Richard dan Yura tiba di rumah tahanan bersama tiga mobil polisi, kurang dari empat puluh menit setelah pesan itu masuk.
Richard turun sebelum mesin benar-benar mati. Ia sudah menyiapkan kalimat untuk petugas jaga, sudah menyiapkan nama pengacara, sudah menyiapkan dirinya untuk kabar terburuk.
Tetapi petugas itu justru mengangguk tenang.
"Ibu Anda masih di dalam, Pak. Kami sudah memeriksa dua kali sejak pagi."
Richard menahan napas yang sejak tadi menekan dadanya. Yura menyentuh punggungnya sebentar.
"Kalau begitu kami ingin bertemu."
"Bisa. Tapi ada sesuatu yang harus Bapak lihat dulu."
Petugas membawa mereka ke ruang jaga dan mengeluarkan sebuah amplop dari laci. Surat itu ditemukan di kamar Mama Richard pagi tadi, terselip di bawah bantal, ditulis dengan huruf cetak yang rapi seperti tulisan mesin.
Isinya pendek.
Richard diminta membawa seluruh bukti yang ia miliki ke stasiun kereta pusat, pukul empat sore, seorang diri.
"Mereka ingin menukar Mama dengan bukti," kata Richard.
"Atau ingin menjadikan Mama sebagai umpan," jawab Yura. "Lo lihat kalimatnya. Mereka nggak menulis kalau Mama ada di tangan mereka. Mereka cuma bikin lo percaya begitu."
Penyidik yang ikut membaca surat itu setuju dengan Yura. Mereka menyusun rencana di ruang jaga yang sempit, dengan denah stasiun yang dicetak seadanya dan gelas teh yang mendingin di sudut meja.
Richard akan datang membawa salinan dokumen di dalam koper logam kecil. Bukti asli tetap disimpan Raka, di tempat yang tidak diberitahukan kepada siapa pun, bahkan kepada Richard sendiri. Empat petugas berpakaian biasa akan tersebar di peron, dua di pintu masuk, satu di ruang kendali kamera.
Yura menolak menunggu di mobil.
"Gue ikut," katanya. "Mereka tahu wajah gue. Kalau gue nggak kelihatan sama sekali, justru mereka curiga."
Stasiun kereta pusat pada pukul empat sore adalah tempat yang paling buruk untuk sebuah jebakan. Ratusan orang berjalan ke segala arah, pengeras suara memanggil keberangkatan, pedagang mendorong troli minuman, dan setiap wajah tenggelam di antara wajah lain.
Richard berdiri di dekat papan jadwal dengan koper di tangan kanan.
Paman Mia muncul dari arah peron tiga.
Ia tidak menyamar. Jas abu-abu, jam tangan mahal, langkah santai seperti orang yang akan berangkat dinas. Dua lelaki berbadan besar berjalan sedikit di belakangnya, tangan mereka tidak pernah jauh dari pinggang.
"Mana petinya?" tanya paman Mia.
"Di sini," kata Richard, mengangkat koper sedikit. "Lepaskan Mama saya."
Paman Mia tersenyum dan mengeluarkan ponselnya. Ia memutar layar ke arah Richard.
Sebuah video langsung. Mama Richard duduk di kursi belakang sebuah mobil, matanya menatap lurus ke depan, bibirnya bergerak seperti sedang berdoa. Di pojok layar, angka waktu berjalan maju.
Richard merasa perutnya jatuh. Mereka meninggalkan rumah tahanan belum dua jam lalu, dan dalam dua jam itu seseorang berhasil mengeluarkan ibunya tanpa satu pun alarm berbunyi.
"Kartu memorinya," kata paman Mia. "Bukan koper itu. Saya tahu isi koper itu cuma fotokopi."
"Bagaimana saya tahu Mama saya masih di kota ini?"
"Kamu tidak tahu. Itu bagian yang menyenangkan."
