Kunci kuningan yang diberikan Ardi itu masuk dengan mulus ke lubang pintu ruang bawah tanah rumah lama ayah Richard.
Mereka kembali ke sana keesokan paginya. Richard, Yura, dua penyidik, Raka, Elena, dan Livia yang bersikeras ikut meskipun bahunya masih dibalut. Rumah itu sudah lama tidak ditinggali. Debu menumpuk di daun jendela, dan sarang laba-laba menggantung di lampu gantung ruang makan seperti kain tipis.
Pintu ruang bawah tanah ada di belakang dapur, tertutup rak piring yang harus digeser bertiga.
Besinya berderit panjang ketika dibuka, suara yang membuat bulu kuduk Yura berdiri.
"Kalau ayahmu menyimpan kunci ini dari Ardi," katanya, "berarti Ardi pernah punya akses ke rumah ini."
"Atau ayah saya yang memberikannya," jawab Richard.
Udara di bawah sana lebih dingin dan berbau kertas tua. Lampu gantungnya masih berfungsi, menyala kuning dan berkedip sekali sebelum stabil.
Di dalam ruangan itu berjejer rak dokumen dari lantai sampai langit-langit. Ada kotak-kotak kaset perekam yang ditata berdasarkan tahun, beberapa map berlabel nama proyek, dan sebuah meja kerja yang permukaannya dipenuhi foto keluarga.
Richard mendekati meja itu.
Ada foto dirinya waktu kecil sedang memakai dasi yang kebesaran. Ada foto pernikahan orang tuanya. Dan di tengahnya, di dalam bingkai kayu sederhana, ada foto dua lelaki muda yang berdiri bersisian dengan wajah yang nyaris sama persis.
Richard mengeluarkan foto itu dari bingkainya. Di belakangnya ada tulisan tangan ayahnya.
Satu memilih balas dendam, satu memilih diam.
Ia membaca kalimat itu tiga kali, dan setiap kali terasa lebih berat daripada sebelumnya.
"Richard," panggil Raka dari sudut ruangan. "Sini."
Raka menemukan sebuah kamera video lama yang masih menyimpan kartu di dalamnya. Ia menyambungkannya ke layar kecil yang dibawa penyidik.
Rekaman terbuka dengan wajah ayah Richard yang terlalu dekat ke lensa, sedang mencari tombol yang benar. Lalu lelaki itu mundur dan duduk di kursi yang sekarang kosong, di ruangan yang sekarang mereka tempati.
Wajahnya lelah. Pipinya cekung. Ini direkam ketika ia sudah sakit.
"Ardi tidak membunuh saya," kata ayah Richard di layar. "Saya yang meminta dia pergi. Saya takut dia akan menghancurkan orang-orang yang tidak bersalah, dan saya tidak sanggup melihat itu terjadi karena nama keluarga kami."
Ia berhenti, batuk, lalu menatap kamera lebih lama.
"Jika saya mati, jangan cari pembunuhnya di antara musuh saya. Cari orang yang memegang kendali atas obat saya."
Layar menjadi hitam.
Elena menutup mulutnya dengan tangan. Mama Richard, yang duduk di kursi lipat dekat tangga, tidak bergerak sama sekali.
Richard membuka map bertuliskan catatan medis yang tersimpan di rak paling bawah. Isinya lengkap: resep, jadwal kontrol, daftar obat harian dengan dosis yang ditulis tangan.
Nama dokter Felix muncul di hampir setiap halaman.
Tetapi di kolom sebelahnya, di bagian penyerahan obat, selalu ada satu nama lain yang ditulis dengan huruf kecil.
Sari. Perawat.
Richard mengangkat wajahnya ke arah ibunya.
"Mama kenal nama ini?"
Mama Richard mengangguk pelan. "Dia yang mengantar obat ke rumah setiap minggu waktu ayahmu mulai tidak bisa keluar kamar. Anaknya masih kecil. Saya sering memberinya kue kalau dia datang sore."
