Elena tidak menyembunyikan pesan itu.
Pagi-pagi sekali ia datang ke kantor polisi, menaruh ponselnya di meja penyidik, dan membuka layarnya sendiri.
"Saya bisa saja menghapusnya," katanya. "Tapi saya sudah melihat apa yang terjadi kepada orang-orang yang menyimpan rahasia di keluarga ini."
Penyidik membaca pesan itu dua kali, lalu memanggil dua orang lain ke ruangan.
Richard datang setengah jam kemudian, masih memakai kemeja yang sama dengan semalam. Yura menyusul, membawa dua gelas kopi yang akhirnya tidak disentuh siapa pun.
"Kita tidak akan membebaskan Ardi," kata penyidik. "Tapi Hendra tidak perlu tahu itu sampai dia berdiri di depan kita."
"Jadi Elena dipakai sebagai umpan," kata Richard.
"Elena yang menawarkan diri," potong Elena. "Dan saya tidak akan mundur."
Lokasi pertemuan ditentukan malam berikutnya: gudang tua di kawasan pergudangan lama, bangunan yang atapnya sudah bolong di beberapa titik. Polisi memasang kamera tersembunyi di empat sudut, satu di balik tiang, satu di dalam kotak sekring, dua lagi di antara tumpukan drum kosong.
Sore harinya, mereka menguji semua alat. Suara Elena terdengar jernih di layar monitor di dalam van yang diparkir dua blok dari sana.
"Kalau dia minta kamu keluar dari gudang, jangan ikut," kata Richard sebelum Elena masuk. "Apa pun alasannya."
"Saya tahu."
"Elena."
Perempuan itu menoleh.
"Terima kasih," kata Richard.
Elena tidak menjawab, hanya mengangguk sekali, lalu berjalan masuk ke dalam bangunan yang berbau debu dan oli tua.
Di dalam van, Yura duduk paling ujung, memeluk tas di pangkuannya. Layar monitor menampilkan empat kotak gambar hitam putih yang nyaris tidak bergerak.
"Berapa lama biasanya?" tanyanya.
"Tergantung orangnya," jawab penyidik. "Yang seperti dia biasanya datang lebih cepat dari janji, supaya dia yang memilih tempat berdiri."
Yura melirik jam di sudut layar. Pukul delapan lewat lima puluh.
Hendra datang pukul sembilan lewat dua puluh, lebih cepat dari yang dijanjikan.
Ia tidak terlihat seperti buron. Kemejanya rapi, rambutnya disisir, dan ia berjalan seperti orang yang sedang masuk ke ruang rapat. Di tangannya ada kotak kecil dari logam, sebesar kotak sepatu anak-anak.
"Kamu datang sendiri," katanya. "Bagus."
"Apa isi kotak itu?"
"Dokumen asli." Hendra meletakkan kotak itu di atas drum, tetapi tangannya tetap di atasnya. "Yang membuktikan ayah Mia yang memerintahkan kematian ayah Richard. Bukan saya. Saya hanya tangan."
"Tangan tetap bisa dihukum."
Hendra tersenyum tipis. "Makanya saya menawar."
"Kenapa sekarang?" tanya Elena. "Kenapa bukan tiga tahun lalu, waktu semua orang masih percaya bahwa itu kematian biasa?"
"Karena tiga tahun lalu saya masih dibayar." Hendra mengetuk kotak itu dengan jari telunjuk. "Sekarang yang membayar saya sudah duduk di kursi terdakwa. Orang seperti saya cuma punya dua pilihan: jadi saksi, atau jadi nama yang hilang."
"Dan Ardi?"
"Ardi berutang nyawa kepada saya. Saya cuma menagih."
"Serahkan kotaknya," kata Elena.
"Bebaskan Ardi dulu."
"Saya bukan hakim."
"Tapi kamu bisa bicara kepada orang-orang yang mendengarkan hakim."
Di dalam van, penyidik mengangkat tangan. Tim di sekeliling gudang mulai bergerak, pelan, satu langkah setiap beberapa detik.
Namun Hendra tidak pernah menjadi kepala keamanan selama sepuluh tahun karena keberuntungan.
