Richard berdiri di depan kamar rumah sakit yang kosong itu dengan dada terasa sesak.
Seprai masih hangat. Gelas air di meja masih separuh penuh. Adiknya baru ditemukan kemarin sore, dan dalam hitungan menit ia kembali hilang.
Perawat yang tergeletak di lantai mulai sadar. Seorang dokter menopang kepalanya, dan perempuan itu langsung memberi keterangan dengan suara serak.
"Mereka datang memakai seragam petugas kebersihan," katanya. "Tiga orang, mendorong troli. Salah satu membawa surat pemindahan pasien dengan kop rumah sakit."
"Anda tidak curiga?" tanya penyidik.
"Saya curiga. Saya minta mereka menunggu sampai saya menelepon bagian administrasi." Ia menyentuh lengannya sendiri. "Salah satu memegang tangan saya, lalu ada yang menyuntikkan sesuatu ke sini."
Raka sudah berada di ruang keamanan memutar rekaman kamera. Dua orang membawa Livia melalui lift servis dengan selimut menutupi tubuhnya, lalu memasukkannya ke sebuah van putih di pintu barang.
"Nomor kendaraannya tertutup plat kosong," kata Raka. "Tapi saya tahu ke mana mereka pergi."
Richard menoleh cepat. "Bagaimana?"
"Karena saya sudah dua tahun mengikuti mereka." Raka menunjuk arah keluar di layar. "Mereka memakai rute yang sama setiap kali memindahkan saksi lama. Keluar lewat jalan pelabuhan, lalu berhenti di gudang pendingin yang sudah tidak beroperasi."
Yura sudah menempelkan ponsel ke telinga, menghubungi polisi yang menangani kasus itu. Raka menggeleng melihatnya.
"Jangan menunggu terlalu lama," katanya. "Kalau mereka sempat membawa Livia keluar kota, jejaknya hilang malam ini juga."
"Kita harus bergerak sekarang," kata Richard.
Ia memasukkan kartu memori ke saku dalam jaketnya dan menekannya sekali untuk memastikan benda itu ada. Yura menerima rompi pelindung dari seorang petugas dan memasangnya sambil berjalan. Raka memeriksa senjatanya dan membuka peta pelabuhan di layar ponsel, sementara polisi menyiapkan dua kendaraan di halaman belakang.
Di perjalanan, jalanan basah memantulkan lampu kota. Richard duduk di kursi depan dan memandang Raka lewat kaca spion.
"Kenapa kamu tidak pernah menghubungi Ayah?" tanyanya.
Raka tetap memandang jalan. "Karena dia tidak pernah menghubungi saya. Dia hanya mengirim uang setiap bulan, dan mengirim orang untuk mengawasi dari jauh. Saya tumbuh tanpa tahu siapa keluarga saya."
"Dia mungkin berusaha melindungi kamu."
"Perlindungan tanpa kasih sayang tetap terasa seperti ditinggalkan."
Richard tidak membalas. Ia memahami perasaan itu lebih dari yang ingin ia akui. Ia sendiri pernah merasa ditinggalkan ketika ayahnya meninggal tanpa menjelaskan apa pun, menyisakan perusahaan, utang cerita, dan diam yang panjang.
Gudang pendingin berada di ujung pelabuhan, di deretan bangunan yang catnya sudah terkelupas oleh garam laut. Pintu belakangnya terbuka sedikit. Dari dalam terdengar dengung mesin pendingin yang entah kenapa masih menyala.
Polisi mengepung bangunan dari tiga sisi. Richard, Yura, dan Raka masuk melalui sisi timur.
Udara di dalam dingin dan berbau besi. Lantainya basah oleh embun beku yang mencair. Mereka menemukan bekas roda van yang masih jelas, sepotong kain biru yang Yura kenali sebagai bagian dari baju rumah sakit Livia, dan beberapa tetes darah kecil yang belum mengering.
Tidak ada tubuh. Tidak ada penculik.
Raka berjongkok dan mendekatkan telapak tangannya ke ventilasi lantai.
"Ada aliran udara dari bawah," katanya. "Mereka memindahkannya ke ruang bawah."
Tangga menuju ruang bawah tanah tersembunyi di balik rak besi yang bisa digeser. Di bawah sana ada meja dengan sebuah kamera kecil dan layar yang masih menyala. Rekaman di layar itu menunjukkan Livia duduk terikat di sebuah ruangan yang jelas bukan gudang ini.
Pengeras suara di sudut berdecit, lalu terdengar suara lelaki yang memakai topeng.
