Mereka membawa Mama Richard ke rumah aman yang disiapkan polisi malam itu juga.
Perempuan itu menolak diperiksa dokter sebelum menyelesaikan kalimatnya. Ia meminta tasnya, lalu mengeluarkan sebuah album foto bersampul kulit cokelat yang sudah berjamur di sudutnya. Album itu milik ayah Richard, satu-satunya barang yang ia bawa ketika rumah lama mereka disegel.
Ia membalik halaman dengan tangan yang masih gemetar, berhenti di satu halaman di bagian tengah, lalu meletakkan album itu di meja.
"Ini," katanya.
Foto hitam putih yang sudah menguning. Ayah Richard berdiri di depan sebuah bangunan proyek, masih muda, masih kurus, tersenyum lebar dengan helm di tangan.
Di sampingnya berdiri seorang lelaki muda lain.
Wajah lelaki itu dicoret tinta hitam berulang-ulang sampai kertasnya berbulu.
"Dia adalah orang yang mengatur pembunuhan ayahmu," kata Mama Richard.
Richard menatap coretan itu. "Siapa namanya?"
"Namanya tidak boleh disebut." Ibunya menggeleng keras. "Dia dulu memakai identitas palsu. Setiap kali ada yang menyebut namanya, orang itu mati atau hilang. Ayahmu sendiri yang mencoret wajahnya."
Livia mengambil album itu perlahan dan memiringkannya ke arah lampu. Raka mengambil kapas dan sedikit alkohol dari kotak obat, lalu menyerahkannya kepada Richard.
"Pelan-pelan," kata Raka. "Tintanya di permukaan. Kertasnya yang akan rusak duluan kalau ditekan."
Richard menggosok sudut foto itu dengan sangat hati-hati. Tinta mulai memudar, tetapi wajah di bawahnya sudah terlanjur tergores. Yang muncul justru sesuatu yang lain: deretan huruf kecil yang ditulis tangan di bagian bawah foto, tertutup tinta yang sama.
Sebuah nama lengkap.
Adrian Pratama.
Yura merasa ruangan itu miring sebentar.
"Nggak mungkin," katanya. "Adrian. Adrian yang di London."
Richard menatap nama itu tanpa berkedip. Adrian adalah mantan kekasih Mia. Adrian yang menyerahkan alamat gudang kepada mereka. Adrian yang membantu Yura keluar dari gedung ketika semua pintu dikunci, yang mengantarkan mereka ke bandara dengan wajah tegang.
"Tidak mungkin Adrian menjadi dalang," kata Richard. "Umurnya bahkan tidak masuk. Foto ini diambil sebelum saya lahir."
Raka sudah membuka laptopnya. Ia mencocokkan tahun proyek di latar foto dengan arsip perusahaan, lalu membuka catatan perjalanan Adrian yang ia kumpulkan sejak dua tahun lalu.
"Ada yang ganjil," katanya setelah beberapa menit. "Data perjalanan Adrian lengkap sejak sepuluh tahun terakhir. Tapi ada lubang. Tiga tahun tanpa satu pun catatan, tidak ada penerbangan, tidak ada rekening yang bergerak, tidak ada alamat."
"Tahun berapa?"
Raka memutar layar.
Tiga tahun itu berhenti tepat di bulan ketika ayah Richard meninggal.
Yura duduk perlahan di kursi terdekat.
"Jadi selama tiga tahun itu Adrian nggak ada di mana pun," katanya. "Nggak terbang, nggak membayar apa pun, nggak punya alamat."
"Atau ada orang lain yang memakai namanya, dan pemilik nama yang asli kebetulan sedang tidak membutuhkannya," kata Raka. "Dua-duanya mungkin. Yang satu menjadikan dia tersangka, yang satu menjadikan dia korban."
Richard menatap album yang masih terbuka di meja. Coretan tinta itu tiba-tiba terasa seperti tulisan tangan ayahnya yang paling jujur: bukan menghapus orangnya, melainkan menyembunyikan namanya dari siapa pun yang kelak membuka halaman ini.
Richard menelepon Mia malam itu juga.
