Yura tiba di Cantika Wedding Organiser menjelang tengah malam bersama Richard, Raka, dan Livia.
Dari ujung gang ia sudah tahu keadaannya buruk. Lampu teras kantor menyala, padahal ia yakin sudah dimatikan kemarin. Pintu kaca depan terbuka lebar dan tidak ada satu pun daun pintu yang utuh.
Kaca jendela pecah sampai ke trotoar. Serpihannya berkilau di bawah lampu jalan seperti pasir basah.
Yura melangkah masuk dan berhenti di tengah ruangan.
Dokumen klien berserakan di lantai. Map-map yang biasa berdiri rapi di rak sekarang tergeletak terbuka, kertasnya terinjak sepatu, beberapa robek di bagian tengah. Papan jadwal acara yang ia tulis sendiri dengan spidol warna sudah dijatuhkan dari dinding. Vas bunga plastik di meja tamu pecah dan airnya membasahi karpet.
Neli duduk di sudut ruangan, di lantai, memeluk lututnya. Tangannya gemetar memegang ponsel yang layarnya masih menyala.
"Neli."
Perempuan itu mendongak, lalu langsung menangis begitu melihat Yura.
"Mereka datang sekitar setengah jam lalu," katanya. "Empat orang. Mereka tidak berteriak, tidak memaki, tidak mengambil uang kas. Mereka cuma mencari file pembayaran dan alamat rumahmu."
Yura berlutut dan memeluknya erat-erat. Badan Neli dingin.
"Lo terluka?"
"Tidak." Neli menggeleng cepat. "Mereka tidak menyentuh aku. Mereka menyuruh aku duduk di sini dan tidak menelepon siapa pun sampai mereka pergi. Tapi mereka mengambil server utama, Yur."
Yura memejamkan mata sebentar.
Server itu berisi seluruh riwayat pekerjaan mereka selama lima tahun. Kontrak, jadwal, kuitansi vendor, foto dokumentasi, nomor telepon seluruh klien. Semua yang ia bangun dari nol sejak menyewa ruko kecil ini dengan uang tabungan.
Richard berjalan mengelilingi ruangan tanpa menyentuh apa pun, memperhatikan dengan cara seseorang yang terbiasa membaca laporan kerugian.
"Tidak ada barang pribadi yang hilang," katanya akhirnya. "Laptop Neli masih di meja. Kamera masih di lemari. Bahkan uang di laci kasir tidak disentuh."
"Jadi mereka cuma mengambil dokumen," kata Yura.
"Dokumen yang berkaitan dengan saya dan dengan kamu." Richard menoleh. "Ini bukan pencurian. Ini pesan."
Livia bersandar di kusen pintu, wajahnya masih pucat karena baru keluar dari rumah sakit beberapa jam lalu. "Mereka ingin kalian takut membuka kantor besok pagi."
Raka tidak ikut berbicara. Ia berjongkok, menyorotkan senter ke kolong meja resepsionis, lalu menariknya keluar dengan ujung pulpen.
Sebuah kartu memori kecil berwarna hitam.
"Bukan milik kalian?" tanyanya.
Neli menggeleng. "Punya kantor semuanya biru. Aku yang beli."
Raka memasangnya ke pembaca kartu di laptop Richard. Hanya ada satu berkas video di dalamnya, berdurasi dua menit, direkam dari kamera pengawas di sebuah ruangan yang tidak terlalu terang.
Di layar, paman Mia duduk di meja bundar, berbicara dengan seorang perempuan yang wajahnya tertutup syal dan topi. Hanya suara perempuan itu yang terdengar jelas.
"Laporan kuartal itu sudah saya tahan. Kalau Richard meminta audit ulang, dia akan menemukan selisihnya."
"Kamu punya waktu dua minggu."
Raka menghentikan pemutaran. "Suara perempuan ini seperti seseorang dari perusahaanmu."
Richard mengambil alih laptop, menaikkan volume, memutar ulang bagian yang sama tiga kali. Ia menutup mata untuk mendengar lebih baik: cara perempuan itu menekan huruf s, jeda pendek sebelum mengucapkan angka.
Ia mengenalinya.
