Sirene ambulans itu terdengar sampai ke dalam kepala Richard bahkan setelah mesinnya dimatikan di depan unit gawat darurat.
Livia dibawa masuk dengan jaket yang sudah digunting perawat. Peluru menembus bahunya, tetapi menurut petugas medis yang pertama memeriksa, tembakan itu tidak mengenai tulang maupun organ penting.
Richard menunggu di lorong dengan bau antiseptik yang menempel di lidah. Ia berjalan bolak-balik di depan ruang operasi, dari dinding ke dinding, sampai lantai yang baru dipel meninggalkan jejak sepatunya.
Elena duduk di kursi besi sambil menangis dalam pelukan Yura.
"Dua puluh tahun saya mencari dia," bisik Elena. "Saya bertemu tiga jam, lalu dia ditembak di depan mata saya."
Yura mengusap punggung perempuan itu tanpa menjawab. Tidak ada kalimat yang cukup untuk hal seperti itu.
Setelah beberapa puluh menit, dokter keluar sambil melepas sarung tangan.
"Dia akan selamat," katanya. "Peluru sudah dikeluarkan. Dia perlu istirahat dan pengawasan beberapa hari."
Richard mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.
Ia diizinkan masuk ke ruang rawat sepuluh menit kemudian. Livia terbaring pucat di bawah lampu putih, selang infus menempel di punggung tangannya, tetapi matanya sudah terbuka dan mengikuti langkah Richard sampai ke sisi ranjang.
"Maaf," katanya ketika Richard mendekat.
"Kamu tidak perlu meminta maaf."
"Aku yang meminta kalian datang ke danau."
"Kamu tidak menembak dirimu sendiri," kata Richard. "Berhenti memikirkan itu."
Livia menelan ludah. "Bukti itu masih ada di tasku."
"Saya sudah memintanya diamankan. Polisi menyegel tas itu sebelum kita berangkat."
Livia mengangguk lemah, lalu matanya bergerak ke arah pintu. Elena berdiri di sana, ragu, tangannya memegang gagang pintu seperti orang yang tidak yakin boleh masuk.
"Aku masih tidak mengerti kenapa kamu meninggalkanku," kata Livia.
Elena menunduk. Bahunya turun.
"Saya menyelamatkanmu dari ayahku," katanya. "Tapi saya mempercayai orang yang salah."
"Kamu bisa mencariku."
"Saya mencari sampai hari ini."
Livia menangis pelan, tangisan yang tertahan supaya luka di bahunya tidak ikut bergerak. Richard duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan perempuan itu.
"Kita punya waktu untuk membicarakan semuanya setelah kamu pulih," katanya.
Pintu terbuka lagi. Dua penyidik masuk membawa map dan wajah yang tidak membawa kabar baik. Penembak belum ditemukan. Namun rekaman kamera jalan di seberang danau menunjukkan mobil yang dipakai kabur terdaftar atas nama sebuah perusahaan milik ayah Mia.
"Pistolnya juga sudah kami cocokkan," kata penyidik. "Berasal dari gudang senjata ilegal yang dulu dipakai Satrio."
"Mereka ingin menakuti Livia," kata Richard.
"Atau menghentikannya sebelum dia menyerahkan bukti," jawab penyidik.
Yura menarik lengan Richard ke lorong. Ia menutup pintu pelan supaya Livia tidak mendengar.
"Menurut lo, Livia masih menyimpan salinan lain?" tanyanya.
"Dia bilang semua bukti ada di tas."
"Berarti ada yang aneh." Yura menyilangkan tangan. "Kalau mereka tahu isi tas itu cuma dokumen, kenapa repot menembak di tempat terbuka? Mungkin penembak mengira kita belum memeriksa semuanya."
Richard menatap perempuan di depannya. Yura selalu begitu: melihat celah yang tidak ia lihat.
Mereka membuka tas Livia bersama penyidik di ruang bukti rumah sakit. Selain dokumen, ada sebuah flash drive kecil yang dijahit di lapisan dalam tas, hampir tidak terasa kalau tidak diraba pelan-pelan.
Isinya satu berkas video.
Ayah Richard muncul di layar, duduk di kursi kayu di ruangan yang tidak dikenali Richard, berbicara kepada seorang wartawan lama yang hanya terdengar suaranya. Lelaki itu menjelaskan bahwa ayah Mia memalsukan transaksi perusahaan dan mengancam keluarga Elena selama bertahun-tahun. Di menit terakhir, ia menyebut nama seorang hakim yang menerima suap untuk menutup perkara.
