Hasil tes DNA keluar enam hari kemudian.
Amplopnya dibuka di ruang tunggu rumah sakit, di lantai dua, di dekat jendela yang menghadap tempat parkir. Richard yang memegang kertasnya, tetapi Raka yang membacanya lebih dulu, berdiri, tanpa duduk sedikit pun.
Isinya tidak panjang. Beberapa baris angka, satu tabel, dan satu kesimpulan yang tidak bisa ditawar.
Raka bukan anak ayah Richard.
Ia putra Ardi dan Mara.
Ayah Richard hanya melindunginya selama ini karena pernah berjanji kepada saudaranya — sebuah janji yang dibuat bertahun-tahun sebelum Raka cukup besar untuk mengerti bahwa hidupnya sedang diatur oleh orang-orang yang tidak pernah menjelaskan apa pun kepadanya.
"Boleh gue simpan?" tanya Raka.
Richard menyerahkan kertas itu.
Raka melipatnya menjadi empat, memasukkannya ke saku, lalu berjalan ke arah lift.
"Raka."
"Gue mau cari udara."
Yura menahan lengan Richard yang hendak menyusul.
"Kasih dia sepuluh menit," katanya. "Kalau lo kejar sekarang, dia bakal ngerasa lagi-lagi ada orang yang ngatur hidupnya."
Richard menurut. Ia duduk kembali, memandangi kursi kosong di seberangnya, dan menghitung menit di jam dinding ruang tunggu.
Setengah jam kemudian, ponselnya tidak aktif. Mobilnya masih di tempat parkir, tetapi orangnya tidak ada di mana pun di gedung itu.
Yura yang ingat.
"Sungai," katanya. "Dia pernah cerita, tiap kali kepalanya penuh, dia duduk di tanggul dekat jembatan lama."
Richard menemukannya di sana, menjelang sore, duduk di beton miring dengan sepatu yang sudah kotor lumpur.
Air sungai di bawah mereka berwarna cokelat susu, membawa potongan ranting dan sampah plastik. Di seberang, anak-anak main bola di lapangan yang tanahnya retak.
Richard duduk di sebelahnya tanpa bertanya apa-apa untuk waktu yang cukup lama.
"Gue ngitung," kata Raka akhirnya. "Dua puluh delapan tahun. Dikurangi tiga tahun waktu gue belum ngerti apa-apa. Sisanya dua puluh lima tahun gue hidup pakai cerita yang salah."
"Kamu tetap saudara saya," kata Richard.
Raka tertawa pendek, kering, tanpa kegembiraan sedikit pun.
"Saya bukan saudaramu."
"Hubungan bukan hanya soal darah."
"Gampang ngomong gitu kalau lo yang punya nama." Raka melempar kerikil ke air. "Gue bahkan nggak tahu gue ini siapa sekarang. Gue benci ayah lo selama bertahun-tahun. Gue simpan itu tiap malam. Dan ternyata dia bukan siapa-siapa buat gue."
Ia berhenti, menarik napas, dan suaranya pecah di kalimat berikutnya.
"Saya menghabiskan hidup membenci orang yang tidak pernah menjadi ayah saya."
Angin sungai membawa bau lumpur dan asap dari pembakaran sampah di kejauhan. Anak-anak di seberang berteriak karena bola masuk gawang.
Richard tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya memeluk Raka. Tidak erat, tidak memaksa, hanya satu lengan di bahu, seperti orang yang memberi tahu bahwa ia tidak akan pergi dari tempat itu sampai yang dipeluk siap berdiri.
Raka tidak membalas. Tetapi ia juga tidak melepaskan diri.
"Gue nggak tahu mau manggil lo apa sekarang," katanya, suaranya teredam.
"Panggil saja seperti biasa."
"Dulu gue manggil lo begitu karena gue pikir kita satu darah."
"Sekarang panggil saja karena kamu mau."
Mereka duduk seperti itu sampai matahari turun ke belakang deretan rumah, dan lampu jalan menyala satu per satu.
"Gue laper," kata Raka akhirnya.
