Richard menatap pesan itu dengan dada terasa berat. Di lantai bawah, Arman sudah diborgol dan didudukkan di lantai beton, sementara Yura membantu ayahnya berjalan keluar bersama petugas medis. Semestinya malam itu terasa seperti kemenangan. Nyatanya tidak. Satu kalimat dari nomor asing sudah cukup membuat semuanya terasa tidak berarti.
Richard menuruni tangga dan berhenti di depan Arman.
"Siapa yang membunuh ayah saya?"
Arman tertawa pendek, suara yang kering. "Kamu pikir ayahmu meninggal secara alami?"
Richard mencengkeram kerah lelaki itu sebelum ia menyadari tangannya sendiri bergerak. Dua polisi langsung memisahkan mereka.
"Jawab saya!"
"Dia memang sakit," kata Arman sambil membenahi kerahnya dengan bahu. "Itu benar. Tapi obatnya diganti selama berbulan-bulan. Sedikit demi sedikit, supaya tidak ada yang curiga. Orang yang melakukannya punya akses ke rumah kalian dan ke rekening keluargamu. Coba pikir siapa yang punya dua-duanya."
Richard memikirkan satu nama, lalu menolaknya dalam hati secepat nama itu muncul. Ia tidak ingin menduga ibunya sendiri, bukan malam ini, bukan setelah semua yang baru terjadi.
"Siapa?"
Arman menoleh ke arah pintu, ke tempat Yura sedang membantu ayahnya naik ke ambulans.
"Tanyakan kepada orang yang terakhir menemani ayahmu sebelum dia meninggal."
Yura mendengar kalimat itu dan menoleh cepat.
"Mama Richard?"
Richard memejamkan mata.
Ibunya memang berada di rumah sakit malam itu. Ia yang menelepon Richard pukul tiga pagi. Ia yang mengurus semuanya sesudahnya, dari surat keterangan sampai pemakaman, dan waktu itu semua orang menganggap kematian tersebut hanya serangan jantung dari lelaki yang sudah lama sakit.
Arman dibawa pergi sebelum sempat menjelaskan lebih jauh. Richard sempat memanggilnya sekali, tetapi lelaki itu tidak menoleh.
Richard mengikuti ambulans ke rumah sakit, sementara polisi membawa peti dan seluruh dokumen ke tempat penyimpanan barang bukti.
Menjelang subuh, di ruang perawatan, ayah Yura kembali sadar. Ia mencari tangan putrinya lebih dulu sebelum membuka mata sepenuhnya.
"Maafkan Ayah," katanya lirih. "Ayah membuat kalian terlibat dalam masalah yang bukan milik kalian."
"Ayah istirahat dulu."
"Tidak." Lelaki itu menggeleng. "Kalau Ayah tidur lagi, Ayah takut lupa."
Yura mengerutkan dahi. "Lupa apa?"
Ayahnya menoleh ke arah Richard yang berdiri di dekat jendela, memunggungi mereka.
"Ayah pernah bekerja untuk perusahaan ayahnya," katanya. "Dulu sekali. Bagian gudang, bukan kantor. Ada satu malam ketika ayah Richard datang sendiri ke tempat kami, tanpa sopir, dengan wajah ketakutan. Ayah tidak pernah melihat orang sekaya itu setakut itu."
Richard berbalik. "Untuk apa dia datang?"
"Dia meminta kami menyembunyikan sebuah kotak."
"Kotak apa?"
"Kotak besi. Isinya obat dan dokumen. Dia bilang kalau sesuatu terjadi padanya, berarti seseorang dari keluarganya telah mengkhianatinya." Lelaki itu terbatuk. "Ayah tidak tanya lebih jauh. Waktu itu Ayah cuma butuh amplop yang dia kasih."
Yura menahan napas. "Ayah masih menyimpan kotak itu?"
Ayahnya mengangguk lemah.
"Di rumah lama dekat pantai. Di kamar belakang, di bawah lantai. Tapi rumah itu sudah disita bertahun-tahun lalu karena utang."
Richard segera menghubungi Surya dan menyebutkan alamatnya. Butuh sepuluh menit sebelum jawabannya datang: bangunan itu masih berdiri, kosong, belum dirobohkan karena sengketa yang tidak selesai.
"Kita pergi setelah dokter mengizinkan," kata Richard.
Yura menatapnya. "Lo baru saja terluka."
"Saya masih bisa berjalan."
"Bukan berarti harus terus mengejar masalah."
Richard tersenyum tipis, senyum yang lelah. "Masalahnya yang mengejar saya."
