Sari ditemukan tiga hari kemudian di sebuah desa pesisir, setelah polisi melacak rekening adiknya yang masih menerima kiriman setiap bulan.
Rumahnya menghadap laut, berdinding papan, dengan jaring ikan yang dijemur di pagar. Ketika mobil polisi berhenti di depan, perempuan itu sedang menjemur pakaian dan tidak lari ke mana pun. Ia hanya berdiri memeluk baskom plastik, seperti orang yang sudah lama menunggu hari ini datang.
Tetapi begitu ditanya, ia menolak bicara.
"Saya tidak tahu apa-apa," katanya berulang kali. "Saya cuma perawat. Saya cuma mengantar."
Penyidik sudah hampir menyerah ketika Richard mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
Bukan surat perintah. Bukan foto. Hanya selembar salinan surat terakhir ayahnya, yang ia bawa ke mana-mana sejak malam kebakaran itu.
"Bacalah," kata Richard. "Ini tulisan tangan orang yang setiap minggu Anda datangi."
Sari menerima kertas itu dengan tangan yang mulai gemetar. Ia membaca, dan pada baris ketiga, air matanya jatuh ke kertas dan membuat tintanya sedikit meleber.
Ia duduk di kursi kayu di teras, dan mulai bicara.
"Saya tidak ingin dia mati," katanya. "Saya sungguh tidak ingin. Saya cuma takut kehilangan pekerjaan."
Penyidik menyalakan perekam. Yura duduk di lantai teras karena kursinya cuma dua, dan angin laut membawa suara ombak masuk ke dalam setiap jeda kalimat.
Sari bercerita bahwa tiga minggu sebelum ayah Richard meninggal, ia melihat sesuatu yang membuatnya tidak bisa tidur berhari-hari.
"Di lorong rawat inap, dekat tangga darurat," katanya. "Ibu Anda sedang bertengkar dengan seorang bapak berjas."
Richard menegang. "Bertengkar bagaimana?"
"Suaranya ditahan, tapi jelas marah. Saya tidak sengaja lewat membawa troli obat." Sari menunduk. "Bapak itu berkata bahwa dokter sudah setuju. Ibu Anda bilang, kalau memang harus, jangan yang menyakitkan."
Yura merasa punggungnya dingin.
"Bapak berjas itu, apakah ini orangnya?" tanya penyidik sambil menunjukkan foto ayah Mia.
Sari mengangguk. "Iya. Dia yang meminta obat tertentu diberikan kepada Pak, ayah Anda. Dia bilang itu dari dokter."
"Dan Anda memberikannya?"
"Saya memberikannya, karena resepnya memang ada. Dosisnya masih wajar waktu itu. Saya bersumpah." Ia menggosok wajahnya dengan ujung lengan bajunya. "Tapi beberapa hari kemudian, ada lelaki lain yang datang. Bukan dokter, bukan perawat, bukan keluarga."
"Apa yang dia lakukan?"
"Dia masuk ke ruang penyimpanan obat dan mengganti isinya. Saya melihat catatannya berubah keesokan harinya. Dosisnya jauh lebih besar. Jauh lebih berbahaya untuk pasien dengan kondisi jantung seperti beliau."
Penyidik mencondongkan badan. "Siapa lelaki itu?"
Sari masuk ke dalam rumah dan kembali membawa sebuah amplop yang terselip di antara halaman buku doa. Di dalamnya ada satu lembar foto cetak dari kamera pengawas rumah sakit, gambarnya kasar dan berbintik.
Wajah lelaki di foto itu terlihat samar karena tertutup topi.
Namun tangannya terangkat ke gagang pintu, dan di pergelangan tangan itu ada jam tangan berwarna gelap dengan lambang kecil di bagian mukanya.
Richard mengambil foto itu dan menatapnya lama.
Ia pernah melihat jam itu. Di foto pertemuan paman Mia yang diambil Livia, di tangan orang yang berdiri satu langkah di belakangnya, orang yang waktu itu ia kira hanya sopir.
"Namanya Hendra," kata Sari. "Saya baru tahu belakangan. Kepala keamanan yayasan."
"Anda pernah melihatnya lagi?"