"Saya traktir."
"Yang mahal."
"Yang mahal."
Malam itu Raka kembali bersama mereka.
Pesan itu masuk dua hari kemudian, ke nomor pribadi Raka, dari nomor yang tidak terdaftar.
Isinya undangan.
Mara ingin bertemu. Di rumah perlindungan anak yang sama. Raka harus datang seorang diri. Sebagai gantinya, ia akan mendapat jawaban tentang alasan perempuan itu meninggalkannya.
Raka membacanya di dapur, dan langsung mengambil kunci mobil.
"Jangan," kata Richard.
"Dia ibu gue."
"Dia juga orang yang menanam kamera di kamar Livia."
"Gue nggak peduli."
"Saya peduli." Richard berdiri di depan pintu. "Kalau kamu masuk ke sana sendirian, kita kehilangan dua hal sekaligus: kamu, dan satu-satunya kesempatan membuat dia bicara di tempat yang sah."
Raka berdiri diam lama sekali, kunci mobil masih di tangannya. Lalu ia menaruhnya di meja dapur dengan bunyi berdenting kecil.
"Atur," katanya. "Tapi gue yang duduk di depan dia."
Pertemuan disiapkan dua hari kemudian, dengan pengawalan. Enam petugas berpakaian biasa tersebar di sekitar rumah perlindungan. Anak-anak dipindahkan ke bangunan belakang. Ruang tamu dikosongkan, hanya menyisakan dua kursi kayu dan satu meja.
"Aturannya satu," kata penyidik sebelum mulai. "Kalau dia berdiri, kita masuk. Kalau dia bicara, biarkan dia bicara sampai habis. Orang seperti dia paling banyak keceplosan justru waktu merasa sedang mengendalikan pembicaraan."
Raka mengangguk tanpa melepas pandang dari pintu.
Mara datang tepat waktu.
Ia datang tanpa senjata, tanpa pengacara, tanpa siapa pun. Rambutnya disanggul rapi, blazernya abu-abu, dan ia berjalan seperti orang yang sudah tahu bagaimana adegan ini akan berakhir.
Yang membuat Yura merinding bukan wajahnya. Melainkan caranya berhenti di ambang pintu, memandang Raka dari atas ke bawah, lalu tersenyum kecil seperti orang yang menemukan barang lama.
"Kamu tinggi," kata Mara. "Seperti ayahmu."
Raka tidak bangkit dari kursinya.
"Duduk," katanya. "Dan jawab."
Mara duduk. Ia melipat tangannya di atas meja.
"Kamu ditinggalkan bukan karena aku tidak mau," katanya. "Saat itu Ardi berada dalam bahaya. Orang-orang yang mencarinya tahu dia punya anak. Kalau kamu tinggal bersama kami, kamu akan jadi alat tawar pertama."
"Ayah Richard bisa menjaga gue."
"Tidak bisa." Mara menggeleng pelan. "Dia sendiri sedang diancam waktu itu. Dia menjaga perusahaannya, menjaga anaknya, dan mencoba menjaga kamu. Terlalu banyak. Aku memilih membawamu jauh dari semuanya."
"Dengan bikin gue percaya lo udah mati."
Mara diam beberapa detik.
"Aku memilih menyelamatkanmu dengan cara yang salah," katanya.
Raka menatap perempuan di depannya, ibunya, orang yang selama dua puluh delapan tahun hanya berupa foto di dalam bingkai berdebu.
"Gue nggak maafin lo," katanya. "Mungkin nggak akan pernah."
Mara mengangguk, seolah itu jawaban yang sudah ia siapkan.
"Tapi," lanjut Raka, dan suaranya turun satu tingkat, "kalau lo masih punya satu hal baik yang tersisa, serahin diri lo. Bukan buat gue. Buat semua orang yang nggak sempat lo kasih penjelasan."
Ruangan itu hening. Di luar, terdengar suara anak-anak dari bangunan belakang, tertawa karena sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan apa pun di ruangan ini.
Mara menatap tangannya sendiri di atas meja.