Suara perempuan di seberang terdengar serak, seperti orang yang baru bangun atau baru selesai menangis. Ketika Richard menyebutkan nama Adrian dan foto itu, Mia langsung memotong.
"Kamu salah," katanya. "Adrian menyelamatkanku, Richard. Waktu ayahku mengurungku di apartemen itu, dia yang datang. Dia tidak mungkin bekerja untuk ayahku."
"Mia, saya tidak bilang dia bekerja untuk ayahmu."
"Lalu apa?"
"Saya bilang ada namanya di foto yang ayah saya coret." Richard menekan pangkal hidungnya. "Dan mungkin dia menyelamatkanmu karena dia membutuhkanmu."
Sambungan telepon terputus dari seberang.
Pesan dari Adrian datang pukul sebelas malam, hanya empat puluh menit setelah itu.
Ia mengaku sudah mendengar semuanya dari Mia. Ia meminta bertemu, malam itu juga, dan menulis bahwa ia memiliki bukti nama di foto itu palsu: seseorang sengaja memakai identitasnya selama bertahun-tahun.
Polisi memilih tempatnya sendiri. Sebuah gudang aman milik kepolisian di pinggir kota, satu pintu masuk, dua pintu keluar, lampu sorot di keempat sudut.
Adrian datang seorang diri, tepat waktu, membawa sebuah koper hitam.
Ia mengangkat kedua tangan di depan pintu dan membiarkan dirinya diperiksa tanpa protes. Wajahnya lelah, jaketnya kusut, dan ada bekas luka baru di punggung tangannya.
"Saya tahu kalian mencurigai saya," katanya ketika akhirnya duduk. "Kalau saya di posisi kalian, saya juga akan mencurigai diri saya sendiri."
"Nama Anda ada di bawah foto itu," kata Richard.
"Saya tahu. Saya sudah pernah melihat foto seperti itu." Adrian menatapnya. "Tapi dalang sebenarnya bukan saya. Orang itu menggunakan nama saya untuk menutupi jejaknya, dan dia melakukannya jauh sebelum saya cukup umur untuk mengerti apa itu perusahaan."
Ia meletakkan koper hitam di atas meja dan membuka kuncinya.
Di dalamnya tidak ada uang, tidak ada senjata. Hanya map-map tua, beberapa surat, dan sebuah paspor lama dengan sampul yang sudah pecah-pecah.
Adrian membuka paspor itu di halaman foto dan mendorongnya ke tengah meja.
Di sana ada foto seorang anak laki-laki, mungkin berusia dua belas tahun, memakai kemeja dengan kerah kaku. Rambutnya disisir ke samping. Matanya, bentuk rahangnya, bahkan cara bibirnya menekan ketika ditahan agar tidak tersenyum.
Yura menahan napas.
Anak itu mirip Richard. Bukan mirip sekilas, melainkan mirip yang membuat orang harus melihat dua kali.
"Ini bukan foto saya," kata Adrian pelan. "Ini foto saudara kembar ayahmu yang selama ini dianggap meninggal."
Richard menatap foto itu dengan napas tertahan di tenggorokan.
Ia mengangkat wajah ke arah ibunya, mencari bantahan, mencari penjelasan, apa saja. Tetapi Mama Richard sudah menunduk memandangi tangannya sendiri, dan itu jawaban yang paling buruk.
"Siapa namanya?" tanya Richard.
Adrian menyebutkan namanya dengan suara rendah, seperti orang yang tahu kata-kata itu akan mengubah segalanya begitu diucapkan.
"Ardi Pratama."
Livia membuka mulut hendak bertanya.
Lampu sorot di sudut gudang pecah lebih dulu.
Tembakan datang dari luar, dua kali, lalu bertubi-tubi. Serbuk beton berhamburan dari dinding. Adrian menarik Yura dan menjatuhkannya ke balik peti kayu, sementara Richard melompat menutupi Livia dengan tubuhnya sendiri, menyeret perempuan itu ke belakang rak besi.
Polisi di luar berteriak dan membalas.
Di lantai gudang, di antara suara tembakan dan dengung di telinganya, ponsel Richard menyala.
Satu pesan dari nomor yang tidak dikenal.
"Kalian mencari Ketua. Padahal Ketua selama ini hidup sebagai ayahmu."