Richard memanggil kepala keuangan perusahaannya ke ruang rapat pukul sembilan pagi.
Ia sengaja memilih ruangan besar di lantai sepuluh, yang biasa dipakai rapat dewan, dengan meja panjang dan dinding kaca menghadap kota. Ia ingin perempuan itu duduk di ruangan yang selama ini membuatnya merasa punya kuasa.
Yura duduk di sisi kiri, Raka di ujung meja dengan laptop terbuka. Dua penyidik menunggu di ruangan sebelah.
Siska datang tepat waktu.
Ia masuk dengan blazer abu-abu, map kerja di ketiak, dan wajah setenang orang yang datang untuk membahas anggaran bulanan. Tidak ada keringat, tidak ada tangan yang gemetar. Ia menarik kursi, duduk, lalu tersenyum sopan.
"Selamat pagi, Pak Richard."
Richard tidak membalas salam itu. Ia memberi isyarat kepada Raka.
Raka memutar layar laptop menghadap Siska dan menekan tombol putar. Video dari kartu memori yang ditemukan di kantor Cantika berjalan: paman Mia di meja bundar, dan seorang perempuan bersyal yang berbicara tentang laporan kuartal yang ditahan.
Siska menonton sampai selesai tanpa berkedip.
"Kami ingin penjelasan," kata Richard.
Perempuan itu menyandarkan punggung ke kursi dan tersenyum tipis.
"Suara bisa dipalsukan, Pak. Sekarang ada banyak program yang bisa meniru siapa saja. Saya rasa Bapak cukup paham teknologi untuk tahu itu."
Richard membuka map di depannya dan mendorong selembar kertas ke tengah meja.
"Kami juga memiliki catatan transfer ke rekeningmu," katanya. "Enam kali dalam empat bulan. Semuanya dari dua perusahaan yang alamatnya sama dengan alamat yayasan paman Mia. Nominalnya rapi, selalu di bawah batas pelaporan."
Senyum di wajah Siska hilang perlahan, seperti air yang surut dari pasir.
Ia menatap kertas itu lama. Jari telunjuknya bergerak sedikit di atas meja, lalu berhenti.
"Anak saya sepuluh tahun," katanya akhirnya, dan suaranya sudah berbeda.
Yura menegakkan punggung.
"Tiga bulan lalu ada orang menjemputnya di sekolah," lanjut Siska. "Memakai mobil yang sama dengan mobil jemputan kami, membawa surat izin dengan tanda tangan saya yang dipalsukan. Mereka mengembalikannya sore itu juga, lengkap, tanpa luka. Dua jam kemudian saya menerima foto anak saya sedang makan es krim di kursi belakang mobil itu."
"Dan Anda mulai menerima uang," kata Richard.
"Saya mulai menerima perintah. Uangnya datang belakangan, supaya saya tidak bisa mundur." Siska menunduk. "Setiap kali saya berpikir untuk melapor, mereka mengirim foto baru. Anak saya di depan rumah. Anak saya di lapangan sekolah."
"Di mana anakmu sekarang?" tanya Yura.
"Di rumah neneknya, di pinggir kota." Siska mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya matanya basah. "Saya kirim ke sana dua minggu lalu. Tapi saya tidak tahu apakah mereka benar-benar aman."
Raka meminta ponsel perempuan itu. Siska menyerahkannya tanpa membantah, bahkan menyebutkan kata sandinya sendiri.
Beberapa menit kemudian Raka menemukan yang ia cari: riwayat lokasi, foto-foto rumah dengan pagar hijau, dan satu nomor yang selalu menghubungi Siska dari sambungan berbeda.
Polisi bergerak lebih dulu.
Ruangan itu menunggu hampir satu jam dalam diam. Siska duduk memegang gelas air yang tidak ia minum. Yura memperhatikan perempuan itu dan menyadari sesuatu yang tidak nyaman: dalam keadaan yang sama, entah apa yang akan ia lakukan sendiri kalau yang disandera adalah Neli, atau ibunya di kampung.
