Mama Richard berdiri di ambang pintu dengan pistol yang diarahkan ke peti kayu, bukan ke orang. Cahaya senter membelah debu di antara mereka. Polisi segera mengangkat senjata, tetapi Richard mengangkat tangan lebih dulu untuk menghentikan mereka.
"Jangan," katanya kepada petugas. "Tolong jangan."
Lalu kepada perempuan di pintu itu, "Turunkan pistolnya, Ma."
"Serahkan peti itu."
"Kenapa Mama datang membawa senjata?"
Perempuan itu tidak menjawab. Matanya turun ke surat yang masih terbuka di tangan anaknya, ke tulisan tangan yang ia kenal lebih baik daripada tulisannya sendiri. Sesuatu di wajahnya retak.
"Karena kalau bukti itu keluar, kamu dan Yura akan dibunuh," katanya akhirnya.
Yura melangkah mendekat, satu langkah saja, cukup untuk keluar dari punggung Richard.
"Selama ini Mama memang bekerja sama dengan ayah Mia?"
"Saya dipaksa."
"Tapi Mama membayar media dan membebaskan Satrio."
"Saya berusaha mengalihkan perhatian mereka." Suaranya bergetar. "Saya tidak pernah menyuruh siapa pun menculik ayahmu. Saya tidak pernah menyuruh siapa pun membakar gudang. Demi apa pun, tidak."
Richard menatap pistol di tangan ibunya. Benda itu tidak cocok dengan tangan yang dulu mengikat dasi seragamnya setiap pagi.
"Kalau begitu, letakkan senjata dan bicarakan semuanya."
Mama Richard tertawa lirih, suara yang lebih dekat ke tangis daripada ke tawa. "Kamu tidak akan percaya."
"Saya akan percaya kalau Mama berhenti menyembunyikan kebenaran."
Ia menurunkan pistol itu, tetapi tidak meletakkannya. Polisi tetap mengawasi dari sisi ruangan tanpa menurunkan moncong senjata mereka. Richard meminta Yura tetap berada di belakangnya dengan satu gerakan tangan, dan untuk sekali ini Yura menurut.
"Ayah Mia mengetahui ayahmu menemukan penggelapan dana," kata Mama Richard. "Itu dimulai dua puluh tahun lalu, bukan sepuluh. Dia mengancam akan menculikmu ketika kamu masih sekolah. Dia menyebutkan nama gurumu. Dia menyebutkan warna tas sekolahmu. Ayahmu pulang malam itu, duduk di dapur sampai subuh, lalu keesokan paginya menandatangani pengakuan palsu. Setelah itu ia meminta saya menyimpan bukti dan tidak memberitahu siapa pun. Bahkan tidak kepadamu."
Richard berdiri diam. Ia sedang menyusun ulang seluruh masa kecilnya dengan informasi yang baru datang dua puluh tahun terlambat.
"Kenapa Ayah tidak menjelaskan sebelum meninggal?"
"Dia ingin kamu tumbuh tanpa rasa takut."
"Dia tetap membiarkan saya membencinya."
Perempuan itu mengusap pipinya dengan punggung tangan yang memegang pistol, gerakan yang membuat semua polisi di ruangan itu menegang sedetik.
"Itu adalah kesalahan terbesarnya," katanya. "Dan saya membiarkannya. Jadi itu juga kesalahan saya."
Ia menarik napas, lalu melanjutkan. "Ketika ayah Mia kembali mengancam perusahaanmu tahun lalu, saya menerima bantuan darinya. Saya pikir kalau pernikahanmu dengan Mia terjadi, mereka akan berhenti mengejar. Satu pernikahan, lalu semuanya tenang. Saya salah. Mereka tidak pernah ingin berdamai. Mereka ingin mengambil semuanya."
Yura menatapnya tajam.
"Dan saya?" tanyanya. "Saya ini apa dalam hitungan Mama?"
Perempuan itu terdiam cukup lama sebelum menjawab.
"Kamu menjadi gangguan bagi rencana mereka. Karena itu mereka menyebarkan berita buruk tentangmu. Bukan karena kamu bersalah. Justru karena kamu tidak bisa dibeli."
"Itu bukan pujian."
"Saya tidak sedang memuji. Saya sedang menjelaskan kenapa hidupmu dihancurkan."
Richard maju satu langkah.
"Apa Mama memerintahkan orang mengancam keluarga Yura?"
Hening.
"Tidak," jawab ibunya. "Tapi saya tahu orang-orang itu akan datang. Saya tahu tanggalnya. Saya tidak menghentikan mereka."
