Richard tidak bisa menerima bahwa nama ayahnya muncul dalam surat yang ditemukan di rumah hakim pensiunan itu.
Ia meminta penyidik memperlihatkan foto lokasi dan seluruh isi dokumen. Kertasnya sudah rusak di beberapa bagian, tintanya luntur karena embun pagi, dan hanya satu kalimat yang masih terbaca jelas.
"Dia tahu tentang anak kedua dan tetap memilih diam."
"Anak kedua?" Yura membaca ulang kalimat itu dari balik bahu Richard. "Maksudnya Livia?"
Richard memandang layar ponselnya, ke foto Livia yang masih dirawat di rumah sakit dengan dua petugas berjaga di depan pintu.
"Mungkin bukan hanya Livia," katanya.
Elena dipanggil ke kantor polisi sore itu. Ia membaca kalimat tersebut dua kali, dan warna wajahnya berubah sebelum ia sempat menutupinya.
"Ayahmu pernah mengatakan ada seseorang lain yang harus dilindungi," katanya. "Dia tidak pernah menyebut nama. Saya kira dia sedang membicarakan kamu."
"Tapi ternyata bukan."
"Saya tidak tahu, Richard. Sungguh."
Kepala Richard berdenyut di belakang mata. Keluarga yang selama ini ia kira ia kenal ternyata seperti rumah dengan terlalu banyak pintu terkunci.
Dua hari kemudian, penyidik menemukan sidik jari pada surat itu. Bukan milik hakim, bukan milik orang-orang ayah Mia, melainkan milik seorang mantan sekretaris ayah Richard bernama Nadia. Perempuan itu tinggal di kota kecil enam jam perjalanan dari ibu kota dan tidak pernah sekali pun muncul dalam berkas kasus.
Richard dan Yura mendatanginya bersama polisi.
Rumah Nadia kecil, catnya mengelupas, dengan pot-pot tanaman di teras yang jelas dirawat setiap hari. Perempuan itu membuka pintu hanya selebar wajahnya, lalu ragu ketika melihat seragam polisi.
Richard mengeluarkan foto ayahnya dari dompet.
Nadia menatap foto itu lama sekali. Bahunya turun, dan pintu dibuka lebar.
"Saya menunggu kalian selama bertahun-tahun," katanya.
Di ruang tamu, di bawah meja kayu yang tertutup taplak plastik, ada sebuah kotak seng berisi surat-surat terakhir ayah Richard. Nadia menjelaskan bahwa sebelum meninggal, lelaki itu memintanya menyimpan semuanya dan hanya menyerahkannya jika keluarganya mulai terancam.
"Kenapa baru sekarang menyerahkannya?" tanya Richard.
"Karena saya takut," jawab Nadia, dan matanya bergerak ke arah jendela. "Orang-orang ayah Mia terus mengawasi rumah saya. Dua kali dalam sebulan ada mobil berhenti di depan sampai pagi."
Richard membuka surat paling atas.
Tulisan tangan ayahnya masih ia kenali: huruf besar yang miring ke kanan, dan titik yang selalu ditekan terlalu dalam. Di surat itu ayahnya menulis bahwa ia memiliki seorang anak lain sebelum menikah dengan Mama Richard. Anak itu lahir dari hubungan singkat dengan perempuan bernama Mara.
Yura memandang Richard. "Apakah Mara sama dengan Elena?"
Nadia menggeleng. "Bukan. Elena adalah orang yang membantunya setelah anak itu lahir. Mereka berteman sejak lama."
Surat berikutnya lebih pendek. Isinya menjelaskan bahwa anak tersebut diserahkan kepada keluarga angkat agar tidak menjadi sasaran siapa pun. Di bagian bawah tercantum satu nama.
Raka.
"Saudara laki-laki," kata Richard lirih.
Nadia mengangguk. "Raka sekarang bekerja sebagai penyelidik independen. Ayahmu meminta saya mengikuti keberadaannya dari jauh, mencatat kota tempat dia tinggal, memastikan dia sehat. Tetapi saya tidak pernah boleh menghubunginya."
Richard menutup mata sebentar.
Tiba-tiba banyak potongan kejadian terasa saling berhubungan. Ada orang yang selalu lebih dahulu sampai di lokasi. Ada orang yang tahu isi dokumen sebelum polisi membukanya. Ada pesan ancaman yang datang pada waktu yang terlalu tepat. Selama ini ia mengira itu pekerjaan musuh, padahal mungkin ada orang dekat yang mengamati mereka.
"Richard," panggil Yura. "Lihat ini."
Ia menunjuk surat terakhir. Ayah Richard menulis bahwa Raka sudah mengetahui identitasnya dan pernah nekat menemui ayah Mia. Pertemuan itu berakhir dengan ancaman terbuka.