"Dengan ini kita bisa membuka kembali kasus lama," kata penyidik.
Richard tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah ayahnya di layar: rambut yang mulai tipis, mata yang lelah, tangan yang gemetar sedikit saat mengangkat gelas. Selama bertahun-tahun ia menyimpan kemarahan kepada lelaki itu.
"Saya menyesal membencinya," kata Richard.
Yura menyentuh bahunya. "Lo tidak tahu kebenaran."
"Tetap saja."
Elena masuk membawa gelas kertas berisi teh yang tidak ia minum. Ketika mendengar nama hakim itu disebut, ia berhenti di tengah ruangan.
"Saya ingat orang itu," katanya. "Dia sudah pensiun. Dia punya rumah di luar kota, dekat kebun teh."
Polisi langsung mengirim tim ke alamat tersebut.
Malam itu, pengacara ayah Mia mengirim pesan kepada Richard. Isinya tawaran: seluruh bukti akan dikembalikan utuh apabila Richard mencabut laporan dan membiarkan keluarga itu pergi ke luar negeri tanpa dihalangi.
Richard menolak dalam satu kalimat.
"Dia masih yakin bisa mengendalikan kita," kata Yura.
"Karena selama ini semua orang menyerah kepada ancamannya."
Penyidik membawa Richard ke ruang konferensi kantor polisi. Mereka menjelaskan bahwa video itu cukup untuk menjerat ayah Mia, tetapi harus disebarkan dengan hati-hati agar tidak dipelintir sebagai rekaman palsu.
"Kita perlu membawanya ke pengadilan dan media sekaligus," kata Richard. "Kalau hanya disimpan, mereka akan menghancurkan saksi satu per satu. Livia hari ini, Elena besok."
Yura memandangnya lama. "Lo siap menghadapi seluruh dunia?"
"Saya sudah kehilangan reputasi, keluarga, dan hampir kehilangan kamu," kata Richard. "Tidak ada lagi yang bisa mereka ambil."
Yura terdiam mendengar kalimat itu. Ia ingin membalas dengan candaan, tetapi tenggorokannya tidak mau bekerja sama. Richard memegang tangannya di depan dua penyidik, tanpa ragu, tanpa menoleh ke kanan dan kiri lebih dulu.
Keesokan paginya konferensi pers digelar di aula perusahaan.
Rekaman ayah Richard diputar di layar besar, disusul dokumen transaksi dan kesaksian tertulis Elena serta Livia. Nama ayah Mia disebut sebagai pelaku utama penggelapan dan pemerasan.
Media yang beberapa minggu lalu menyerang Richard mulai meminta maaf lewat siaran mereka. Namun beberapa stasiun tetap bertanya kenapa Richard merahasiakan keberadaan Livia selama ini.
Richard menjawab dengan suara tenang.
"Saya baru mengetahui keberadaannya ketika bukti ini ditemukan. Dia bukan alat untuk menyelamatkan reputasi saya. Dia keluarga saya dan berhak mendapatkan perlindungan."
Yura berdiri di sebelahnya, agak ke belakang, memegang map berisi salinan dokumen. Ketika seorang wartawan menanyakan hubungan mereka berdua, Richard menoleh kepada Yura terlebih dahulu, meminta izin tanpa kata.
"Kami sedang belajar mengenal satu sama lain kembali," katanya. "Tidak ada hubungan yang perlu disembunyikan, tetapi kami juga tidak ingin kehidupan pribadi dijadikan bahan pemberitaan."
Yura tersenyum kecil. Jawaban itu terasa lebih jujur daripada semua pernyataan Richard sebelumnya, termasuk yang dulu pernah ia dengar bertahun-tahun lalu.
Sorenya, ketika mereka baru saja keluar dari kantor polisi, seorang petugas berlari menyusul.
Hakim pensiunan yang disebut Elena ditemukan meninggal di rumahnya. Di samping tubuhnya ada sebuah surat, dan isi surat itu tidak menunjuk keluarga Mia.
Nama yang tertulis di sana adalah nama ayah Richard.
Richard membaca laporan itu dua kali. Wajahnya pucat.
"Ayah saya mungkin bukan hanya korban," katanya.
Yura menatapnya cemas. "Maksud lo?"
"Mungkin dia menyembunyikan sesuatu yang lebih besar daripada yang kita tahu."
Di luar kantor polisi, langit menggelap dan angin membawa bau hujan. Kasus yang mereka kira hampir selesai kembali membuka lapisan baru.