Raka tidak tidur selama dua malam berikutnya.
Ia memindahkan seluruh kata sandi yang diserahkan Siska ke satu berkas, lalu menelusuri transaksi yayasan mundur sampai delapan tahun ke belakang. Layar laptopnya memenuhi meja ruang rapat kecil yang dipinjamkan Richard, dan gelas kopi kosong berjejer di sampingnya seperti bukti kerja lembur.
Pada pagi ketiga, ia memanggil Richard dan Yura.
"Lihat ini," katanya. "Uang yayasan tidak cuma mengalir ke hakim dan media. Ada pembayaran rutin setiap tiga bulan ke sebuah organisasi politik lama yang sekarang sudah tidak aktif."
Yura mendekatkan wajahnya ke layar. "Nama penerimanya kosong."
"Bukan kosong. Diisi." Raka memperbesar satu kolom. "Tapi cuma satu huruf."
K.
Di seluruh catatan, di puluhan baris transaksi, penerimanya selalu ditulis dengan inisial yang sama. Tidak ada nama lengkap, tidak ada nomor rekening yang berulang, tidak ada alamat.
"Ketua mungkin seseorang yang memiliki pengaruh besar," kata Raka. "Orang biasa tidak perlu disembunyikan sampai sebegini rapi. Yang disembunyikan begini biasanya orang yang namanya saja sudah jadi bukti."
Richard berdiri di dekat jendela sambil menyilangkan tangan.
Ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk ingatannya sejak semalam. Sebuah percakapan, bertahun-tahun lalu, di ruang makan rumah lama. Ayahnya baru pulang dari rapat dan berbicara kepada seseorang di telepon dengan suara rendah, kalimat yang waktu itu tidak ia pahami.
Semua proyek ini ada yang mengatur dari belakang layar. Kita cuma tanda tangan.
"Saya ingin bicara dengan Surya," kata Richard.
Surya datang siang itu juga, membawa buku catatan tua bersampul kulit yang sudah retak di sudutnya. Lelaki itu bekerja untuk ayah Richard sejak sebelum Richard lahir, dan ia menulis semua yang tidak boleh masuk ke dalam arsip resmi.
"Saya butuh semua nama," kata Richard. "Siapa pun yang pernah masuk ke proyek Ayah dan tidak pernah muncul di dokumen."
Surya membuka catatannya perlahan, membalik halaman dengan jari yang gemetar karena usia. Ia berhenti di satu halaman, membacanya diam-diam, lalu menutup buku itu.
"Kartika," katanya.
Yura mengernyit. "Siapa?"
"Mantan rekan kerja ayah Richard. Dulu mereka membangun tiga proyek bersama, lalu berpisah baik-baik, setidaknya begitu yang dikatakan kepada publik." Surya menatap Richard. "Sekarang Kartika duduk sebagai ketua dewan investasi nasional."
Nama itu bukan nama yang asing bagi siapa pun.
Wajah Kartika ada di sampul majalah bisnis, di panggung seminar, di foto peresmian sekolah dan rumah sakit. Orang menyebutnya dermawan. Namanya tertempel di beasiswa dan di gedung perpustakaan kampus.
Raka membuka arsip publik dan menemukan yang ia cari dalam sepuluh menit.
"Kartika punya tiga perusahaan patungan dengan keluarga Mia," katanya. "Semuanya didirikan di tahun yang sama dengan pembayaran pertama ke inisial K."
Richard menutup laptop.
"Kita undang secara resmi," katanya. "Bukan datang diam-diam. Kalau kita datang seperti orang mencurigai, dia akan bersiap. Kalau kita datang sebagai perusahaan yang minta penjelasan, dia harus menjawab."
Undangan pertemuan dikirim pagi berikutnya, dan jawabannya datang dalam dua jam. Tempatnya ditentukan oleh pihak Kartika: sebuah hotel mewah di pusat kota, lantai atas, ruang pertemuan pribadi dengan pemandangan seluruh kota.
Di dalam lift menuju lantai atas, Yura menyalakan perekam suara di ponselnya dan memasukkannya ke saku blazer.
"Kalau dia memang Ketua, dia nggak akan mengaku," bisiknya.
