Richard memegang foto itu dengan tangan gemetar. Perempuan di dalam gambar berdiri di samping ayahnya, tersenyum di depan sebuah rumah yang tidak ia kenali. Usianya mungkin tiga puluh tahun. Rambutnya panjang, dibiarkan tergerai, dan matanya memiliki kemiripan aneh dengan seseorang yang tidak bisa segera Richard tunjuk.
Yura memperhatikan wajah Richard lebih lama daripada foto itu sendiri.
"Lo mengenalnya?"
"Tidak. Tapi matanya seperti pernah saya lihat."
"Di mana?"
"Saya tidak tahu. Itu yang membuat saya tidak nyaman."
Mama Richard, yang berdiri tidak jauh dari mereka dengan selimut petugas di bahunya, melangkah mendekat karena penasaran. Begitu melihat gambar itu, wajahnya langsung pucat. Ia menatap foto tersebut seolah sedang melihat hantu yang sudah lama ia kira berhenti mengikutinya.
"Mama tahu siapa dia," kata Richard.
Perempuan itu menunduk dan tidak menjawab.
Polisi yang masih berjaga di sekitar klinik meminta mereka masuk ke kendaraan agar tidak dikerumuni wartawan yang belum sepenuhnya bubar. Richard menolak beranjak sebelum mendapatkan jawaban.
"Siapa perempuan ini?"
Mama Richard mengusap bibirnya yang kering.
"Namanya Elena."
"Apa hubungannya dengan Ayah?"
Perempuan itu diam cukup lama sampai Yura mengira ia tidak akan menjawab.
"Dia adik ayah Mia."
Yura terkejut sampai setengah melangkah mundur. Kalau benar, perempuan dalam foto itu masih memiliki hubungan darah langsung dengan keluarga yang selama berbulan-bulan menghancurkan hidup mereka semua.
"Kenapa Ayah dekat dengannya?" tanya Richard.
Mama Richard menatap anaknya dengan mata yang kembali basah.
"Karena Elena adalah orang pertama yang memberitahu ayahmu tentang rencana kakaknya. Dia datang sendiri ke kantor, tanpa diminta, membawa salinan dokumen. Dia ingin menyelamatkan ayahmu."
"Lalu kenapa foto ini disebut alasan Ayah dibunuh?"
"Karena ayah Mia mengetahui hubungan mereka." Ia menarik napas. "Dia mengira Elena membocorkan semua rahasia keluarga bukan karena nurani, tapi karena mencintai ayahmu."
Richard memejamkan mata.
Ia tidak pernah tahu ayahnya memiliki hubungan dengan perempuan lain. Selama ini ia mengira orang tuanya memiliki rumah tangga yang sempurna, hanya kebetulan dikepung masalah bisnis. Sekarang bahkan kesempurnaan itu ternyata cuma cerita yang dirawat bersama-sama.
"Apakah Elena masih hidup?"
Mama Richard tidak menjawab.
Yura menatapnya. "Mama harus menjawab."
"Saya tidak tahu." Suara perempuan itu hampir tidak terdengar. "Setelah ayahmu meninggal, Elena menghilang. Ayah Mia mengatakan dia sudah mati, dan saya memilih mempercayainya karena lebih mudah begitu."
Richard membalik foto itu dan memperhatikan bagian belakangnya di bawah lampu ponsel. Ada tanggal, dan di bawahnya ada alamat yang ditulis dengan huruf kecil-kecil.
Surya, yang baru tiba bersama pengacara, mencondongkan badan dan langsung mengenalinya.
"Itu rumah lama ayahmu di pegunungan," katanya. "Tempat yang tidak pernah dibuka sejak dia meninggal."
Richard meminta polisi mengantar mereka ke rumah tersebut pagi berikutnya. Mama Richard dibawa untuk pemeriksaan lanjutan malam itu juga, sedangkan Yura bersikeras ikut meski Richard sempat memintanya beristirahat.
"Gue sudah tidak tidur tiga hari," katanya. "Satu hari lagi tidak akan membunuh gue."
Perjalanan ke pegunungan berlangsung hampir empat jam. Kabut tebal menutupi jalan ketika mereka tiba di sebuah rumah tua berpagar tinggi, dengan lumut yang tumbuh di tiang-tiangnya. Kunci yang disimpan Surya selama sepuluh tahun ternyata masih cocok untuk pintu depan.
Di dalam, udara lembap dan penuh bau kayu tua. Kain putih menutupi perabot. Dinding ruang tamu dihiasi foto keluarga Richard yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, dan di antaranya ada satu foto ayahnya bersama Elena yang jauh lebih muda.
