Richard menunjukkan pesan itu kepada Yura. Wajah gadis tersebut langsung menegang ketika membaca nama ayahnya di kalimat terakhir.
"Kita harus kembali ke rumah sakit," katanya.
"Ayahmu tidak ada di sana. Polisi memindahkannya ke lokasi perlindungan setelah kebakaran."
"Lo yakin?"
"Saya yang meminta."
"Lo yakin, Chad?"
Richard tidak menjawab. Ia menghubungi Arman, dan sambungan tersambung dengan suara berisik, seperti ada angin menerpa mikrofon di seberang.
"Pak, ayah Nona Yura sudah dipindahkan kemarin sore," kata Arman. "Tapi mobil pengawal kehilangan sinyal sekitar dua puluh menit lalu."
Yura menutup mulutnya.
"Mereka mengambil Ayah?"
"Kami sedang melacak kendaraan. Belum bisa dipastikan."
"Dua puluh menit itu lama," kata Richard. "Kirim titik terakhirnya ke saya sekarang."
Ia meminta alamat itu, lalu menyuruh pengacaranya menghubungi kepolisian tanpa menunggu pagi. Setelah panggilan berakhir, ia menyalakan mesin dan memutar kemudi ke arah yang salah menurut Yura.
"Kenapa kita tidak mengejar mobil Ayah?"
"Karena mereka ingin kita panik," jawab Richard. "Kalau kita membawa peti itu ke tempat yang mereka tentukan, kita kehilangan satu-satunya perlindungan yang masih kita punya."
"Tapi kalau kita terlambat, Ayah bisa mati."
Richard diam. Ia tahu tidak ada alasan yang akan diterima Yura malam itu, dan ia juga tahu memaksakan alasan justru akan memperburuk semuanya. Jadi ia hanya menambah kecepatan.
Rumah aman perusahaan berada di kawasan perbukitan, jauh dari pusat kota, di ujung jalan yang tidak diaspal sempurna. Dua penjaga membuka gerbang setelah mengenali kendaraan Richard dan menyorot wajah mereka dengan senter.
Di dalam, Arman sudah menyiapkan ruang penyimpanan di bawah tanah dan mengumpulkan tim hukum. Kopi dingin berjajar di meja, tidak ada yang menyentuhnya.
Richard membawa peti itu turun bersama Surya. Mereka membukanya di bawah lampu gantung yang terlalu terang.
Buku catatan ayahnya ternyata jauh lebih tebal daripada yang terlihat semalam. Isinya bukan hanya transaksi, tetapi juga nama-nama pejabat, tanggal pertemuan, dan catatan pendek di pinggir halaman dengan tulisan yang makin lama makin miring, seperti ditulis oleh orang yang tangannya gemetar.
Di dasar peti ada dua kaset rekaman yang belum pernah diputar siapa pun.
"Kita harus mendengarkan ini," kata Surya.
Richard memasukkan kaset pertama ke pemutar lama yang diambil Arman dari gudang kantor. Butuh tiga kali percobaan sebelum benda itu mau berputar.
Lalu suara ayahnya terdengar. Berat, serak, dan terlalu dekat.
"Jika sesuatu terjadi kepadaku, orang yang memegang kendali di balik semua ini bukan hanya keluarga Mia. Ada seseorang di perusahaan kita yang lebih dekat dari dugaanmu. Jangan percaya kepada siapa pun yang menyebut dirinya pelindung."
Rekaman berakhir dengan bunyi klik.
Yura merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia menoleh ke sekeliling ruangan, ke wajah-wajah yang ada di sana, dan cepat-cepat menghentikan pikirannya sendiri.
"Siapa orang yang dimaksud?"
Surya menggeleng. "Ayahmu tidak pernah menyebut nama. Bahkan kepada saya."
Ponsel Yura berdering sebelum ada yang sempat bertanya lagi.
Panggilan video. Layarnya menyala dan menampilkan ayahnya, duduk di kursi kayu di ruangan yang gelap, tangan terikat ke belakang. Di belakangnya berdiri seorang lelaki memakai topeng kain hitam.
"Kamu membawa peti itu?" suara lelaki tersebut bertanya.
"Lepaskan Ayah saya!"
"Bawa bukti ke gudang tua dekat pelabuhan. Datang sendiri bersama Richard. Kalau kalian membawa polisi, ayahmu tidak akan melihat matahari lagi."
Panggilan terputus sebelum Yura sempat berteriak lagi.
Richard menatapnya. "Kita tidak bisa datang sendiri."
"Saya akan datang."
"Mereka menunggu itu."
"Kalau kita tidak datang, mereka akan membunuh Ayah." Suara Yura naik, lalu pecah. "Lo mau gue duduk di sini dan menunggu kabar?"
