Klinik lama Dr. Felix berada di pinggir kota, tertutup pepohonan yang tidak pernah dipangkas, dengan satu lampu jalan yang mati di depannya. Richard menghentikan mobil di depan pagar berkarat. Yura duduk di sampingnya, sementara dua polisi mengikuti dari jarak beberapa puluh meter dengan lampu dimatikan.
"Pesan itu jelas meminta kita datang sendiri," kata Yura.
"Kita tidak akan benar-benar sendiri."
"Kalau mereka lihat?"
"Kalau mereka lihat, berarti mereka juga sadar sedang dikepung."
Richard memeriksa kotak logam di pangkuannya untuk terakhir kali. Ia tidak ingin menyerahkan benda itu kepada siapa pun. Tetapi ibunya ada di dalam sana, dan jawaban tentang kematian ayahnya juga, dan tidak ada pilihan ketiga.
Pintu klinik terbuka sebelum mereka sempat mengetuk.
Bau obat dan debu menyerbu bersamaan, mengendap terlalu lama di ruangan tertutup. Di meja resepsionis ada satu lampu kecil yang menyala, satu-satunya di seluruh bangunan. Tidak ada petugas, tidak ada pasien. Kursi tunggu berjajar kosong.
"Mama?" panggil Richard.
Suara benda jatuh terdengar dari lorong belakang.
Richard dan Yura bergerak perlahan menyusuri dinding. Di ujung lorong mereka menemukan Mama Richard duduk di sebuah kursi dengan tangan terikat ke sandaran. Di belakangnya berdiri seorang lelaki tua kurus dengan kacamata miring.
Dr. Felix.
"Richard, jangan serahkan kotak itu!" teriak ibunya.
Seseorang muncul dari ruangan samping dan menodongkan pistol. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru.
Ayah Mia.
Wajahnya penuh amarah yang sudah dingin, dan tangan kirinya memegang sebuah map.
"Akhirnya kamu datang," katanya.
Richard berdiri di depan Yura. "Lepaskan Mama saya."
"Setelah kotak itu berpindah tangan."
"Kalau Anda ingin bukti, biarkan Dr. Felix menjelaskan lebih dulu."
Ayah Mia tertawa pendek. "Dokter tua itu hanya akan mengatakan apa yang saya perintahkan."
Richard menoleh kepada lelaki tua itu.
"Benarkah?"
Dr. Felix menunduk. Tubuhnya gemetar, dan ia harus memegang sandaran kursi untuk tetap berdiri. Ketika akhirnya ia mengangkat wajah, matanya penuh penyesalan.
"Saya memberikan obat yang salah kepada ayahmu," katanya. "Tapi saya tidak membunuhnya."
Richard merasakan dadanya kosong, seperti lantai yang tiba-tiba hilang.
"Siapa yang memerintahkan?"
Dr. Felix memandang Mama Richard. Perempuan itu memejamkan mata dan tidak membantah.
"Ibumu datang kepada saya bersama orang ini," kata dokter itu. "Mereka meminta saya mengganti obat selama beberapa hari saja. Katanya hanya untuk membuat ayahmu lemah agar mau menandatangani dokumen. Saya tanya berapa lama. Mereka bilang seminggu. Lalu seminggu jadi sebulan, dan saya sudah terlalu jauh untuk berhenti. Saya tidak tahu mereka ingin membunuhnya."
Yura menatap Mama Richard.
"Mama?"
"Saya tidak tahu dosisnya akan menjadi racun." Suara perempuan itu pecah di tengah kalimat. "Saya pikir dia hanya akan dirawat beberapa hari, lalu menandatangani. Saya pikir saya sedang menyelamatkan kalian berdua."
Ayah Mia menendang kaki kursi Dr. Felix sampai dokter itu terhuyung.
"Jangan dengarkan mereka. Mereka semua ingin menyalahkan saya."
Richard merasakan amarah naik dari perutnya ke tenggorokan. Ia ingin menghantam lelaki itu sampai berhenti bicara. Tetapi ada pistol di tangan ayah Mia, ada ibunya yang terikat, dan ada Yura di belakang punggungnya.
"Ayah saya meninggal karena kalian mencoba memaksanya menandatangani kontrak?"
"Ayahmu akan menghancurkan semua orang jika dia membuka rahasia itu. Bukan cuma saya. Semua orang."
"Jadi Anda menganggapnya pantas dibunuh?"
"Saya menganggapnya lambat." Ayah Mia mengarahkan pistol ke kepala Mama Richard. "Kamu terlalu banyak bertanya. Berikan kotaknya."
Richard meletakkan kotak itu di lantai dan mendorongnya perlahan dengan ujung sepatu. Di luar, polisi belum bergerak karena mereka tidak tahu persis di mana posisi sandera.
Yura, yang sejak tadi berdiri dengan punggung menempel dinding, melihat sesuatu di bawah meja periksa. Sebuah tombol alarm tua berwarna merah. Ia menggeser kakinya sedikit demi sedikit, satu sentimeter setiap kali ayah Mia bicara.