Pengakuan itu membuat Yura tidak mampu berkata apa-apa. Richard tampak jauh lebih terluka oleh kalimat terakhir itu daripada oleh pistol yang sejak tadi ada di ruangan.
"Mama harus menyerahkan diri," katanya.
"Kalau saya menyerah, mereka akan membunuhmu."
"Kalau Mama terus bersembunyi, mereka akan membunuh lebih banyak orang."
Dari luar gudang terdengar suara kendaraan mendekat. Dua, mungkin tiga. Ban berdecit di lantai beton.
Mama Richard menoleh cepat ke lorong belakang, lalu memandang peti itu lagi.
"Mereka datang."
Polisi meminta semua orang berlindung. Richard membuka buku catatan ayahnya dengan cepat, menyusuri halaman demi halaman di bawah cahaya senter. Di dalamnya ada daftar nama, nomor rekening, tanggal, dan nominal yang semuanya terhubung dengan ayah Mia.
Di halaman terakhir, tertulis sebuah alamat yang membuat Richard berhenti.
"Ini rumah aman keluarga kita."
Mama Richard mengangguk. "Di sana ada salinan terakhir. Ayahmu yang menaruhnya."
Pintu gudang digedor keras dari luar. Polisi menahannya dengan bahu, sementara satu petugas menghubungi bantuan lewat radio.
Mama Richard menyerahkan pistol itu kepada anaknya dengan gagang lebih dulu, lalu mengeluarkan kunci lain dari saku bajunya.
"Ikuti saya ke ruang belakang. Ada jalan keluar menuju kanal."
Mereka bergerak cepat. Ketika polisi menahan pintu utama, Richard, Yura, Surya, dan Mama Richard masuk ke lorong sempit yang berbau lumut. Dari belakang terdengar suara tembakan dan teriakan yang saling bertabrakan.
Di ujung lorong, sebuah perahu kecil terikat pada tiang berkarat. Airnya hitam dan tenang. Mereka naik satu per satu, dan Surya mendorong perahu itu menjauh dengan tongkatnya sendiri.
Suara di gudang perlahan mengecil di belakang mereka.
Yura duduk berhadapan dengan Mama Richard. Untuk pertama kalinya mereka berada dalam jarak sedekat itu tanpa wartawan, tanpa meja rumah sakit, tanpa senjata di antara mereka.
"Saya minta maaf," kata Mama Richard.
Yura tidak langsung menjawab. Ia memandang air, lalu memandang perempuan itu.
"Permintaan maaf tidak mengembalikan nama baik keluarga saya."
"Saya tahu."
"Ibu saya sampai tidak berani ke warung."
"Saya tahu." Perempuan itu menunduk. "Tapi saya akan memberikan semua bukti dan bersaksi. Semua yang saya tahu, termasuk yang membuat saya sendiri dipenjara."
Richard menatap ibunya dari ujung perahu.
"Setelah kita sampai, Mama akan menyerahkan diri."
Mama Richard mengangguk. "Saya siap."
Perahu berhenti di dekat jembatan tua. Beberapa polisi sudah menunggu di tepian dengan lampu senter mengarah ke air. Sebelum turun, Mama Richard menggenggam tangan anaknya dan menahannya di sana.
"Ayahmu mencintaimu," katanya. "Dia cuma tidak tahu caranya mengatakan hal yang menakutkan. Jangan mengulangi kesalahannya dengan membiarkan orang yang kamu cintai pergi tanpa penjelasan."
Tatapan Richard berpindah kepada Yura. Gadis itu memalingkan wajah ke arah air, tetapi ia mendengar setiap kata, dan kedua orang itu tahu ia mendengarnya.
Mama Richard turun dan menyerahkan diri tanpa dipegang siapa pun. Polisi membawa peti serta buku catatan sebagai barang bukti, mencatat setiap benda satu per satu di bawah lampu kendaraan.
Richard dan Yura tertinggal di tepi sungai. Malam semakin dingin dan angin membawa bau lumpur.
"Lo akan memaafkan Mama?" tanya Yura.
Richard memandang mobil yang mulai menjauh.
"Saya tidak tahu," katanya. "Tapi saya akan mendengarkan seluruh kebenarannya. Itu yang tidak pernah diberikan siapa pun kepada saya."
Yura mengangguk. Mereka berjalan berdampingan menuju mobil tanpa bicara lagi.
Sebelum masuk, ponsel Richard bergetar. Pesan baru, dari nomor ayah Mia.
"Mama sudah menyerah. Sekarang giliran kamu memilih: bawa peti itu ke rumah aman, atau biarkan ayah Yura membayar kesalahan keluargamu."