Pintu terbuka dan Arman masuk membawa kabar bahwa mobil pengawal sudah ditemukan, kosong, di pinggir kota. Dua petugas terluka tetapi masih hidup. Mereka hanya mengingat satu hal: penculiknya menggunakan mobil milik perusahaan perantara yang selama ini dipakai ayah Mia.
Richard menghubungi polisi dan menyusun rencana pengintaian sampai lewat tengah malam. Ia akan membawa peti palsu ke gudang, sementara peti asli dikirim ke penyidik lewat jalur lain dengan pengawalan terpisah.
Yura diminta tetap berada di dalam mobil pengawal. Ia menolak.
"Saya harus berada di sana saat Ayah dibebaskan."
"Kamu akan berada di sisi saya," kata Richard akhirnya, setelah kalah berdebat selama sepuluh menit. "Di sisi saya, bukan di depan. Itu syaratnya."
Mereka berangkat menjelang pukul satu. Richard membawa peti palsu di bagasi, sedangkan Surya mengikuti dari kendaraan lain bersama dua petugas. Yura mengenakan pelindung ringan di balik jaketnya, benda yang terasa berat dan aneh di tubuhnya.
Gudang tua dekat pelabuhan tampak kosong. Lampu-lampu di sekelilingnya mati, dan satu-satunya cahaya datang dari lampu kapal di kejauhan. Bau amis dan solar menempel di udara.
Richard membawa peti itu ke pintu utama.
"Kami datang," serunya.
Pintu geser terbuka dengan suara panjang. Dua lelaki bersenjata muncul dan memberi isyarat agar Richard serta Yura masuk.
Ayah Yura terlihat di tengah ruangan, duduk di kursi yang sama seperti di layar tadi. Tubuhnya lemah, tetapi matanya sadar.
"Ayah!"
Yura hendak berlari, tetapi Richard menahan lengannya.
"Peti dulu," kata lelaki bertopeng dari balik tumpukan drum.
Richard meletakkan peti itu di lantai dan mendorongnya dengan kaki. "Lepaskan dia."
Lelaki itu melangkah maju dan membuka penutup peti. Ia mengeluarkan buku catatan, membalik halaman pertama, lalu halaman kedua.
Wajahnya langsung berubah.
"Kamu menipuku."
"Saya datang memenuhi permintaanmu."
"Ini bukan bukti asli."
Yura memandang ke arah ayahnya. Lelaki itu perlahan menggeleng, sedikit sekali, memberi tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres di ruangan itu, sesuatu yang bahkan belum mereka lihat.
Tiba-tiba suara sirene terdengar dari luar, jauh tetapi mendekat cepat. Para penculik panik dan mengarahkan senjata ke pintu. Richard menarik Yura ke balik tiang beton, sementara polisi menerobos dari pintu belakang yang sudah mereka buka sejak setengah jam lalu.
Salah satu penculik menembak ke arah ayah Yura. Yura menjerit, tetapi peluru hanya mengenai sandaran kursi di sampingnya, menyemburkan serpihan kayu. Richard berlari dan menjatuhkan lelaki itu sebelum tembakan berikutnya dilepaskan.
Lelaki bertopeng melarikan diri ke tangga lantai atas. Richard mengejarnya, meninggalkan Yura bersama petugas yang sedang memotong tali pengikat ayahnya.
Di lantai atas, di antara tumpukan jaring dan peti kosong, lelaki itu berhenti. Ia tahu tidak ada jalan keluar lagi. Ia berbalik, lalu melepas topengnya sendiri.
Richard berhenti melangkah.
Itu Arman.
"Kamu?"
Arman tersenyum pahit. "Saya hanya ingin kembali mengambil apa yang seharusnya menjadi milik saya."
Richard menggeleng pelan, seperti menolak gambar di depan matanya. "Kamu bekerja untuk ayah Mia sejak awal."
"Saya yang memberikan semua informasi tentang pergerakanmu. Jam berapa kamu terbang. Hotel mana. Kamar nomor berapa." Arman mengangkat dagunya. "Saya juga yang mengirim pesan-pesan itu."
Polisi tiba di belakang Richard dan langsung mengunci kedua lengan Arman. Sebelum diborgol, lelaki itu tertawa.
"Kamu boleh menangkap saya. Tapi orang yang mengendalikan keluarga Mia masih bebas."
Richard menatapnya. "Siapa?"
Arman tidak menjawab. Ia hanya menunjuk dengan dagu ke arah ponsel Richard yang mulai berdering di saku.
Pesan baru, dari nomor ayah Mia.
"Sekarang kamu tahu siapa pengkhianatnya. Tapi kamu masih belum tahu siapa yang membunuh ayahmu."