Malam berikutnya mereka menuju rumah lama dekat pantai bersama tiga petugas. Bangunan itu berada di ujung jalan yang gelap, tanpa lampu jalan, dengan pagar yang tinggal separuh. Pintu depan sudah rusak dan menggantung di satu engsel. Angin laut membawa bau garam masuk sampai ke ruang tengah.
Ayah Yura memberi petunjuk melalui telepon, suaranya putus-putus karena sinyal.
"Kamar paling belakang. Lantai kayunya. Yang warnanya beda sedikit."
Mereka memeriksa satu per satu sampai Yura menemukannya, sepotong papan yang lebih muda warnanya dibanding sekitarnya. Richard mencongkelnya dengan obeng yang dipinjam dari petugas. Papan itu terangkat dengan bunyi kering.
Di bawahnya ada kotak logam yang sudah berkarat di sudut-sudutnya.
Isinya tidak banyak. Beberapa botol obat lama dengan label yang mulai terkelupas, salinan resep yang dilipat empat, dan sebuah foto.
Foto itu memperlihatkan ayah Richard berdiri di depan sebuah rumah, bersama Mama Richard di sisi kanan, dan seorang lelaki lain di sisi kiri yang tidak dikenali Richard sama sekali.
Surya mencondongkan badan dan mengenali lelaki itu dalam satu detik.
"Namanya Felix," katanya. "Dia dokter keluarga kalian. Sudah lama sekali, waktu kamu masih SD."
Richard membuka lipatan salinan resep dan membandingkannya dengan label botol. Ia bukan dokter, tetapi tidak perlu menjadi dokter untuk melihat bahwa nama obat di kertas dan nama obat di botol tidak sama. Di lembar terakhir ada catatan pembelian, dan di kolom penerima hanya tertulis satu huruf.
M.
"M bisa berarti Mama," kata Yura pelan.
Richard tidak menjawab. Ia mengambil foto itu dan membaliknya. Ada tanggal yang ditulis dengan pena, tinta yang sudah memudar.
Dua minggu sebelum ayahnya meninggal.
Ia membalik foto itu lagi dan memandangi latarnya lebih lama. Di sudut kanan, jauh di belakang ketiga orang yang berpose, ada sosok keempat yang mungkin tidak sadar sedang terekam kamera.
Ayah Mia. Berdiri di dekat pagar, sedang berbicara dengan Felix.
"Mereka bertiga bertemu dua minggu sebelum Ayah meninggal," kata Richard.
Ia belum sempat menutup kotak itu ketika pintu depan terbuka dengan sekali dorong.
Sebuah tembakan menghantam lampu di langit-langit dan ruangan langsung gelap. Serpihan kaca berjatuhan ke lantai kayu.
"Serahkan kotak itu!" teriak seseorang dari arah pintu.
Semua orang berlindung. Polisi mengarahkan senjata, tetapi penyerang itu bersembunyi di balik dinding pemisah dan hanya menunjukkan lengannya setiap kali menembak. Richard memasukkan kotak ke dalam tas, menyilangkan talinya ke bahu, lalu memberi isyarat kepada Yura agar merunduk lebih rendah lagi.
Suara langkah berlari terdengar menuju bagian belakang rumah. Richard dan dua petugas mengejar, melompati kursi patah dan daun pintu yang terlepas. Di halaman belakang, jejak kaki menuju pantai masih basah di pasir, tetapi orangnya sudah lenyap di antara bebatuan hitam.
Di atas pasir tertinggal sebuah kartu nama, mungkin terjatuh dari saku ketika ia melompat.
Richard memungutnya dan menyorotnya dengan senter. Sebuah nama dokter, nomor telepon dengan kode wilayah lama, dan satu alamat: klinik pribadi Dr. Felix.
"Kita harus menemui dokter itu," katanya.
Yura mendekat sambil merapatkan jaketnya karena angin laut. "Kalau dia masih hidup."
Ponsel Richard berdering sebelum ia sempat menjawab. Panggilan dari rumah sakit tempat ibunya ditahan untuk pemeriksaan. Seorang perawat berbicara dengan napas terputus-putus.
"Pak Richard, Ibu Anda menghilang dari ruang pengawasan. Penjaga menemukan pintu belakang terbuka."
Richard memejamkan mata sebentar. Ia tidak perlu bertanya ke mana perempuan itu pergi.
"Mama pergi mencari Dr. Felix."
Di layar ponselnya, satu pesan baru masuk.
"Datang ke klinik lama sebelum tengah malam. Bawa kotak itu, atau kamu tidak akan pernah mengetahui kebenaran kematian ayahmu."