Telepon itu masuk pukul sebelas malam, dari nomor yang tidak dikenali siapa pun di ruangan.
Richard menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum mengangkat. Di seberang meja, Yura berhenti mengaduk kopi yang sudah dingin sejak tadi. Raka menutup setengah layar laptopnya.
"Halo."
Suara di ujung sana berat, seperti suara orang yang sudah lama tidak tidur. Ada bunyi kendaraan lewat dan deru angin menabrak corong telepon. Bukan ponsel. Telepon umum.
"Ini Ardi."
Richard menegakkan punggung. Yura langsung berdiri dan mendekat, menempelkan telinganya di sisi lain ponsel.
"Saya tidak punya banyak waktu," kata Ardi. "Temui saya di jembatan tua, yang di belakang pabrik es. Sendirian."
"Kenapa saya harus percaya?"
"Karena Hendra akan membunuh Livia."
Richard merasakan sesuatu jatuh di dadanya. Yura menutup mulut dengan telapak tangan.
"Dia ingin menghapus satu-satunya saksi yang mengetahui obat ayahmu," lanjut Ardi. "Selama Livia hidup, Hendra tidak pernah aman. Dia tahu itu."
"Kamu bekerja sama dengan Hendra."
Ada jeda. Angin di seberang sana terdengar lebih keras.
"Pernah," jawab Ardi akhirnya. "Kami punya kesepakatan. Dia mengkhianati saya lebih dulu. Sekarang dia ingin membereskan semua orang yang bisa menunjuk wajahnya."
Sambungan terputus sebelum Richard sempat bertanya lagi.
Raka langsung mengetik sesuatu. "Telepon umum di dekat terminal lama. Dia sengaja pakai itu supaya nggak bisa dilacak ke satu tempat tinggal."
"Berarti dia masih di kota," kata Richard.
"Atau dia ingin kita berpikir begitu."
Yura menatapnya. "Lo nggak bakal pergi sendirian."
"Saya tahu."
"Gue ikut."
"Yura—"
"Gue ikut," ulang Yura, dan nadanya menutup semua ruang untuk berdebat.
Jembatan tua itu berbau lumut dan besi berkarat. Lampunya tinggal satu, berkedip setiap beberapa detik, membuat bayangan di aspal seperti tersendat. Di bawah, sungai mengalir pelan dan hitam.
Dua mobil polisi berhenti tiga ratus meter di belakang, lampunya dimatikan. Perjanjiannya jelas: mereka hanya bergerak jika Richard memberi tanda.
Ardi muncul dari ujung jembatan tanpa mantel, tanpa tas, kedua tangannya terangkat setinggi dada.
"Saya tidak bawa senjata," katanya. "Silakan periksa."
Richard memeriksanya sendiri. Tangan lelaki itu dingin dan gemetar halus, seperti orang yang sudah lama menahan sesuatu.
Dari jarak sedekat itu, Richard bisa melihat kantung hitam di bawah mata Ardi dan kemeja yang sudah dipakai lebih dari sehari. Entah kenapa, justru itu yang membuatnya sedikit percaya. Orang yang sedang menyiapkan jebakan biasanya datang dengan penampilan yang lebih rapi.
Ardi menyerahkan secarik kertas. Sebuah alamat gudang di pinggir kota, lengkap dengan nomor blok.
"Livia mungkin dibawa ke sana malam ini," katanya. "Kalau kalian datang pagi, kalian hanya akan menemukan lantai yang sudah dipel."
"Kenapa membantu kami?" tanya Richard.
Ardi menatap air di bawah jembatan cukup lama sebelum menjawab.
"Karena ayahmu tidak seharusnya mati. Saya ingin membalas dendam kepada orang-orang yang membuatnya memilih diam, bukan membunuh keluarganya sendiri."
Yura memperhatikan wajah lelaki itu. Ada garis rahang yang sama dengan Richard, dan itu membuat perutnya terasa aneh.
Richard melipat kertas itu. "Saya tidak percaya kamu."
"Saya tidak minta dipercaya. Saya minta kalian cepat."
Gudang itu berdiri di antara dua deret kontainer tua. Pintunya terbuka sedikit, seolah sengaja dibiarkan.