"Richard, ambil kotaknya," kata lelaki itu.
Richard membungkuk, tetapi matanya tetap mengawasi Yura.
Yura menekan tombol itu dengan ujung sepatunya.
Sirene kecil berbunyi dari ruang belakang, melengking dan serak sekaligus. Ayah Mia menoleh sejenak.
Sejenak itu cukup.
Richard menendang kotak ke samping dan menerjang tubuh lelaki tua itu. Tembakan meledak dan pelurunya menghantam dinding, menaburkan serpihan kapur. Mama Richard menjatuhkan diri bersama kursinya, sementara Yura menarik Dr. Felix ke belakang meja.
Polisi menerobos pintu depan tepat ketika ayah Mia berhasil melepaskan diri dan berlari ke lorong. Richard mengejarnya sampai ruang obat, dan mereka bergumul di antara lemari kaca. Lelaki tua itu ternyata masih memiliki tenaga besar, dan ia memukul tepat di bahu Richard yang terluka.
"Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa!" bentak ayah Mia.
Richard menangkap pergelangan tangan itu, memuntirnya, dan menjatuhkan lelaki itu ke lantai dengan lututnya menahan punggungnya.
"Saya sudah mendapatkan kebenarannya," katanya, terengah.
Polisi masuk dan memborgol ayah Mia.
Di ruang depan, Mama Richard menangis sambil memegang lengan Yura untuk berdiri.
"Terima kasih," katanya.
Yura tidak tahu harus menjawab apa. Perempuan ini yang membiarkan namanya dihancurkan, dan perempuan ini juga yang tangannya sekarang gemetar di lengannya. Ia hanya membantunya berdiri dan mengambilkan kursi.
Dr. Felix mengeluarkan sebuah buku kecil dari laci meja dan menyerahkannya kepada Richard dengan dua tangan.
"Ini catatan asli dosis obat yang diberikan kepada ayahmu. Saya menyimpannya sejak awal karena saya takut suatu hari mereka akan membunuh saya juga."
Richard menerima buku itu. Halamannya menguning, tulisannya rapi, dan di halaman terakhir ada dua tanda tangan yang ia kenali keduanya: ibunya, dan ayah Mia.
"Mereka berdua akan diadili," kata petugas yang mencatat.
Mama Richard menunduk. "Saya siap."
Richard memandang ibunya. Ia marah. Tetapi melihat perempuan itu duduk di kursi klinik tua dengan pergelangan tangan yang masih berbekas tali, kemarahannya bercampur dengan sesuatu yang lebih mirip duka.
"Kenapa Mama tidak menghentikan mereka?"
"Karena saya takut." Perempuan itu tidak mengangkat wajahnya. "Saya pikir kalau ayahmu meninggal, mereka tidak punya alasan lagi mengejar kamu. Saya salah. Orang seperti mereka tidak butuh alasan."
"Mama membuat saya hidup dengan kebohongan bertahun-tahun."
"Saya tahu."
Di luar klinik, wartawan mulai berdatangan begitu melihat lampu mobil polisi. Richard tidak menghindar. Ia meminta pengacaranya menyiapkan konferensi pers malam itu juga. Ia sudah selesai bersembunyi.
Yura berdiri di sampingnya ketika Richard memberikan pernyataan di bawah lampu kamera. Ia menjelaskan bahwa kematian ayahnya kini diselidiki sebagai tindak pidana, dan bahwa keluarganya menyerahkan seluruh bukti mengenai jaringan bisnis ilegal yang selama ini menekan mereka.
Mia menyaksikan lewat panggilan video dari rumah. Ia menangis ketika nama ayahnya disebut, lalu menyatakan kepada penyidik bahwa ia bersedia menjadi saksi utama.
Setelah konferensi selesai dan parkiran mulai sepi, Richard dan Yura berdiri di dekat mobil.
"Sekarang semuanya selesai," kata Yura.
Richard menggeleng. "Tidak. Tapi setidaknya kita tidak lagi mencari orang yang salah."
Yura menatapnya. "Lo akan tetap mempertahankan perusahaan?"
"Saya akan membangunnya kembali. Dari awal, kalau perlu."
"Dan setelah itu?"
Richard menarik napas panjang. "Setelah itu, saya ingin memperbaiki hal-hal yang pernah saya rusak."
Yura tahu ia sedang berbicara tentang masa lalu mereka. Ia membuka mulut untuk menjawab, tetapi sebuah mobil hitam melaju pelan melewati klinik. Kacanya turun sedikit, dan sesuatu dilemparkan ke arah mereka sebelum mobil itu menambah kecepatan.
Sebuah amplop cokelat jatuh di aspal.
Di dalamnya hanya ada satu foto lama: ayah Richard berdiri bersama seorang perempuan yang tidak dikenal.
Di belakang foto itu tertulis satu baris dengan tinta hitam.
"Perempuan ini adalah alasan sebenarnya ayahmu dibunuh."