Raka duduk lama setelah mendengar nama ibunya disebut.
Ia tidak menangis, tidak berteriak, tidak bertanya apa-apa lagi. Ia hanya duduk di kursi plastik di lorong kantor polisi, punggungnya membungkuk, kedua tangannya menggantung di antara lutut. Lampu neon di atasnya berdengung pelan.
Yura membawakan air mineral. Raka menerimanya, tetapi tidak membukanya sampai botolnya berkeringat dan meninggalkan lingkaran basah di lantai.
"Gue selalu dikasih tahu dia meninggal waktu gue masih bayi," katanya akhirnya. "Ada fotonya. Ada tanggalnya. Ada kuburannya."
"Raka—"
"Gue bahkan hafal bacaannya."
Yura duduk di sebelahnya dan tidak mencoba menghibur. Ada jenis luka yang justru bertambah kalau ditimpa kalimat penghibur.
Elena yang akhirnya berbicara, pagi itu juga, di ruang rapat kecil dengan meja bundar dan papan tulis yang masih penuh coretan kasus.
"Saya pernah melihat Mara," katanya. "Bertahun-tahun lalu. Di sebuah acara di Surabaya. Waktu itu saya pikir saya salah orang."
"Kenapa kamu diam?" tanya Richard.
"Karena semua orang di keluarga ini yakin dia sudah meninggal. Saya pikir kalau saya bicara, saya cuma akan membuka luka yang sudah ditutup." Elena menatap Raka. "Saya minta maaf."
Raka tidak menjawab.
Elena melanjutkan, dan ceritanya membuat ruangan itu semakin dingin.
Mara meninggalkan Raka kepada keluarga angkat ketika bayi itu belum genap setahun. Ia lalu bekerja bersama Ardi — awalnya, kata Elena, dengan niat yang justru berlawanan dari yang dituduhkan sekarang. Mereka ingin membongkar kejahatan ayah Mia. Mereka mengumpulkan dokumen, mencatat nama, mendekati orang dalam.
"Lalu apa yang berubah?" tanya Yura.
"Uang," jawab Elena. "Mereka menemukan bahwa jaringan itu bukan hanya busuk, tetapi juga sangat kaya. Ardi berhenti di tengah. Mara tidak."
"Jadi dia tahu semua pintunya," kata Richard pelan. "Karena dia yang dulu memetakannya."
"Bukan cuma pintunya," kata Elena. "Dia tahu siapa yang berdiri di depan tiap pintu, siapa yang bisa dibeli, dan berapa harganya. Itu sebabnya jaringan itu tidak pernah bisa dibongkar dari luar."
Raka mengangkat kepalanya untuk pertama kali sejak masuk ruangan.
"Terus kenapa dia ninggalin gue?" tanyanya. "Kalau dia sepintar itu, kenapa satu bayi nggak bisa dia urus?"
Elena membuka mulut, lalu menutupnya lagi. "Itu satu-satunya pertanyaan yang saya tidak punya jawabannya."
Sejak siang itu, Richard menghubungi setiap sumber yang masih mau mengangkat teleponnya: mantan auditor perusahaan, wartawan ekonomi, dua orang bekas rekan ayahnya, dan seorang penyelidik swasta yang dulu ditolak ayahnya.
Penyelidik swasta itu menelepon balik menjelang magrib, dan suaranya di telepon terdengar seperti orang yang sedang memilih kata.
"Saya pernah diminta mencari perempuan ini tahun dua ribu dua puluh," katanya. "Klien saya waktu itu ayah Anda."
Richard menahan napas. "Dan?"
"Saya berhenti setelah tiga minggu. Bukan karena tidak ketemu. Karena istri saya mulai ditelepon orang yang tahu jam pulang anak saya."
Hasilnya datang potongan demi potongan, dan semuanya mengarah ke satu hal yang sama.
Mara tidak hidup dengan satu nama.
Ada paspor atas nama berbeda di tiga negara. Ada rekening yang dibuka dengan identitas yang tidak pernah wafat maupun lahir secara sah. Dan ada satu nama yang muncul paling sering, paling rapi, paling terawat.
Maya Ratri. Konsultan investasi.
