Richard tidak menunggu sampai besok.
Malam itu juga ia meminta polisi mengamankan ketiga lokasi yang ditandai merah di peta. Tiga tim berangkat bersamaan, dan Richard memilih ikut ke lokasi terakhir, yang paling membuatnya tidak bisa diam.
Di rumah sakit, tim pertama menemukannya dalam empat puluh menit.
Sebuah kamera sebesar kancing baju, tertanam di celah ventilasi tepat di atas ranjang Livia. Kabelnya disamarkan menjadi bagian dari sistem pendingin. Petugas mengatakan alat itu sudah terpasang setidaknya sejak sebelum Livia dipindahkan ke kamar itu.
Artinya, seseorang tahu Livia akan dipindahkan ke sana sebelum keputusan itu diambil.
Di kantor Richard, tim kedua menemukan sesuatu yang lebih dingin lagi. Di ruang server lantai dasar, di antara rak-rak yang biasa dibersihkan setiap Jumat, berdiri satu unit tambahan yang tidak pernah tercatat di inventaris mana pun.
Isinya salinan dokumen perusahaan. Bukan dokumen asli, melainkan versi yang sudah diubah: angka digeser, tanggal dimundurkan, tanda tangan ditempel.
"Ini bukan untuk mencuri," kata Raka, menatap layar. "Ini disiapkan supaya suatu saat bisa dipakai untuk menuduh lo."
"Menuduh apa?"
"Apa aja." Raka menggulir layar. "Penggelapan, penghindaran pajak, transaksi fiktif. Semua sudah dirapikan. Tinggal dikirim ke penyidik yang tepat di hari yang tepat, dan lo bakal sibuk membela diri selama dua tahun."
Richard berdiri diam di ruang server yang dingin itu. Alat pendingin berdengung, dan untuk pertama kalinya ia merasa kantornya sendiri bukan miliknya.
Dan di rumah Yura, tim ketiga berdiri lama di depan pagar samping.
Yura berjongkok, menyorotkan senter ke bagian bawah pagar besi yang dulu ia pikir rusak karena tersenggol motor tetangga. Lubangnya kecil, rapi, dan jelas dibuat dengan alat.
"Selebar telapak tangan," katanya. "Cukup buat masukin amplop."
Petugas menemukan satu paket terselip di balik pot, sudah lembap karena embun semalam.
Mereka membukanya di teras, di bawah lampu kuning yang mengundang laron.
Isinya foto.
Foto Mama Yura, diambil dari seberang jalan. Perempuan itu sedang menutup pagar rumah, memakai daster batik yang Yura kenal betul, dengan kantong plastik sayur di tangan kiri.
Di belakang foto ada tulisan tangan yang rapi. Pendek. Tanpa ancaman langsung, dan justru itu yang membuatnya jauh lebih menakutkan.
Yura adalah titik lemah Richard.
Richard membaca kalimat itu, dan rahangnya mengeras.
"Dia tidak akan berhenti," katanya.
Yura tidak menjawab. Ia membalik foto itu, menatap wajah ibunya beberapa detik, lalu menatap kertas di tangannya.
Kemudian ia merobeknya. Sekali, dua kali, sampai kertas itu jadi potongan-potongan kecil di telapak tangannya.
"Gue bukan titik lemah siapa pun," katanya.
"Yura—"
"Gue serius." Suaranya bergetar, tetapi tidak surut. "Gue capek jadi alasan orang buat nakut-nakutin lo. Mereka pikir gue bagian yang gampang dipatahkan. Ya udah, silakan coba."
"Mereka nggak main-main."
"Gue juga nggak." Yura menoleh ke arah rumah ibunya, ke jendela yang lampunya masih menyala. "Besok gue minta Mama nginep di rumah Tante Ratmi seminggu. Bukan karena gue takut. Karena gue nggak mau dia jadi bagian dari urusan ini."
Richard menatapnya lama. Laron berputar di sekitar lampu. Dari dalam rumah terdengar suara televisi tetangga.
"Kamu alasan saya terus bertahan," kata Richard.
Yura terdiam.