"Kepala keuangan," katanya pelan. "Perempuan yang selama ini bekerja paling dekat dengan Arman. Dia yang menandatangani setiap laporan sebelum sampai ke meja saya."
"Mereka punya orang di setiap tempat," kata Yura.
"Di perusahaan, di rumah sakit, di kepolisian, dan sekarang di kantor kamu." Richard menutup laptop. "Setiap kali kita menutup satu pintu, mereka sudah punya kunci pintu berikutnya."
Yura berdiri dan memandang sekeliling ruangan yang hancur itu.
Ada bagian dari dirinya yang ingin duduk di lantai dan menangis bersama Neli. Ada bagian lain yang justru mengeras. Kantor ini bukan sekadar tempat kerja. Ini yang membuatnya bisa membayar kost, mengirim uang ke kampung, dan berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia bisa berdiri tanpa siapa pun, termasuk tanpa lelaki yang dulu meninggalkannya tanpa penjelasan.
"Kita tidak boleh berhenti bekerja hanya karena mereka ingin menghancurkan kita," katanya.
Neli mengusap wajahnya dengan lengan baju, lalu mengangguk. "Besok ada fitting baju keluarga Pak Hadi jam sepuluh."
"Berarti besok jam sembilan ruangan ini sudah harus bisa dilihat orang."
Neli tertawa kecil di sela tangisnya, tawa yang lebih mirip cegukan. "Lo memang nggak pernah kasih libur."
"Libur nanti, kalau kita sudah menang," kata Yura.
Mereka mulai bekerja malam itu juga. Livia duduk di kursi dan menyortir kertas yang masih utuh dengan satu tangan. Raka memotret setiap sudut ruangan untuk polisi sebelum apa pun digeser. Yura memungut sebuah map yang terinjak dan mengenalinya sebagai kontrak klien pertama Cantika, sepasang guru yang menikah dengan anggaran seadanya lima tahun lalu. Sampulnya sobek di tengah. Ia menahannya di dada beberapa detik sebelum meletakkannya ke tumpukan, lalu melanjutkan menyapu tanpa berkata apa-apa.
Richard mengangkat rak yang roboh dan menyapu pecahan kaca ke sudut tanpa diminta, jasnya ditinggal di kursi.
Ketika ruangan mulai terlihat seperti kantor lagi, Richard berdiri di dekat pintu.
"Ada ruang kosong di lantai bawah gedung perusahaan saya," katanya. "Bekas kantor pemasaran. Kalian bisa pakai sementara sampai tempat ini aman. Ada penjaga dua puluh empat jam."
Yura menggeleng pelan. "Kalau kami pindah ke tempatmu, mereka semakin mudah menuduh."
"Menuduh apa?"
"Bahwa Cantika cuma perusahaan boneka mantan pacar." Yura menatapnya. "Mereka sudah menulis itu sekali di media. Kalau kami benar-benar pindah, tuduhan itu jadi kelihatan benar."
Richard diam sebentar, menerima kalimat itu tanpa marah.
"Biarkan mereka menuduh," katanya akhirnya. "Yang penting kalian aman. Reputasi bisa diperbaiki, Yura. Orang yang hilang tidak bisa."
Yura tidak menjawab, tetapi ia juga tidak menolak lagi.
Menjelang pukul tiga pagi, Neli menemukan cetakan daftar klien di dalam laci yang tidak ikut dibawa. Ia mencocokkannya dengan berkas cadangan di ponselnya, satu per satu, sampai ketemu nama-nama mana saja yang ikut hilang bersama server.
Sebagian besar adalah klien biasa. Pengantin, ulang tahun, syukuran kantor.
Namun satu nama membuat Richard berhenti mengaduk kopi instan yang baru saja dibuatkan Neli.
Keluarga seorang pejabat yang dijadwalkan bersaksi dalam kasus ayah Mia bulan depan. Mereka memesan acara pernikahan anak sulungnya lewat Cantika tiga bulan lalu.
"Alamat rumah, nomor telepon anak-anaknya, jadwal kedatangan tamu," kata Richard. "Semua ada di server itu."
Yura merasa dingin menjalar dari tengkuknya.
Serangan ke kantornya ternyata bukan hanya untuk menakut-nakuti dirinya.
Mereka juga sedang mencari jalan membungkam saksi.