Kasus kematian ayah Richard akhirnya masuk ke proses hukum.
Berkasnya setebal dua jengkal, ditumpuk di meja penyidik bersama map-map lain yang warnanya sudah kusam. Setiap pagi selama dua minggu, ruang pemeriksaan itu dipakai bergantian oleh orang-orang yang dulu duduk satu meja saat hari raya.
Mama Richard memberi kesaksian pertama, dengan kacamata hitam yang tidak ia lepas sampai keluar gedung. Paman Mia datang dengan dua pengacara. Satrio bicara paling lama, hampir empat jam, dan keluar dengan wajah seperti orang yang baru menurunkan karung dari punggungnya.
Ardi memberi kesaksian dari kursi roda, bahunya masih dibalut.
Hanya Hendra yang belum tertangkap. Namanya ada di daftar buron, fotonya ditempel di pos-pos polisi, tetapi jejaknya berhenti di pelabuhan.
Di luar gedung, wartawan berdiri sejak pukul tujuh pagi. Mereka meneriakkan pertanyaan yang sama setiap hari, dan setiap hari Richard melewati mereka tanpa menjawab.
"Sekali lo jawab satu, besok mereka datang lima puluh," kata Yura waktu itu. "Biarin persidangan yang ngomong."
Richard mulai punya kebiasaan baru: setiap Selasa dan Jumat, ia datang ke rumah tahanan.
Ruang besuknya sempit, catnya hijau muda yang sudah mengelupas di sudut, dan selalu berbau karbol. Mereka duduk berhadapan, dipisahkan meja logam yang dingin.
"Kamu nggak capek datang terus?" tanya Ardi pada kunjungan keempat.
"Capek."
"Tapi tetap datang."
Richard mengangkat bahu. "Saya cuma punya satu orang yang bisa saya tanyai tentang ayah saya, dan orang itu ada di sini."
"Livia gimana?"
"Sudah pindah ke rumah aman. Polisi jaga dua puluh empat jam."
Ardi mengangguk pelan. "Selama Hendra belum ketemu, jangan pernah percaya kalau ada yang bilang situasinya sudah tenang."
"Saya tidak percaya siapa-siapa sekarang."
"Bagus," kata Ardi. "Pertahankan itu sampai semuanya selesai."
Mereka berbicara tentang ayah yang sama, tetapi kehidupan yang benar-benar berbeda. Richard bercerita tentang liburan ke Bandung, tentang jam tangan yang diwariskan, tentang rapat-rapat yang membuat ayahnya pulang lewat tengah malam.
Ardi mendengarkan tanpa memotong. Lalu ia bercerita tentang kontrakan dengan atap bocor, tentang uang yang datang setiap bulan lewat wesel tanpa nama pengirim, tentang ibunya yang menyuruhnya berhenti bertanya.
"Saya marah kepadamu," kata Ardi suatu sore. "Kamu mendapatkan keluarga, nama, dan perusahaan."
Richard tidak langsung membantah. Ia memutar gelas plastik di tangannya.
"Saya juga kehilangan banyak hal."
"Tapi kamu masih memiliki kesempatan memperbaikinya."
Kalimat itu menggantung di antara mereka lebih lama dari yang Richard inginkan. Di luar jendela kecil, seseorang menyeret ember dan air tumpah ke lantai.
Pada kunjungan berikutnya, Ardi membawa sesuatu.
Sebuah amplop cokelat, sudah menguning di lipatannya, diserahkan lewat petugas setelah diperiksa.
"Ini surat terakhir yang dia kirim ke saya," kata Ardi. "Saya simpan sepuluh tahun. Saya nggak pernah berani membacanya sampai habis."
Richard membuka amplop itu di mobil, dengan tangan yang tidak sepenuhnya tenang. Raka duduk di kursi penumpang, menunggu.
Tulisan tangan ayahnya masih sama: huruf-huruf miring yang terlalu rapat.
Isinya pendek. Sebuah permintaan, bukan perintah. Kalau suatu hari kebenaran terbuka, kedua anaknya diminta saling melindungi, bukan saling menuntut. Karena yang menghancurkan keluarga bukan rahasia, melainkan cara mereka memperlakukan satu sama lain setelah rahasia itu terbongkar.