Yura yang menemukan potongan terakhirnya, larut malam, sambil membuka arsip lama Cantika yang pernah menangani acara korporat.
"Richard," panggilnya, suaranya aneh. "Lihat ini."
Di layar ada daftar tamu sebuah peluncuran proyek. Nama perusahaan Richard ada di baris paling atas sebagai tuan rumah. Dan di daftar penasihat, di antara nama-nama yang terdengar biasa saja, tercetak: Maya Ratri.
"Proyek Delta," kata Richard. "Empat tahun lalu. Ayah saya masih hidup."
"Berarti dia bukan baru masuk," kata Raka. "Dia sudah di dalam sebelum kita tahu dia ada."
Richard menatap layar itu tanpa berkedip. Ia teringat rapat-rapat yang berjalan terlalu lancar, keputusan yang selalu bocor lebih dulu ke pihak lain, dan orang-orang yang tiba-tiba berpindah posisi tanpa alasan jelas.
"Dia menanam orang," katanya. "Bertahun-tahun. Di kantor saya sendiri."
Kantor konsultan itu berada di lantai sebelas sebuah gedung tua di kawasan bisnis lama. Liftnya berdentang setiap kali berhenti.
Mereka datang pagi-pagi bersama dua petugas. Pintu kaca bertuliskan nama firma itu tidak dikunci.
Di dalam, ruangan itu kosong.
Bukan kosong dalam arti berantakan. Kosong dalam arti rapi yang menakutkan: meja-meja bersih, kursi didorong masuk, lemari arsip dibiarkan terbuka tanpa satu map pun tertinggal. Bahkan tempat sampahnya sudah diganti kantong baru.
"Mereka pergi paling lama dua hari lalu," kata petugas. "Debunya belum turun."
Yura berjalan pelan di antara meja. Bau ruangan itu masih bau pengharum ruangan, bukan bau gedung kosong.
"Aneh," gumamnya.
"Apanya?"
"Kalau orang kabur buru-buru, pasti ada yang ketinggalan. Kabel, gelas kotor, kertas nyangkut di printer." Ia menunjuk sekeliling. "Ini bukan kabur. Ini pindahan yang direncanakan."
Lalu sebuah layar di ujung ruangan menyala sendiri.
Semua orang berhenti.
Di layar itu ada seorang perempuan duduk menyamping, memakai blazer abu-abu, rambut disanggul rapi. Wajahnya tidak sepenuhnya menghadap kamera, tetapi cukup untuk membuat Raka mundur setengah langkah tanpa sadar.
Rekaman itu sedang berbicara kepada seseorang di luar bingkai.
"Kalian selalu terlambat," kata Mara dalam rekaman. "Kebenaran tidak akan menyelamatkan keluarga kalian."
Suaranya tenang. Tidak mengancam, tidak meninggi. Justru itu yang membuat bulu kuduk Yura berdiri.
Rekaman berhenti sendiri, layar kembali hitam, dan ruangan itu hening sampai suara lift terdengar dari kejauhan.
Raka mengepalkan tangan sampai buku jarinya memutih.
"Dia ingin kita mengejarnya," katanya.
"Kenapa?" tanya Yura.
"Karena selama kita mengejar, kita nggak sempat memeriksa hal lain."
Richard membuka laci meja paling besar. Kosong. Ia membuka laci kedua. Juga kosong.
Namun di atas meja, tertindih sebuah gelas kaca yang masih bersih, ada selembar peta kota yang dilipat rapi.
Ia membukanya perlahan.
Tiga titik ditandai dengan spidol merah, dilingkari dua kali, dengan garis tipis yang menghubungkan ketiganya.
Rumah sakit tempat Livia dirawat.
Kantor Richard.
Dan rumah Yura.
Yura melangkah mundur satu langkah. Kertas itu bahkan dilipat dengan sudut yang presisi, seperti dokumen kerja, bukan seperti sesuatu yang ditinggalkan karena lupa.
Richard menaruh telapak tangannya di punggung perempuan itu, tetapi tidak ada yang bisa ia katakan. Peta itu bukan peringatan. Peta itu laporan pekerjaan yang sengaja ditinggalkan supaya dibaca.
Mara telah mengawasi semua orang sejak awal.