"Sekali. Dua malam sebelum ayah Anda meninggal." Sari menelan ludah. "Di parkiran belakang, dia bicara dengan seorang bapak yang wajahnya mirip sekali dengan ayah Anda. Saya sempat mengira itu beliau yang turun dari kamar, sampai saya sadar beliau sudah tidak bisa berjalan sendiri."
Yura dan Richard saling pandang.
"Ardi," kata Yura. "Berarti Ardi dan Hendra bekerja sama."
Sari menggeleng cepat, dan untuk pertama kalinya suaranya naik.
"Tidak. Bukan begitu." Ia menatap Richard. "Saya berdiri cukup dekat untuk mendengar. Bapak yang mirip itu marah. Dia bilang, hentikan, ini sudah terlalu jauh. Dia ingin menyelamatkan ayah Anda. Hendra yang datang untuk memastikan beliau tidak selamat."
Polisi membawa Sari ke tempat perlindungan sore itu juga, bersama adiknya.
Perburuan Hendra dimulai malam itu. Fotonya disebar ke seluruh pos, rekening dan nomor teleponnya diblokir, dan penyidik memeriksa semua kendaraan yang pernah terdaftar atas namanya.
Hendra tidak tertangkap. Tetapi pukul dua dini hari, sebuah pesan masuk ke ponsel Richard dari nomor yang tidak dikenal.
"Kamu menyalahkan orang yang salah. Ardi adalah orang yang menyiapkan obat itu."
Richard duduk di tepi ranjang rumah aman, membaca kalimat itu berulang kali sampai huruf-hurufnya kehilangan arti.
Dua cerita. Dua orang. Keduanya bertentangan, dan keduanya sama-sama masuk akal.
Pagi harinya ia meminta Raka memeriksa semua rekaman lama rumah sakit yang masih tersimpan di arsip kepolisian.
Butuh enam jam.
"Hendra tidak sepenuhnya bohong," kata Raka akhirnya, memutar layar laptopnya. "Lihat. Ini malam sebelum ayahmu meninggal. Ardi memang masuk ke rumah sakit. Dia lewat pintu samping, pukul sebelas lewat, tanpa mengisi buku tamu."
Richard menatap sosok berjas gelap yang berjalan menunduk di layar.
"Tapi tunggu," kata Raka. Ia memajukan rekaman empat puluh menit. "Ardi keluar lewat pintu yang sama, pukul dua belas kurang. Dan dua puluh menit setelah dia pergi, ada orang lain yang membuka ruang obat."
Di layar, seorang lelaki bertopi masuk ke ruang penyimpanan. Kameranya menangkap kilatan kecil di pergelangan tangannya ketika ia meraih gagang pintu.
"Mereka mungkin bekerja sama sementara, lalu saling mengkhianati," kata Raka. "Itu yang paling sering terjadi di jaringan seperti ini. Yang satu ingin berhenti, yang satu tidak boleh membiarkannya berhenti."
Yura memandang Richard. Wajah lelaki itu sudah tidak terbaca sejak semalam.
"Kita harus menemukan Hendra sebelum Ardi," katanya.
"Kenapa?"
"Karena kalau Ardi yang menemukan dia duluan, yang tersisa buat kita cuma mayat dan satu versi cerita lagi yang nggak bisa dibantah siapa-siapa."
Mereka melacak Hendra sampai ke sebuah gudang obat di pinggir jalan lintas, bangunan beton rendah yang pintunya tidak terkunci dan lampunya masih menyala.
Di dalam, rak-raknya sudah dikosongkan. Yang tersisa hanya sebuah tas ransel yang terbuka dan tidak berisi apa pun, serta sebuah alat perekam kecil yang diletakkan tepat di tengah lantai, seperti sengaja ditinggalkan untuk ditemukan.
Raka menekan tombol putarnya.
Suara Hendra memenuhi gudang yang kosong itu, tenang dan tidak terburu-buru, mengatakan bahwa perintah terakhir malam itu bukan datang dari yayasan, bukan dari paman Mia, dan bukan dari Ardi.
Perintah terakhir datang dari seseorang di dalam keluarga Richard sendiri.