"Terlalu gampang," bisik Yura.
Richard merasakan hal yang sama. Namun jika Livia benar-benar di dalam, setiap menit yang mereka habiskan untuk ragu adalah menit yang tidak bisa dikembalikan.
Di dalam, lampu neon menyala satu per satu. Ruangan itu kosong. Tidak ada kursi, tidak ada tali, tidak ada Livia. Hanya sebuah layar besar yang tiba-tiba menyala di dinding utara.
Wajah Hendra muncul di sana, duduk santai di depan kamera.
"Terima kasih sudah datang," katanya. "Ardi, kamu benar-benar mengkhianati saya."
Ardi tidak menjawab.
"Livia tidak di sini," lanjut Hendra. "Tidak pernah ada di sini. Saya hanya ingin tahu siapa yang akan berdiri di sebelah siapa."
Layar mati.
Tembakan pertama datang dari atap, memantul di lantai beton dan meninggalkan bunyi dengung panjang. Ardi terhuyung, memegang bahunya.
Richard menariknya ke balik tiang. Darah membasahi lengan Ardi, hangat dan cepat.
"Tekan," kata Richard, menempelkan tangan lelaki itu ke lukanya sendiri. "Tekan yang kuat."
"Kamu menolong orang yang seharusnya kamu benci," desis Ardi.
"Nanti saja bencinya."
Di sisi lain ruangan, Yura merunduk di balik tumpukan palet. Kakinya menyenggol sesuatu yang berbunyi berbeda — bukan beton, tetapi logam.
Ia menyingkirkan terpal, dan di bawahnya ada pintu bawah tanah.
"Richard!"
Tangga besi itu turun ke ruangan sempit yang dingin. Suara kipas pendingin mengisi seluruh tempat. Di dinding, deretan server berkedip hijau dan biru, rapi seperti sesuatu yang dirawat dengan sangat baik.
Raka menyusul dengan laptop, menyambungkan kabel, dan wajahnya berubah dalam sepuluh detik.
"Ini catatan pembayaran yayasan," katanya. "Bertahun-tahun. Nama, tanggal, jumlah, rekening perantara."
Yura mendekat, menatap angka-angka yang berjalan di layar. Ada ratusan baris, dan tiap baris adalah satu orang yang dibayar untuk diam.
"Ini yang mereka jaga," gumamnya. "Bukan Livia. Bukan kita. Ruangan ini."
"Makanya gudangnya dibuat kelihatan kosong," kata Raka. "Orang yang masuk cuma lihat lantai."
Di atas, polisi akhirnya masuk. Terlambat. Pintu belakang gudang sudah terbuka dan Hendra sudah lama tidak ada di sana.
Ardi dipapah turun, wajahnya pucat. Ia memandang layar laptop Raka lama sekali, seperti orang yang melihat rumahnya sendiri terbakar.
"Ini cukup untuk menghancurkan jaringan mereka," katanya.
"Dan cukup untuk memasukkanmu ke penjara," kata Richard.
Ardi tersenyum lelah. "Saya tahu."
Ia tidak melawan ketika petugas medis membalut bahunya. Ia juga tidak melawan ketika polisi menunggu di bibir tangga. Justru Ardi yang berjalan lebih dulu, menunjukkan jalan keluar melalui lorong samping supaya tidak ada yang tersandung kabel.
Di halaman gudang, udara berbau solar dan hujan yang belum turun. Borgol dikeluarkan.
"Tunggu," kata Ardi.
Ia menoleh kepada Richard. Suaranya pelan, hampir hilang ditelan sirene.
"Jangan biarkan keluarga kita saling menghancurkan."
Logam berbunyi klik di pergelangan tangannya. Ia dibawa masuk ke mobil tanpa menoleh lagi.
Yura berdiri di samping Richard, memandang lampu merah biru yang memantul di genangan.
"Lo baik-baik aja?" tanyanya.
Richard tidak menjawab. Tangannya masih berlumur darah orang yang, sampai semalam, ia anggap musuh.
Yura menarik tangan itu pelan, lalu mengelapnya dengan ujung lengan bajunya sendiri, sedikit demi sedikit, tanpa berkata apa-apa.
Di kejauhan, langit mulai gerimis.