Richard berdiri di depan foto itu cukup lama.
"Mereka terlihat bahagia," kata Yura pelan.
"Saya tidak pernah melihat ayah saya tersenyum seperti itu."
Mereka memeriksa setiap ruangan. Di kamar kerja, di balik rak yang tidak menempel rapat ke dinding, Yura menemukan sebuah buku catatan. Isinya daftar surat yang dikirim kepada seseorang yang hanya ditulis dengan satu huruf.
L.
"Elena mungkin memakai nama lain," kata Yura.
Richard membuka laci meja dan menemukan setumpuk surat yang tidak pernah dikirim, masih tersegel, tersusun rapi menurut tanggal. Salah satunya memiliki cap sebuah rumah sakit di sudut amplop.
"Ayah menulis kepada Elena setelah saya lahir," katanya.
Ia membuka surat itu dengan hati-hati dan membacanya perlahan. Ayahnya meminta maaf karena tidak mampu melindungi Elena dari keluarganya sendiri. Di paragraf terakhir, tulisannya berubah lebih kecil, seolah ditulis dengan tergesa.
Richard berhenti membaca.
Yura mengambil alih lembar itu dan membaca bagian akhirnya dengan suara pelan. Di sana ada satu nama.
Livia.
"Anak perempuan?" Richard mengulang kata itu.
"Elena punya anak dengan ayahmu?" tanya Yura.
Richard tidak mampu menjawab. Jika Livia benar anak ayahnya, berarti selama ini ia memiliki saudara yang tidak pernah ia kenal, dan seseorang di luar sana memiliki nama keluarga yang sama dengannya tanpa pernah memakainya.
Suara kendaraan terdengar dari luar.
Polisi segera memeriksa jendela. Sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar, lampunya dimatikan.
"Kita tidak sendirian," kata petugas.
Richard memasukkan surat dan foto ke dalam tas. Mereka bergerak ke ruangan belakang dan menutup pintu tanpa suara. Beberapa orang masuk ke rumah, langkah mereka tidak berusaha pelan, dan mulai membongkar isi ruang tamu dengan terburu-buru.
Salah satu lelaki menemukan meja kerja dan membanting lacinya ke lantai.
"Bukti itu pasti ada di sini!"
Yura mengenali suara tersebut dan mencengkeram lengan Richard. Itu lelaki berjas yang melarikan diri dari gudang di London.
Richard memberi isyarat kepada polisi. Mereka menunggu sampai para penyusup berpencar ke ruangan yang berbeda, lalu menyergap dari dua sisi sekaligus. Perkelahian singkat terjadi di lorong sempit, dua orang berhasil dilumpuhkan dan diborgol di lantai.
Tetapi lelaki berjas itu sempat menerobos pintu belakang.
Sebelum menghilang ke dalam kabut, ia berteriak ke arah rumah.
"Livia sudah bersama kami! Kalian tidak akan pernah menemukannya!"
Richard berdiri terpaku di ambang pintu, napasnya keluar sebagai uap di udara dingin.
"Siapa Livia?"
Salah satu penyusup yang tertangkap menoleh, tersenyum sedikit, lalu memilih diam. Polisi membawa mereka turun ke kendaraan.
Yura menghampiri Richard dan berdiri di sampingnya, memandangi kabut yang menelan halaman.
"Kita harus mencari Elena dan Livia."
"Jika Livia anak ayah saya," kata Richard, "dia adalah bagian dari keluarga ini. Dan dia sedang berada di tangan orang-orang yang membunuh ayah kami berdua."
Mereka kembali ke dalam dan membongkar sisa surat sampai matahari naik. Dari salah satu amplop, mereka menemukan alamat sebuah rumah sakit kecil di luar kota. Elena pernah dirawat di sana dua puluh tahun lalu. Richard menghubungi petugas setempat dan meminta arsip pasien diperiksa, apa pun hasilnya, secepat yang bisa.
Malam itu, jawaban datang melalui pesan.
Elena tidak pernah tercatat sebagai pasien meninggal. Ia keluar dari rumah sakit dalam keadaan sehat, membawa seorang bayi perempuan bernama Livia, lalu menghilang dari kota tanpa meninggalkan alamat.
Di bawah pesan itu terlampir satu foto yang jauh lebih baru. Seorang perempuan dewasa berdiri di trotoar, tepat di depan gedung perusahaan Richard, memandang ke arah pintu masuk.
Wajahnya sama persis dengan perempuan di foto lama.
Elena masih hidup.