Tembakan dari luar gudang membuat semua orang berlindung di balik peti dan rak besi.
Adrian menarik pintu koper hitam itu sampai tertutup rapat dan menekannya ke dadanya. Raka merangkak di lantai beton menuju panel listrik di dinding utara, menghindari garis tembak dengan cara yang jelas bukan pertama kalinya ia lakukan. Yura menahan tangan Livia erat-erat supaya perempuan itu tidak terpisah dan berlari ke arah yang salah.
"Siapa yang menembak?" bisik Richard.
"Orang yang tidak ingin kita membaca dokumen itu," jawab Adrian.
Raka mencapai panel listrik dan menurunkan tuas utama. Gudang itu langsung gelap, dan suara tembakan berhenti selama dua detik, cukup lama untuk terasa seperti satu menit.
Dalam gelap, polisi yang berjaga di luar bergerak mengepung. Terdengar teriakan, langkah sepatu di kerikil, lalu suara mesin kendaraan yang menjauh cepat dari jalan belakang.
Richard menyalakan senter ponselnya.
Tidak ada yang terluka.
Satu peluru menancap di sudut koper Adrian, tepat di atas engselnya.
Richard berjongkok di depannya. "Kamu benar-benar yakin lelaki di foto itu bukan dirimu?"
Adrian membuka koper dan mengeluarkan dua benda: paspor lama yang tadi ia tunjukkan, dan selembar surat kelahiran yang kertasnya sudah lembek karena sering dilipat.
"Nama saya Adrian Mahesa," katanya. "Lihat sendiri. Saya tidak pernah menggunakan nama Pratama, tidak di sekolah, tidak di paspor, tidak di akta." Ia menyerahkan keduanya kepada Richard. "Foto itu saya temukan di arsip ayah Mia dua tahun lalu. Saya mengambilnya karena saya sadar mereka sedang menyiapkan sesuatu. Mereka ingin membuat seolah-olah saya orang yang mengendalikan semua rencana."
Raka mengambil foto dari paspor itu dan mendekatkannya ke senter.
"Ardi punya bekas luka di dagu," katanya. "Lihat gambar ini."
Richard memperbesar foto itu di layar ponselnya. Di bawah bibir anak laki-laki dalam foto ada garis kecil berwarna lebih terang, memanjang miring ke arah rahang. Tanda yang sama pernah ia lihat di foto lama ayahnya, di album yang sekarang ada di rumah aman.
"Kalau Ardi adalah saudara kembar ayah saya," kata Richard, "kenapa keluarga tidak pernah membicarakannya?"
Jawaban datang dari arah pintu.
"Karena Ardi meninggalkan rumah setelah dituduh mencuri uang."
Mama Richard berdiri di ambang pintu gudang bersama dua petugas pengawalan, wajahnya pucat di bawah lampu darurat yang baru dinyalakan.
"Ayahmu menyangka dia sudah meninggal dalam kecelakaan," lanjut ibunya.
Richard berdiri. "Mama tahu dia mungkin masih hidup?"
"Saya hanya tahu rumor," kata perempuan itu pelan. "Orang-orang bilang ada yang melihatnya di luar negeri. Ayahmu selalu bilang itu omong kosong."
Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah surat lama, amplopnya sudah menguning di bagian lipatan.
"Tapi surat ini datang sembilan tahun lalu."
Richard membukanya. Tulisan tangan di dalamnya miring ke kanan, hampir sama dengan tulisan ayahnya, tetapi hurufnya lebih tajam.
Surat itu ditandatangani Ardi. Isinya permintaan bantuan. Ia menulis bahwa ia terjebak bekerja untuk sebuah jaringan gelap yang memanipulasi proyek-proyek perusahaan keluarga, dan ia ingin keluar sebelum terlalu dalam.
"Ayahmu tidak pernah membalas surat itu," kata Mama Richard. "Dia membacanya tiga kali, lalu menguncinya di laci. Dia takut Ardi membawa bahaya ke rumah ini."
Yura membaca dari balik bahu Richard. "Mungkin Ardi marah dan membangun jaringan sendiri."
"Atau dia dipaksa oleh orang lain," jawab Richard. "Surat ini ditulis orang yang ingin keluar, bukan orang yang ingin berkuasa."
Adrian membuka peta lipat di atas peti dan menunjuk satu titik koordinat yang sudah ia tandai dengan pulpen merah.
"Ini alamat tempat Ardi terakhir terlihat," katanya. "Rumah tua milik yayasan, di pegunungan, dua setengah jam dari sini."
Komandan polisi menyarankan menunggu sampai pagi.
Richard menggeleng.
"Yang menembak kita tadi juga sedang mencari Ardi," katanya. "Kalau kita menunggu pagi, yang kita temukan besok cuma rumah kosong atau mayat."