Richard membaca kalimat terakhir dua kali, lalu menyerahkan surat itu kepada Raka.
Raka membacanya pelan. Ketika selesai, ia menaruh kertas itu di dashboard dan memandang lurus ke depan.
"Dia tahu semua ini bakal ketahuan," kata Raka.
"Dia tahu," jawab Richard. "Dan dia tetap diam."
"Kalau gue jadi lo, gue nggak yakin bisa memaafkan."
"Saya juga belum."
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, mereka bertiga — Richard, Raka, dan Ardi lewat suratnya — terasa seperti sebuah keluarga. Bukan keluarga yang utuh, bukan keluarga yang sembuh. Hanya tiga orang yang akhirnya berdiri di sisi yang sama.
Di luar pagar rumah tahanan, Yura menunggu, bersandar di kap mobil dengan dua bungkus roti di tangan.
"Lama banget," katanya. "Rotinya udah dingin."
"Maaf."
"Gue nggak marah. Gue cuma laper." Ia menyerahkan satu bungkus. "Ada kabar bagus, mau denger?"
Richard mengangguk.
Yura tersenyum, dan senyum itu yang pertama kali terlihat lepas sejak berminggu-minggu.
"Cantika mulai dapat klien lagi. Tiga hari ini masuk lima permintaan penawaran. Yang dua malah bilang mereka datang karena baca berita soal kita."
"Berita yang mana?"
"Yang benar." Yura mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah judul di layar. "Media akhirnya nulis versi yang sesuai fakta persidangan. Bukan versi yang dulu bikin kami kehilangan setengah klien dalam seminggu."
Richard membaca judul itu sebentar, lalu mengembalikan ponselnya.
"Lo bahagia?" tanyanya.
Yura menggigit rotinya, mengunyah lama, seperti sedang menimbang jawaban yang jujur.
"Belum sepenuhnya. Tapi gue merasa hidup gue kembali," katanya. "Setahun terakhir rasanya gue cuma numpang di hidup orang lain. Sekarang gue bisa buka laptop tanpa takut ada nama gue di berita."
Richard menggenggam tangannya. Yura tidak menarik tangan itu.
"Saya ingin menjadi bagian dari hidup itu," kata Richard.
Angin sore membawa bau hujan dari arah jalan besar. Yura menunduk, memandang jari-jari mereka yang bertaut, dan tersenyum kecil.
Tetapi ia tidak menjawab.
"Gue butuh waktu," katanya akhirnya. "Bukan buat mikirin lo. Buat mikirin gue."
"Berapa lama pun."
"Jangan janji gitu. Nanti gue pegang."
"Pegang saja."
Yura tertawa pendek, lalu masuk ke mobil lebih dulu supaya Richard tidak sempat melihat matanya memerah.
Malam itu di apartemennya, Elena sedang melipat berkas ketika ponselnya bergetar di meja.
Nomor tidak dikenal. Tetapi Elena mengenali gaya bicaranya dari kalimat pertama.
Hendra.
Isinya singkat, ditulis seperti orang yang menawar di pasar, bukan seperti buron.
Ia punya bukti terakhir tentang ayah Mia. Bukti yang belum pernah masuk berkas mana pun, yang katanya cukup untuk mengubah seluruh arah persidangan.
Ia bersedia menyerahkannya dengan satu syarat.
Kebebasan Ardi.
Elena membaca pesan itu tiga kali.
Tangannya melayang di atas layar cukup lama. Ia tahu persis apa yang sedang ditawarkan kepadanya: bukan bukti, melainkan kesempatan untuk menjadi orang yang memutuskan sendiri, diam-diam, tanpa memberi tahu siapa pun.
Orang seperti Hendra selalu memulai dengan memberi rasa penting.
Jendelanya terbuka, dan tirainya bergerak pelan oleh angin. Di luar, lampu-lampu kota menyala seperti biasa, seolah tidak ada apa pun yang sedang ditawar malam itu.