Matanya menangkap sesuatu di kaca jendela yang retak: sebuah pantulan kecil, bulat, dan tidak seharusnya ada di sana.
Ia menembak lampu di atas mereka tanpa berkata apa-apa.
Ruangan itu langsung gelap. Pecahan kaca jatuh seperti hujan di lantai beton, dan suara Elena hilang sesaat dari monitor.
"Masuk! Masuk sekarang!"
Dalam kegelapan, Elena merasakan sesuatu didorong ke dadanya. Kotak logam itu. Dingin dan berat.
"Saya tidak berbohong soal isinya," bisik Hendra, sangat dekat di telinganya. "Saya cuma tidak pernah niat menyerah malam ini."
Lalu langkahnya menjauh, cepat, ke arah pintu belakang.
Polisi mengejar. Lampu senter berpotongan di udara berdebu. Richard berlari masuk, menemukan Elena berdiri kaku di tengah ruangan, memeluk kotak itu dengan kedua tangan.
"Kamu terluka?"
Elena menggeleng. "Buka," katanya. "Buka sekarang, sebelum ada yang bilang kita harus menunggu prosedur."
Kotak itu dibuka di atas kap mobil, di bawah lampu sorot. Isinya sedikit: dua lembar dokumen bank, satu berkas fotokopi, dan sebuah perekam suara kecil model lama.
Richard menekan tombol putar.
Suara ayah Mia keluar dari alat itu. Tenang, datar, tanpa ragu sedikit pun. Ia menyebut nama obat, menyebut dosis, menyebut malam keberapa penggantian harus dilakukan. Ia bahkan sempat tertawa kecil ketika mengatakan bahwa tidak ada yang akan memeriksa rekam medis orang yang sudah divonis sakit berat.
Yura menutup mulutnya. Elena menunduk.
Richard tidak bergerak sampai rekaman itu habis.
Bukti itu cukup. Cukup untuk memindahkan nama ayah Mia dari daftar saksi ke baris paling atas: dalang utama.
Hendra tertangkap empat puluh menit kemudian di dekat pelabuhan, di gang sempit antara dua gudang ikan, setelah Raka memutar mobilnya melintang dan menutup satu-satunya jalur keluar.
Ia tidak melawan. Ia bahkan mengulurkan kedua tangannya lebih dulu.
Di ruang pemeriksaan, ia mengaku lebih cepat dari yang siapa pun duga.
"Saya bekerja atas perintah ayah Mia," katanya. "Sejak awal."
"Hanya dia?"
Hendra menggeleng. "Ada yang di atas dia."
Ruangan itu hening. Richard berdiri di balik kaca, tangannya mengepal di saku.
"Siapa orang terakhir itu?" tanya penyidik.
Hendra menyebut sebuah nama yang membuat Richard terdiam.
"Mara."
Di sebelah Richard, Raka menoleh pelan, seperti orang yang berharap salah dengar.
Mara adalah ibu kandung Raka. Perempuan yang selama ini dianggap telah meninggal sejak Raka masih bayi.
"Ibuku masih hidup?" suaranya nyaris tidak terdengar.
Raka menarik napas seperti orang yang baru saja naik dari air. Ia menoleh ke kaca, ke wajah Hendra yang tenang di ruang sebelah, lalu ke Richard, lalu ke lantai.
"Dua puluh delapan tahun," katanya. "Dua puluh delapan tahun gue ziarah ke makam yang isinya entah siapa."
Elena berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat seperti kertas.
"Mara bukan hanya korban," katanya. "Dia adalah orang yang memperkenalkan Ardi kepada jaringan itu."
Richard merasakan seluruh rahasia keluarganya kembali terbuka, satu per satu, seperti pintu-pintu yang sudah lama ia kira terkunci.
Di luar kantor polisi, langit sudah hampir terang. Yura menunggu di anak tangga, memeluk lututnya sendiri, dengan wajah cemas.
Ia berdiri begitu melihat Richard keluar.
"Gimana?"
"Kita belum selesai," kata Richard.
Yura menatapnya lama. Lalu ia mengangguk.
"Kalau begitu, kita hadapi bersama."
Untuk pertama kalinya, Richard tersenyum tanpa beban.