Foto terbaru Elena membuat Richard tidak bisa memejamkan mata sampai dini hari.
Ia membuka layar ponselnya entah untuk yang ke berapa kali di kamar penginapan yang dingin. Perempuan dalam foto itu berdiri di trotoar depan gedung perusahaannya, memakai mantel abu-abu, menghadap lurus ke kamera. Tidak ada wajah yang terkejut. Tidak ada gerakan menghindar.
"Dia tahu sedang dipotret," kata Richard pelan. "Dia ingin ditemukan."
Yura mengangkat kepala dari kursi di sudut ruangan. Ia juga belum tidur. Di bawah pesan yang masuk semalam tercantum satu baris koordinat sebuah apartemen di pusat kota.
"Kita harus berhati-hati," kata Yura.
"Saya tahu."
"Bukan tahu yang seperti itu." Yura menggeser kursinya mendekat. "Kalau Elena bisa berdiri sedekat itu di depan pintu perusahaan lo, berarti dia sudah lama mengawasi. Dan orang yang mengawasi selama dua puluh tahun mungkin bukan korban sepenuhnya."
Richard menatap foto itu lama. Ada sesuatu pada mata perempuan di sana yang membuatnya ragu memilih kata korban ataupun pelaku.
"Atau dia sedang mencoba melindungi Livia," jawabnya.
Mereka kembali ke kota pagi itu bersama dua mobil polisi dan Surya. Mama Richard tidak bisa ikut karena masih menjalani pemeriksaan. Sebelum rombongan berangkat, satu pesan masuk ke ponsel Richard dari nomor ibunya.
"Jangan percaya siapa pun yang mengaku sebagai Livia."
Richard membaca kalimat itu tiga kali. Kalau ibunya benar-benar mengetahui keberadaan Livia, kenapa yang dikirim justru peringatan? Dan kalau tidak tahu apa-apa, dari mana ia begitu yakin akan ada seseorang yang mengaku?
Ia menyimpan ponsel tanpa membalas.
Apartemen pada koordinat itu berada di gedung tua di belakang deretan ruko. Lampu lobinya kuning dan separuh mati, dan penjaga di meja depan meminta kartu identitas sebelum siapa pun naik.
Seorang perempuan sudah menunggu di kursi lobi.
Wajahnya persis seperti foto lama itu, hanya rambutnya lebih pendek dan tubuhnya jauh lebih kurus.
"Richard," katanya.
Richard berhenti di tengah lobi. "Elena?"
Perempuan itu mengangguk. Matanya berkaca-kaca ketika menatap wajah Richard.
"Kamu sangat mirip ayahmu."
Yura berdiri di samping Richard tanpa berkata apa-apa. Dua petugas polisi menjaga jarak di dekat pintu, sengaja tidak mendekat supaya pertemuan itu tidak terasa seperti penangkapan.
"Di mana Livia?" tanya Richard.
Elena menarik napas panjang. "Dia tidak bersamaku."
"Siapa yang membawanya?"
"Keluarga Mia. Mereka mengambilnya dua puluh tahun lalu."
Richard terdiam.
Elena duduk kembali, seolah kakinya tidak sanggup menahan cerita yang akan ia ucapkan. Ia bercerita bahwa setelah melahirkan Livia, ia dikejar ayah Mia dari satu kota ke kota lain. Untuk menyelamatkan bayi itu, ia menitipkannya kepada seorang pengasuh yang ia percaya sepenuh hati.
"Ternyata pengasuh itu sudah dibayar," katanya. "Bayi saya diserahkan kepada keluarga Mia pada minggu yang sama."
"Dan mereka membesarkannya."
"Mereka membesarkannya sebagai alat." Suara Elena bergetar. "Livia tidak pernah tahu ayahmu adalah ayah kandungnya. Yang dia tahu cuma satu: dia berutang kepada keluarga yang memberinya makan."
"Kenapa Anda tidak mencari dia?"
"Saya mencari. Setiap tahun." Elena mengangkat wajahnya. "Setiap kali saya hampir menemukannya, mereka mengirim foto kamu. Mereka bilang kalau saya maju satu langkah lagi, kamu yang dibunuh."
Yura menyentuh lengan Richard. Tangannya dingin.
"Richard," katanya pelan, "kalau Livia dibesarkan mereka, ada kemungkinan sekarang dia bekerja untuk mereka."
Elena mengangguk sebelum Richard sempat menyangkal.
"Dia berada di perusahaanmu beberapa bulan terakhir."
Richard merasa lantai lobi itu bergeser sedikit. Ia meminta Elena menyebutkan namanya, tetapi perempuan itu hanya membuka tas dan menyerahkan sebuah kartu akses berwarna biru.
"Livia memakai nama lain. Dia bekerja di bagian audit internal."
Richard langsung menghubungi Arman, lalu teringat lelaki itu baru saja ditahan dan tidak bisa dimintai apa pun lagi. Ia berganti menelepon kepala tim keamanan dan meminta daftar seluruh pegawai perempuan di bagian audit.