Richard keluar sebentar ke koridor. Yura menyusul dan berdiri di sampingnya, sama-sama menghadap pintu lift yang tertutup.
"Lo percaya cerita dia?" tanya Yura.
"Saya percaya bagian anaknya," kata Richard. "Bagian dirinya, belum."
"Kenapa?"
"Karena orang yang benar-benar terpaksa biasanya berhenti di satu perintah. Siska bertahan empat bulan, dan menahan laporan kuartal bukan pekerjaan satu malam." Richard memijat pangkal hidungnya. "Tapi kalau saya salah, dan saya menyerahkan dia begitu saja ke polisi, anak itu yang membayar."
Yura memandanginya. Dua bulan lalu lelaki ini akan langsung memanggil pengacara dan menyuruh petugas keamanan mengeluarkan Siska dari gedung. Sekarang ia berdiri di koridor, menimbang dua kemungkinan sampai keningnya berkerut.
Telepon dari penyidik masuk pukul sebelas lewat.
Anak Siska ditemukan dalam keadaan sehat, sedang menonton televisi bersama pengasuhnya. Tidak ada penculik, tidak ada orang yang berjaga di sekitar rumah.
Namun di ruang tamu, di dalam jam dinding, petugas menemukan sebuah kamera kecil yang masih menyala.
Siska menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan.
"Mereka tidak perlu menculiknya lagi," kata Raka pelan. "Mereka cukup menontonnya setiap hari supaya Anda tetap patuh."
Setelah tangisnya reda, Siska mulai bicara tanpa perlu ditanya.
Ia menyerahkan seluruh kata sandi yang ia pegang: akun keuangan perusahaan, arsip laporan lama, dan sistem persetujuan pembayaran yang selama ini hanya bisa dibuka olehnya dan Arman. Ia juga menyebutkan di mana server Cantika Wedding Organiser dibawa.
"Ke kantor yayasan," katanya. "Ruang bawah tanahnya dipakai menyimpan semua barang yang tidak boleh sampai ke polisi."
"Untuk apa mereka membutuhkan server kantor Yura?" tanya Richard.
"Untuk alamat, jadwal, dan daftar tamu. Tapi yang paling mereka inginkan bukan itu." Siska menarik napas. "Paman Mia ingin menghapus bukti transaksi dan mengganti laporan keuangan perusahaan Bapak. Laporan yang baru sudah disiapkan sejak dua bulan lalu, tinggal ditandatangani setelah Bapak dipaksa mundur."
Richard menatap kota dari balik dinding kaca. Di bawah sana orang-orang berjalan ke kantor masing-masing, tidak tahu bahwa sebuah perusahaan bisa dibongkar dari dalam oleh satu tanda tangan.
Ia meminta penyidik masuk, lalu menandatangani sendiri pernyataan permohonan perlindungan saksi untuk Siska dan anaknya.
"Bapak tidak memecat saya?" tanya Siska, hampir tidak percaya.
"Saya memecat Anda dari jabatan, bukan dari perlindungan," jawab Richard. "Anda tetap akan bertanggung jawab di pengadilan. Tapi anak Anda tidak ikut bersalah."
Siska mengangguk berkali-kali, tidak sanggup bicara.
Menjelang siang, dua petugas menjemputnya untuk dibawa ke lokasi aman bersama anaknya. Ia berdiri di ambang pintu ruang rapat, memegang tas kerjanya dengan dua tangan seperti anak sekolah, lalu berbalik.
"Pak Richard."
Richard menoleh.
"Ada satu hal yang harus Bapak tahu," katanya. "Paman Mia bukan orang yang memutuskan apa pun. Dia menerima perintah."
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.
"Dari siapa?" tanya Yura.
"Saya tidak pernah melihat orangnya. Dia tidak pernah muncul di depan umum, tidak pernah ada di foto, tidak pernah disebut namanya di telepon." Siska menelan ludah. "Mereka semua hanya memanggilnya Ketua."
Pintu tertutup di belakangnya, dan nama itu tinggal di ruangan bersama mereka.
Petunjuk baru. Dan kali ini bahkan bukan sebuah nama.