"Berikan kartu memori itu, Richard."
Richard mendekati kamera. "Lepaskan Livia."
"Kamu tidak dalam posisi menawar."
"Justru sebaliknya." Richard menatap lensa kecil itu tanpa berkedip. "Kamu menginginkan bukti yang ada pada saya. Kalau Livia mati, bukti itu akan tersebar otomatis ke tiga redaksi dan kantor kejaksaan."
Lelaki di pengeras suara itu terdiam.
Raka menoleh kepada Richard dengan tatapan yang setengah kagum. Ia tidak tahu apakah Richard benar-benar sudah mengatur pengiriman otomatis atau sedang berjudi dengan kalimat kosong, tetapi ancaman itu berhasil membuat suara di seberang berhenti bicara.
"Kita bertemu di lantai tiga," kata suara itu akhirnya. "Datang dengan satu orang."
Richard membuka mulut hendak menjawab, tetapi layar mendadak padam.
Polisi menyusuri kabel listrik dan menemukan sambungannya menuju ruangan belakang. Mereka mendobrak pintu. Seorang lelaki bertubuh kurus sedang menutup laptop dan berusaha kabur lewat jendela. Raka menariknya dan menjatuhkannya ke lantai, sedangkan Richard merampas komputer itu sebelum sempat dibanting.
"Di mana Livia?" teriak Yura.
Lelaki itu tertawa, giginya berdarah. "Kalian terlambat. Dia sudah dibawa ke tempat lain sejak sepuluh menit lalu."
Richard membuka laptop. Layar masih menampilkan peta digital dengan beberapa titik, dan satu tanda merah berkedip di daerah perumahan lama: sebuah gudang tua milik yayasan keluarga Mia.
"Kita berangkat," katanya.
Polisi membawa lelaki tadi ke kendaraan, tetapi Richard dan Raka tidak menunggu. Yura menolak ditinggal dan naik ke mobil bersama mereka, memegang sabuk pengaman dengan kedua tangan di sepanjang jalan.
Bangunan yayasan itu tampak seperti kantor sosial biasa: pagar rendah, papan nama yang sudah pudar, dan taman kecil yang dirawat seadanya. Namun pintu belakangnya dijaga dua lelaki bertubuh besar.
Polisi menahan keduanya dalam waktu kurang dari satu menit. Richard dan Raka masuk ke ruang utama, melewati meja resepsionis berdebu dan lemari arsip yang isinya map-map kosong.
Livia ditemukan di ruang bawah tanah, duduk bersandar di dinding, lemah tetapi sadar. Perban di bahunya merembes sedikit.
Ia terkejut melihat Raka.
"Kamu anak ayah Richard," katanya.
Raka berlutut dan melepas ikatan di pergelangan tangan perempuan itu. "Dan kamu adikku."
Livia memandang Richard dengan mata yang basah. "Mereka memaksaku mengatakan bahwa kartu memori itu palsu. Mereka merekam suaraku berulang-ulang sampai aku mau. Tapi aku menemukan siapa yang membayar mereka."
"Siapa?"
Livia menggerakkan kakinya dan mengeluarkan sebuah ponsel kecil yang ia sembunyikan di dalam sepatu. Layarnya retak, tetapi satu foto masih bisa dibuka.
Di foto itu, seorang lelaki berjas menyerahkan amplop tebal ke tangan salah satu penculik.
Richard mengenali wajah itu tanpa perlu memperbesar gambar.
Paman Mia. Ketua yayasan yang selama ini dianggap keluarga terhormat, yang datang ke pemakaman ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Dia tidak sendirian," kata Livia. "Ada orang dari perusahaanmu yang membantu membuka semua akses. Pintu gudang, kartu masuk, jadwal pengawalan. Semuanya dari dalam."
Richard menoleh kepada Raka.
Raka menggeleng. "Bukan saya."
Ponsel Yura berdering nyaring di ruangan bawah tanah itu. Nama Neli muncul di layar, dan begitu panggilan diangkat, yang terdengar lebih dulu adalah isak tangis.
"Yura, seseorang baru saja masuk ke kantor Cantika Wedding Organiser," kata Neli. "Mereka mengambil semua dokumen klien. Mereka meninggalkan pesan untukmu."
"Pesan apa?"
Neli membacanya dengan suara bergetar.
"Kalau keluarga Richard bersatu, kami akan menghancurkan keluarga Yura lebih dulu."
Yura menurunkan ponsel dan menatap Richard.
Kali ini ancaman itu tidak lagi ditujukan kepada satu orang.
Mereka semua telah menjadi sasaran.