Daftar itu masuk beberapa menit kemudian.
Ada satu nama yang bergabung enam bulan lalu. Lia Prameswari. Foto identitasnya memperlihatkan perempuan berambut sebahu dengan garis rahang dan bentuk mata yang membuat Yura menahan napas.
"Lia adalah Livia," kata Yura.
Richard mengingat perempuan itu. Lia pernah dua kali menyampaikan laporan keuangan langsung kepadanya dan selalu terlihat tenang, terlalu tenang untuk seorang pegawai baru. Ia juga satu-satunya orang yang memegang akses ruang arsip setelah Arman dicopot.
"Mungkin dia yang mencuri dokumen perusahaan," kata Richard.
Elena memegang tangannya. "Dia bukan orang jahat."
"Dia bisa saja ikut menghancurkan perusahaan saya."
"Karena dia tidak tahu siapa dirinya," kata Elena. "Anak yang tidak tahu asalnya akan setia kepada siapa pun yang pertama kali memberinya rumah."
Richard menelepon tim keamanan dan meminta Lia dicari. Jawabannya datang cepat dan tidak menyenangkan: sistem mencatat kartu akses pribadi Lia dipakai keluar dari lobi utama dua puluh menit yang lalu.
Yura ikut melihat rekaman CCTV yang dikirim ke ponsel Richard. Di layar kecil itu, Lia berjalan cepat sambil memeluk sebuah map hitam. Sebelum keluar dari pintu putar, ia mengangkat telepon dan menoleh ke kamera selama satu detik.
"Dia menuju rumah aman," kata Richard.
Mereka mengejar dengan dua mobil. Di tengah perjalanan, ponsel Richard bergetar. Nomor Lia.
"Jangan cari aku. Aku membawa sesuatu yang akan mengungkap semuanya."
Richard mengetik dengan satu tangan. "Saya ingin berbicara, bukan menangkapmu."
Balasan datang beberapa detik kemudian.
"Kalau begitu datang ke tempat ayah kita pertama kali bertemu ibu."
Richard menoleh ke bangku belakang. Elena sudah menangis sebelum ia sempat bertanya.
"Taman tua di pinggir danau," kata perempuan itu. "Ayahmu selalu mengajak saya duduk di dermaga kayu di sana."
Mereka tiba menjelang sore. Langit berwarna tembaga dan angin dari danau membawa bau lumpur. Lia berdiri sendirian di dekat dermaga dengan jaket gelap dan tas besar tergeletak di kakinya.
Ketika melihat Elena, wajahnya berubah.
"Kamu datang," katanya.
Elena mendekat perlahan, seperti takut perempuan itu lari. "Livia."
"Jangan panggil aku begitu." Air mata jatuh di pipi Lia. "Aku sudah punya nama."
Richard berdiri beberapa langkah di belakang Elena. Lia menoleh kepadanya.
"Kamu Richard?"
"Ya."
"Kita seharusnya tidak pernah bertemu. Keluarga Mia bilang kamu akan menghancurkan hidupku."
"Mereka sudah menghancurkan hidup semua orang," jawab Richard.
Lia berjongkok dan membuka tas. Ia mengeluarkan setumpuk dokumen: salinan kontrak, catatan transaksi, dan surat-surat yang menunjukkan ayah Mia membayar orang untuk mengawasinya sejak ia kecil.
"Aku masuk ke perusahaanmu untuk mencari bukti," katanya. "Tapi begitu tahu kamu saudaraku, aku takut. Aku tidak tahu apakah kamu akan menerimaku atau justru melaporkanku."
Richard menatap dokumen di tangannya, lalu menatap wajah perempuan itu. Ada perasaan aneh memenuhi dadanya. Ia baru saja menemukan seorang saudara tepat pada minggu ketika semua orang berusaha menghancurkan keluarganya.
"Saya tidak tahu bagaimana menjadi saudara yang baik," katanya. "Tapi saya tidak akan meninggalkanmu."
Lia menangis. Elena memeluknya, dan untuk pertama kalinya tiga orang yang diikat rahasia lama berdiri di tempat yang sama.
Suara tembakan memecah keheningan danau.
Lia terjatuh sambil memegang bahunya.
"Livia!" teriak Elena.
Richard menarik Yura ke balik pohon. Polisi berpencar mencari penembak, dan dari seberang danau terdengar mesin mobil melaju menjauh.
Lia menggenggam tangan Richard erat-erat. "Mereka tidak ingin kita bertemu."
Richard menatap darah yang merembes di jaket gelap itu, lalu mengangkat suaranya memanggil ambulans.
Di tanah dekat dermaga, seorang petugas menemukan selongsong peluru. Pada pangkalnya tercetak simbol kecil perusahaan ayah Mia.
Perang keluarga itu belum selesai.