Penyidik langsung menghubungi kantornya. Dalam satu jam, jawaban datang: Sari sudah meninggalkan kota sejak lama, alamatnya kosong, nomornya mati.
Namun ada satu hal yang ia tinggalkan.
Di rumah kontrakannya yang lama, pemilik rumah menyimpan sebuah amplop yang tidak pernah diambil siapa pun. Isinya surat tulisan tangan, dan di dalamnya Sari mengaku menerima uang dari seseorang yang tidak pernah ia lihat wajahnya. Di surat itu orang tersebut hanya disebut dengan satu huruf.
K.
"Kartika," kata Yura langsung.
Richard menggeleng perlahan. "Mungkin. Tapi jangan cepat-cepat."
"Kenapa?"
"Karena setiap kali kita menemukan satu huruf itu, ujungnya selalu orang yang ternyata cuma perantara." Richard menutup map di tangannya. "Ayah Mia perantara paman Mia. Paman Mia perantara Kartika. Kartika mungkin perantara lagi. Mereka membangun rantai supaya tidak ada satu pun yang bisa ditarik sampai ke atas."
Raka sudah berpindah ke rak paling bawah, membongkar kotak yang tertimbun di belakang.
"Kalau begitu, coba lihat ini," katanya.
Ia menarik sebuah buku kas kecil dengan sampul plastik. Di halaman terakhir tercatat serangkaian nomor rekening luar negeri, ditulis rapi dengan tinta biru, disertai tanggal transfer.
Dana terakhir yang tercatat dikirim ke sebuah perusahaan yang terdaftar atas satu nama.
Ardi Pratama.
Ruangan itu hening. Yura merasakan sesuatu yang tidak enak menekan dadanya, seperti lantai yang bergeser sedikit.
"Ardi bukan hanya korban," kata Richard akhirnya. "Dia memang membangun jaringan."
"Tapi rekaman ayahmu barusan membela dia," kata Livia pelan.
"Dua-duanya bisa benar." Richard memandang foto di tangannya lagi. "Ayah saya percaya Ardi tidak membunuhnya. Itu bukan berarti Ardi tidak melakukan hal lain."
Mereka mulai memasukkan dokumen ke kotak bukti. Penyidik memotret rak satu per satu sebelum apa pun dipindahkan.
Baru sekitar sepertiga yang selesai ketika alarm rumah berbunyi.
Suaranya melengking dari lantai atas, disusul bau yang naik lewat tangga. Bau bensin, lalu bau asap.
"Keluar!" teriak seorang penyidik.
Seseorang menyiram dinding luar rumah dan menyalakannya. Api menjalar cepat di sisi barat, menjilat kusen kayu yang sudah kering bertahun-tahun. Polisi yang berjaga di halaman berlari mengejar bayangan yang melompati pagar belakang, sementara sisanya menarik selang dari mobil pemadam yang untungnya sudah standby sejak subuh atas permintaan Raka.
Api berhasil dipadamkan dalam dua puluh menit.
Rumah itu tidak roboh, tetapi sisi barat ruang bawah tanah terkena. Dua rak dokumen hangus. Kaset-kaset di rak paling atas meleleh menjadi gumpalan plastik hitam.
Richard berdiri di tengah ruangan yang basah dan berbau arang, menatap kertas-kertas yang melayang sebagai abu.
Yura berjongkok di dekat rak yang terbakar, membolak-balik sisa kertas dengan ujung pulpen.
Satu potongan masih terbaca. Sudutnya hangus, tetapi satu baris kalimatnya utuh, ditulis dengan tulisan tangan yang sama seperti surat-surat ayah Richard.
Ia membacanya sekali dalam hati, lalu sekali lagi, dan wajahnya berubah.
"Richard," katanya.
Richard mengambil potongan itu dari tangannya.
"Pembunuh sebenarnya adalah orang yang meminta saya memaafkan semuanya."
Richard membaca kalimat itu, lalu perlahan mengangkat kepalanya.
Ia memandang ke arah tangga, ke kursi lipat tempat ibunya duduk sejak tadi.
Mama Richard sedang menangis tanpa suara.