Polisi melacak Raka melalui catatan perjalanan dan sewa kendaraan. Hasilnya membuat ruangan itu hening: Raka terakhir terlihat di jalan dekat rumah hakim pensiunan, pada malam kematian lelaki tua tersebut.
Richard tidak mau langsung menuduh.
"Saya ingin berbicara dengannya dulu," katanya. "Sekali saja, sebelum siapa pun menyebutnya tersangka."
Mereka menemukan alamat sebuah kantor kecil di lantai dua ruko yang separuh kosong. Pintunya tidak terkunci. Di dalam, ruangan itu kosong tanpa orang, tetapi jelas masih dipakai. Di atas meja tergelar peta proyek perusahaan Richard, foto Elena yang diambil diam-diam, dan foto Livia ketika masih kecil dengan seragam sekolah dasar.
"Raka mengawasi semua orang," kata Yura.
Sebuah suara datang dari belakang mereka.
"Saya mengawasi untuk memastikan kalian tetap hidup."
Seorang lelaki berdiri di ambang pintu. Usianya sekitar tiga puluh tahun, jaketnya basah kena gerimis, dan wajahnya memiliki kemiripan yang terlalu kuat untuk kebetulan, terutama pada mata dan bentuk rahangnya.
"Raka?" tanya Richard.
Lelaki itu mengangguk pelan. "Kamu akhirnya menemukan saya."
Richard tidak bergerak. Ia merasa sedang melihat bayangan dirinya sendiri yang tumbuh di kehidupan lain, di rumah lain, dengan nama belakang yang bukan miliknya.
"Apakah kamu membunuh hakim itu?"
"Tidak." Jawaban Raka datang tanpa jeda. "Saya tiba ketika dia sudah mati. Saya mengambil suratnya supaya tidak jatuh ke tangan orang-orang yang mengejar kalian."
"Kenapa kamu tidak memberi tahu kami?"
Raka tersenyum pahit. "Karena saya tidak yakin kamu akan mempercayai saya. Ayah kita meninggalkan saya seperti rahasia, sementara kamu mewarisi namanya dan perusahaannya."
Yura melangkah maju di antara mereka berdua.
"Raka," katanya, "kalau kamu memang ingin kebenaran terungkap, bantu kami. Bukan dari jauh. Sekarang."
Raka menatap Yura beberapa saat, seperti mengukur kesungguhan perempuan itu. Lalu ia merogoh saku dan menyerahkan sebuah kartu memori.
"Di dalamnya ada rekaman pembicaraan ayah Mia dengan seseorang yang lebih berkuasa," katanya. "Orang itu bukan Mama Richard dan bukan Satrio."
Richard memasukkan kartu itu ke laptop di meja. Rekaman berjalan buram, diambil dari sudut yang rendah. Ayah Mia terlihat duduk membelakangi kamera, berbicara dengan seorang lelaki yang wajahnya tidak pernah masuk ke dalam bingkai.
"Kamu menjanjikan perusahaan itu," kata lelaki tersebut.
"Setelah Richard menandatangani kontrak, semuanya menjadi milik kita."
"Dan anakmu?"
"Mia akan dikorbankan jika perlu."
Yura menutup mulutnya dengan punggung tangan.
Rekaman berakhir dengan suara lelaki itu menyebut nama sebuah yayasan, yayasan yang selama bertahun-tahun menerima dana rutin dari perusahaan Richard sebagai program sosial.
Raka menunjuk logo yang muncul di sudut layar. "Yayasan itu tidak memiliki kegiatan nyata. Tidak ada sekolah, tidak ada klinik. Dananya dipakai membayar hakim, membayar media, dan membayar orang bersenjata."
Richard membaca nama ketua yayasan di bawah logo, dan seluruh tubuhnya menegang.
Itu paman Mia. Orang yang selama ini duduk tenang sebagai penasihat kehormatan di perusahaan keluarganya sendiri.
Kaca jendela kantor pecah sebelum ia sempat mengucapkan nama itu keras-keras. Peluru menancap di dinding, menyemburkan serbuk semen ke udara. Raka menarik Richard dan Yura ke lantai, sementara polisi di luar membalas tembakan.
"Mereka menemukan kita," kata Raka.
Richard menggenggam kartu memori itu sampai sudutnya menekan telapak tangannya. "Kita harus membawa ini ke Livia."
Mereka tiba di rumah sakit empat puluh menit kemudian.
Kamar Livia kosong. Selang infus tergantung tanpa pasien, dan seorang perawat tergeletak di lantai dekat kamar mandi.
Di atas bantal Livia ada secarik kertas.
"Anak kedua sudah ditemukan. Sekarang lihat apakah anak pertama bisa menyelamatkannya."