Mereka berangkat malam itu juga dengan tiga kendaraan dan pengawalan penuh.
Rumah tua itu berada di tengah hutan pinus, di ujung jalan tanah yang becek. Kabut menempel di kaca depan mobil, dan udara di luar berbau daun basah. Tidak ada lampu menyala di dalam rumah, tetapi pintu depannya tidak terkunci.
Di dalam, dinding ruang tengah tertutup foto dari lantai sampai setinggi dada. Foto ayah Richard di berbagai usia. Foto Mama Richard keluar dari gereja. Foto Elena menggendong bayi. Foto beberapa orang dari keluarga Mia yang diambil dari jarak jauh dengan lensa panjang.
Livia berjalan menyusuri dinding itu perlahan, lalu berhenti di depan satu pintu di ujung lorong.
"Terkunci," katanya.
Polisi membukanya dengan linggis. Di dalam ada meja kerja, sebuah monitor yang masih menyala dalam keadaan siaga, dan alat perekam suara dengan tombol putar yang sengaja dibiarkan menonjol.
"Semua ini ditinggalkan supaya kita temukan," kata Raka.
Richard menekan tombol itu.
Suara lelaki tua memenuhi ruangan.
"Richard, jika kamu sampai di sini, berarti keluargamu telah menemukan terlalu banyak. Saya tidak ingin membunuh siapa pun, tetapi mereka memaksa saya memilih antara hidup saya dan keluargamu."
Richard menegang.
Suara itu mirip suara ayahnya. Terlalu mirip. Hanya lebih berat, lebih lambat, seperti rekaman yang diputar dengan kecepatan sedikit dikurangi.
"Saya adalah Ardi. Saya tidak mati dalam kecelakaan. Saya membangun jaringan untuk menghancurkan orang-orang yang menghancurkan hidup saya. Ayahmu seharusnya bergabung, tetapi dia memilih melindungi keluarganya."
Rekaman terputus di tengah kalimat berikutnya.
Yura menatap Richard dengan cemas. "Richard."
"Ardi adalah Ketua," kata Raka.
Sebuah pintu di dinding belakang ruangan itu terbuka.
Seorang lelaki tua berdiri di sana dengan tongkat di tangan kanan. Rambutnya memutih seluruhnya, punggungnya sedikit membungkuk, dan wajahnya sangat mirip ayah Richard, sampai Richard harus menahan diri untuk tidak melangkah maju.
Tetapi sorot matanya jauh lebih dingin.
"Akhirnya kalian datang," katanya.
Richard maju satu langkah. "Kamu membunuh ayah saya?"
Ardi tersenyum tipis. "Saya tidak membunuhnya. Saya hanya membiarkan dia membayar harga pilihannya."
"Kamu mengancam keluarga kami. Kamu menembak adik saya."
"Saya menguji apakah kalian masih bisa bersatu." Ardi memandang satu per satu wajah di ruangan itu. "Ternyata kalian lebih kuat dari yang saya perkirakan."
Yura berdiri di samping Richard. "Kalau begitu, hentikan semua ini."
Ardi memandangnya lama.
"Kamu adalah alasan Richard mulai melawan keluarganya," katanya. "Menarik."
Polisi mengarahkan senjata dari dua sisi ruangan. Ardi tidak tampak takut sedikit pun.
"Kalian boleh menangkap saya," katanya. "Tapi jika saya mati, semua bukti tentang perusahaan, hakim, dan jaringan politik akan tersebar tanpa satu pun tangan yang bisa menghentikannya."
Richard menatap saudara ayahnya itu. "Apa yang kamu inginkan?"
Ardi mengulurkan tangan dan menyerahkan sebuah kunci kuningan tua.
"Buka ruang bawah tanah rumah ayahmu. Di sana ada bukti terakhir. Setelah itu, pilih apakah kamu ingin menghancurkan keluarga ini atau menyelamatkannya."
Sebelum polisi sempat bergerak, Ardi menekan sesuatu di gagang tongkatnya.
Asap putih menyembur dari lantai dan memenuhi ruangan dalam hitungan detik. Semua orang terbatuk. Ketika asap menipis dan lampu senter kembali menembus, pintu di dinding belakang sudah terbuka ke arah hutan, dan Ardi tidak ada lagi di sana.
Richard menggenggam kunci itu sampai gerigi besinya menekan telapak tangannya.
Di luar rumah, sirene polisi terdengar memasuki jalan tanah. Namun Richard tahu kehadiran lelaki tua itu telah membuka luka yang jauh lebih besar daripada yang bisa ditutup malam ini.
Livia menatapnya. "Apa yang ada di ruang bawah tanah?"
Richard menjawab dengan suara rendah.
"Kebenaran tentang siapa yang sebenarnya membunuh ayah saya."