Ada banyak hal yang bisa ia jawab. Bahwa ia belum siap. Bahwa dulu kalimat seperti itu keluar dari mulut yang sama, lalu orangnya pergi tanpa kabar selama bertahun-tahun. Bahwa hatinya sudah terlalu sering dipakai sebagai bahan pertimbangan orang lain.
Tetapi yang ia lakukan hanya menunduk, menuang serpihan kertas itu ke tempat sampah, dan menepuk tangannya sampai bersih.
"Kita masuk," katanya. "Dingin di luar."
Hubungan mereka semakin dekat sejak malam-malam seperti itu. Mereka makan bersama hampir setiap hari, saling menelepon sebelum tidur, dan Richard hafal urutan lagu yang Yura putar saat lembur.
Tetapi belum ada satu pun dari mereka yang berani menyebutnya sebagai cinta. Kata itu terlalu berat untuk dua orang yang pernah dijatuhkan olehnya.
Dua hari kemudian, Raka menemukan celah.
Ia menelusuri pola transaksi Maya Ratri, bukan yang besar, melainkan yang kecil dan berulang. Yang besar selalu disamarkan. Yang kecil biasanya lupa disembunyikan.
"Ada pembayaran rutin setiap tanggal lima," katanya. "Jumlahnya sama persis selama enam tahun. Penerimanya rumah perlindungan anak di luar kota."
"Yayasan lagi?" tanya Yura.
"Bukan. Ini rumah kecil. Legal. Dua puluh anak, empat pengasuh."
Richard menatapnya. "Kenapa dia membayar tempat seperti itu?"
Raka tidak menjawab, tetapi tangannya sudah meraih kunci mobil.
Perjalanan memakan waktu tiga jam. Rumah itu berdiri di ujung jalan desa, temboknya dicat hijau muda, halamannya penuh sandal kecil yang berjejer tidak rapi.
Anak-anak sedang belajar mengaji di ruang depan ketika mereka masuk. Suaranya berhenti sebentar, lalu lanjut lagi setelah pengurusnya mengangkat tangan.
Pengurusnya, perempuan berumur enam puluhan, menerima mereka tanpa banyak bertanya. Ia bahkan tampak lega.
"Saya sudah menunggu ada yang datang," katanya. "Bertahun-tahun."
Ia membawa mereka ke ruang belakang, membuka lemari kayu, dan mengeluarkan satu map yang disimpan terpisah dari berkas anak-anak lain.
Di dalamnya ada dokumen adopsi.
Nama di lembar pertama: Raka.
Raka membuka map itu dengan tangan yang tidak stabil. Ada fotokopi akta, ada surat pernyataan, ada tanda tangan yang sudah pudar.
Dan di lipatan paling belakang, terselip sebuah surat yang ditulis tangan.
Tulisan yang sama dengan yang mereka lihat di rekaman: rapi, miring ke kanan, hurufnya tegas.
Surat dari Mara.
Raka membacanya sendiri, tanpa suara. Yura melihat bahu lelaki itu naik sekali, lalu diam terlalu lama.
Dalam surat itu Mara menulis bahwa Raka adalah anak Ardi. Bukan anak hasil hubungannya dengan ayah Richard.
Raka tertegun.
Selama ini ia mengira dirinya saudara kandung Richard melalui ayah yang sama. Seluruh kemarahannya, seluruh usahanya membantu penyelidikan, seluruh alasan ia merasa berhak berdiri di ruangan itu, dibangun di atas satu kalimat yang ternyata tidak pernah benar.
"Nggak mungkin," katanya pelan. "Ini bisa aja dia bohong lagi."
Elena mengambil surat itu dan membacanya dua kali. Wajahnya berubah, bukan karena terkejut, melainkan karena sesuatu yang akhirnya masuk akal.
"Dia pernah berbohong kepada semua orang," katanya. "Kepada ayah Richard, kepada Ardi, bahkan kepada dirinya sendiri. Pertanyaannya sekarang bukan siapa yang dia bohongi."
Ia menaruh surat itu di meja.
"Tapi kebohongan mana yang dia simpan untuk dipakai terakhir."