"Saya tidak berharap dia mengaku," kata Richard. "Saya ingin melihat wajahnya waktu dia membaca angka-angka itu."
"Dan kalau wajahnya datar saja?"
"Berarti dia sudah tahu kita akan datang membawa apa."
Kartika sudah menunggu ketika Richard dan Yura masuk, didampingi dua pengacara berjas gelap yang tidak diperkenalkan namanya.
"Richard." Kartika berdiri dan mengulurkan tangan. "Saya turut prihatin atas masalah keluarga Anda. Ayah Anda pasti tidak ingin melihat semua ini."
Richard menjabat tangan itu. Genggamannya kuat dan hangat, terlalu hangat.
"Anda mengenal ayah saya," katanya sambil duduk.
"Kami pernah bekerja sama. Waktu itu semuanya masih sederhana." Kartika menuang teh untuk tamunya sendiri, gerakan yang tampak tulus. "Ayah Anda orang baik. Terlalu baik untuk dunia ini, kalau boleh saya jujur."
Richard membuka map yang ia bawa dan meletakkan salinan catatan transaksi yayasan di atas meja, menghadap Kartika.
"Kalau begitu Anda mungkin bisa menjelaskan ini."
Kartika membaca dengan tenang. Tidak ada perubahan pada wajahnya, tidak ada kedipan yang terlalu cepat, tidak ada napas yang tertahan. Salah satu pengacara hendak mengambil kertas itu, tetapi Kartika menahannya dengan satu gerakan jari.
"Jangan menuduh tanpa bukti," katanya akhirnya.
"Kami memiliki rekaman, saksi, dan aliran dana," jawab Richard. "Kepala keuangan saya sudah memberi keterangan. Nama yayasan itu ada di dalam rekaman suara ayah Mia. Dan inisial di kolom penerima ini muncul lima puluh dua kali."
Ruangan itu hening beberapa detik. Di bawah sana, klakson kota terdengar samar melalui kaca tebal.
Lalu Kartika tersenyum.
Senyum itu yang paling membuat Yura merinding. Bukan senyum marah, bukan senyum tersinggung. Senyum orang yang sedang menjelaskan aturan main kepada anak kecil.
"Bukti bisa menghilang, Richard," katanya pelan. "Saksi bisa berubah keterangan. Saya sudah melihat itu terjadi berkali-kali, dan tidak sekali pun saya perlu turun tangan."
"Itu ancaman."
"Itu pengalaman." Kartika meletakkan cangkirnya. "Saya cuma menyarankan. Anda sebaiknya menghentikan pencarian ini sebelum keluarga Anda kehilangan lebih banyak. Anda sudah kehilangan ayah. Adik Anda sudah tertembak sekali. Ibu Anda ada di tahanan. Berapa banyak lagi yang Anda siapkan untuk dibayar?"
Yura meletakkan ponselnya di atas meja, layarnya menghadap ke atas, perekam suara masih berjalan dengan angka merah yang bergerak.
"Ancaman itu terekam," katanya.
Untuk pertama kalinya ekspresi Kartika berubah, hanya sekejap, hanya di sekitar mata.
Lalu ia berdiri, merapikan jas, dan mengangguk sopan kepada keduanya.
"Terima kasih atas waktunya. Pengacara saya akan menghubungi pengacara Anda."
Orang itu keluar tanpa menoleh lagi, diikuti dua pengacaranya, meninggalkan teh yang masih penuh di meja.
Yura mematikan perekam dan baru menyadari telapak tangannya basah. Ia sudah pernah menghadapi calon mertua yang rewel, vendor yang menaikkan harga tiga hari sebelum acara, dan pengantin yang membatalkan pernikahan di depan lima ratus undangan. Tidak satu pun terasa seperti duduk sepuluh menit di depan orang itu.
"Gue nggak tahu harus takut atau lega," katanya.
Richard tidak menjawab. Ponselnya bergetar di saku.
Pesan dari penyidik yang menangani kasus ibunya.
Mama Richard baru saja dipindahkan ke rumah tahanan lain pagi tadi, dengan surat perintah yang belum diperiksa ulang, dan tanpa satu pun pengawalan yang seharusnya menyertainya.
Richard membaca kalimat terakhir dua kali.
Ada kemungkinan seseorang sedang mencoba menculiknya.