara semua nama itu, nama perusahaan Richard ikut disebut-sebut, meskipun dalam posisi sebagai korban.
Dewan perusahaan memanggil Richard dalam rapat tertutup.
"Saham kita turun sebelas persen," kata salah satu anggota dewan. "Dua mitra menunda kontrak. Publik tidak membaca detail, mereka hanya membaca nama."
"Saya tahu."
"Kami butuh langkah nyata, bukan pernyataan pers."
"Langkah nyatanya sedang berjalan di pengadilan," kata Richard. "Dan saya tidak akan meminta siapa pun menghentikannya demi harga saham."
Ruangan itu hening. Tidak ada yang bertepuk tangan, tetapi juga tidak ada yang membantah.
Dulu, Richard akan menghadapi rapat semacam itu sendirian, pulang lewat tengah malam, dan tidak bercerita kepada siapa pun.
Kali ini tidak.
Malamnya, di kantor Cantika Wedding Organiser yang lampunya masih menyala, Yura menggelar tiga papan tulis kecil dan memanggil seluruh timnya.
"Kita nggak bisa melawan berita," katanya. "Tapi kita bisa bikin orang punya alasan buat datang sendiri dan lihat."
Timnya menyusun konsep sepanjang malam: sebuah acara amal, terbuka untuk umum, dengan seluruh laporan dana yang bisa diperiksa siapa pun. Bukan gala makan malam berpiring emas, melainkan acara yang orang biasa pun bisa masuk.
"Kita tulis semua angkanya di dinding," kata Yura. "Pemasukan, pengeluaran, sisa. Biar orang bosan membacanya. Yang bikin orang percaya itu bukan pidato, tapi angka yang berani dipajang."
Richard berdiri di ambang pintu ruangan itu, memandang perempuan yang berdiri di depan papan sambil menggigit ujung spidol, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia merasa masalahnya bukan lagi miliknya sendirian.