Yura berdiri tiga langkah di belakang Richard, pura-pura membaca jadwal keberangkatan. Dari sudut matanya ia memperhatikan layar ponsel itu, bukan wajah Mama Richard, melainkan kaca jendela mobil di belakangnya.
Ada pantulan di kaca itu. Sebuah gedung tinggi dengan garis lengkung di bagian atas, dan huruf-huruf yang terbalik tetapi masih bisa dibaca kalau seseorang cukup sering lewat di depannya.
Yura mengenali logo itu. Hotel tempat mereka bertemu Kartika kemarin.
Ia mundur perlahan, menempelkan ponsel ke telinga seperti orang yang sedang menerima telepon biasa, dan menyebutkan nama hotel itu kepada penyidik.
Di dalam mobil komando di luar stasiun, Raka sudah menyalakan alat pelacaknya. Dua mobil polisi bergerak tanpa sirene ke arah hotel, sementara Raka mematikan sinyal ponsel di dalam kendaraan yang membawa Mama Richard supaya video langsung itu tidak bisa dimatikan dari jauh.
Richard mengulur waktu.
"Saya ingin jaminan," katanya. "Saya serahkan kartu memori, lalu apa? Anda tinggal menembak kami berdua di peron ini."
"Kamu terlalu banyak menonton film."
"Anda terlalu sering lolos." Richard melangkah setengah langkah ke samping, menjaga jarak. "Sebutkan di mana Mama saya. Kalau saya tidak mendengar suaranya, koper ini tidak berpindah tangan."
Paman Mia melirik ponselnya. Layar video itu masih menyala, tetapi ikon sinyal di sudut atas sudah berubah menjadi tanda silang kecil.
Wajahnya berubah dalam satu tarikan napas.
Ia melihat sekeliling, ke arah dua petugas berpakaian biasa yang berdiri terlalu lama di depan kedai kopi, ke arah Yura yang masih menempelkan ponsel di telinga.
"Kamu membawa polisi."
Richard tidak menjawab.
Paman Mia menarik senjata dari balik jasnya dan menembak satu kali ke langit-langit stasiun.
Suara itu meledak di antara pengeras suara dan langsung disusul jeritan. Ratusan orang berlari ke segala arah sekaligus. Koper Richard terjatuh dan terinjak entah oleh siapa. Yura ditabrak seseorang dari samping dan hampir jatuh sebelum tangan Richard menariknya ke balik tiang beton.
Dua pengawal paman Mia dilumpuhkan di dekat pintu masuk selatan, ditindih tiga petugas sekaligus di atas lantai keramik.
Paman Mia sendiri lolos. Ia berlari melawan arus, melompati pembatas peron, lalu menghilang ke mulut terowongan tempat kereta barang masuk.
Empat puluh menit kemudian, telepon yang ditunggu Richard akhirnya berdering.
Mama Richard ditemukan di lantai parkir hotel, di dalam mobil yang mesinnya sudah mati, dengan satu penjaga yang menyerah tanpa perlawanan begitu melihat polisi datang.
Richard tiba di sana ketika ibunya baru saja dibantu turun.
Perempuan itu tampak lebih tua sepuluh tahun daripada terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya lepas dari ikatan, dan ada bekas merah di pergelangan tangannya.
Ia memeluk Richard sambil menangis, keras, seperti orang yang menahan tangis itu terlalu lama.
"Maafkan Mama," katanya berkali-kali. "Maafkan Mama."
Richard tidak menjawab. Ia hanya memeluk lebih erat dan membiarkan ibunya menangis di bahunya di tengah lantai parkir yang berbau oli.
Setelah beberapa menit, Mama Richard menarik diri dan memegang kedua lengan anaknya.
"Dengar," katanya. "Kalian salah mencari."
"Mama, nanti saja."
"Tidak. Sekarang." Suaranya bergetar tetapi jelas. "Ketua yang sebenarnya bukan Kartika. Kartika hanya perantara."
Richard menatap wajah ibunya.
"Saya tahu siapa yang memimpin semuanya."