Pesan dari nomor asing itu membuat Richard tidak segera menyalakan mesin. Ia membaca kalimat tersebut dua kali, lalu mengunci layar ponselnya dan meletakkannya di dasbor.
"Ada apa?" tanya Yura.
Richard menyerahkan ponsel itu kepadanya. Yura membuka layarnya dan mengerutkan dahi.
"Rahasia ayah lo?"
"Saya tidak tahu rahasia apa yang dimaksud."
"Nomornya bisa dilacak?"
"Yang tadi malam tidak bisa. Kartu sekali pakai."
Yura mengembalikan ponsel itu. Ia ingin mengatakan bahwa mungkin ini cuma orang iseng yang ikut ramai membaca berita, tetapi ia tahu sendiri kalimat itu tidak akan meyakinkan siapa pun, termasuk dirinya.
Mereka baru hendak meninggalkan halaman kantor polisi ketika sebuah mobil tua berhenti melintang di depan mereka. Mesinnya berbunyi kasar, catnya kusam di beberapa bagian.
Seorang lelaki berambut putih turun dengan tongkat di tangan. Ia berjalan pelan, memperhitungkan setiap langkah. Wajahnya tampak tidak asing bagi Richard, meskipun ia membutuhkan beberapa detik untuk menemukan nama yang cocok.
"Pak Surya?"
Lelaki itu mengangguk. Ia dahulu adalah rekan bisnis ayah Richard, orang yang dulu selalu membawakan mainan setiap kali datang ke rumah, sebelum menghilang dari dunia perusahaan lebih dari sepuluh tahun lalu tanpa pamit kepada siapa pun.
"Saya harus berbicara denganmu," kata Surya. "Tentang ayahmu."
"Sekarang?"
"Saya sudah menunggu sepuluh tahun untuk sekarang."
Richard meminta Yura tetap berada di sampingnya. Mereka masuk ke sebuah kafe kecil di seberang kantor polisi, tempat yang lampunya kuning dan kursinya berderit. Surya memesan teh, tetapi tidak menyentuhnya sama sekali sepanjang pembicaraan.
"Ayahmu bukan penggelap dana seperti yang dikatakan ayah Mia," katanya. "Dia memang memindahkan uang perusahaan. Itu benar. Tapi dia memindahkannya untuk menyelamatkan proyek yang sedang dihancurkan oleh mitra bisnisnya sendiri."
"Siapa mitra itu?"
Surya menatap Richard lurus-lurus. "Ayah Mia."
Yura menahan napas. Richard bersandar di kursinya dan diam cukup lama, berusaha menyusun ulang seluruh isi kepalanya.
"Ayahmu menemukan bahwa ayah Mia memalsukan sertifikat tanah dan mengalihkan uang proyek ke perusahaan cangkang," lanjut Surya. "Saya yang membantunya mengumpulkan salinannya. Ketika ayahmu ingin melapor, dia dijebak lebih dulu dengan laporan penggelapan. Dalam tiga hari, semua koran menulis hal yang sama."
"Kenapa Mama tidak pernah mengatakan ini?"
"Karena ayah Mia mengancam keselamatanmu."
Richard mengangkat wajahnya.
"Saat itu kamu masih kecil," kata Surya. "Mereka menyebut nama sekolahmu. Mereka menyebut jam pulangmu. Mereka membuat ayahmu memilih diam agar keluarganya tetap hidup, dan ayahmu memilih. Setiap orang akan memilih hal yang sama."
Richard mengepalkan tangannya di bawah meja.
Selama bertahun-tahun ia percaya ayahnya menghancurkan perusahaan karena keserakahan. Ia membenci lelaki itu atas rumah yang dijual, atas ibunya yang berhenti tersenyum, atas tatapan orang-orang di pemakaman. Ia bahkan tidak menangis waktu itu, dan ia bangga pada dirinya sendiri karena tidak menangis.
"Ayah saya meninggal dengan membawa rahasia ini," katanya.
"Tidak seluruhnya." Surya menggeser cangkir tehnya ke samping. "Dia meninggalkan bukti di tempat yang tidak akan dicari siapa pun."
Ia merogoh saku jasnya yang sudah usang dan meletakkan sebuah kunci kecil di atas meja. Di kepalanya terdapat simbol yang sama persis dengan lambang pada pintu gudang di London.
Yura menatap kunci itu, lalu menatap Richard.
"Di mana tempatnya?" tanya Richard.
"Gudang arsip lama di kota ini. Tapi hati-hati. Orang-orang yang mencari bukti itu masih mengawasi, dan mereka sudah mengawasi jauh lebih lama daripada kamu menyadarinya."
Richard menatap Yura. Gadis itu mengangguk sebelum ditanya, seolah sudah memutuskan sejak kalimat pertama bahwa ia akan ikut.
"Kami pergi sekarang," kata Richard sambil meraih kunci itu.
Surya menahan lengannya.
"Jangan. Tunggu sampai polisi mengawal."
"Terlalu banyak waktu terbuang."
"Karena terburu-buru, ayahmu kehilangan segalanya." Suara lelaki tua itu tidak keras, tetapi cukup untuk menghentikan Richard di tempatnya. "Dia juga berkata terlalu banyak waktu terbuang. Jangan ulangi kesalahannya."
Richard terdiam. Ia akhirnya mengeluarkan ponsel, menghubungi pengacaranya, dan meminta pengawalan resmi diurus malam itu juga.
Namun sebelum mereka sempat meninggalkan kafe, ponsel Yura berdering. Nama Mama muncul di layar.
"Yur, jangan pulang ke rumah." Suara Mama Yura terdengar panik dan terlalu cepat. "Ada dua lelaki menanyakan keberadaanmu."
Yura berdiri tanpa sadar. "Mama sekarang di mana?"
"Di rumah Bu Ratih. Mama keluar lewat belakang."
"Mereka masih di sana?"
"Mama tidak berani mengintip. Mereka membawa foto kamu dan Richard. Mereka bilang mau mengantar dokumen."
Richard mengambil ponsel dari tangan Yura. "Tante, bawa diri Tante ke kantor polisi terdekat. Jangan kembali ke rumah walau mereka sudah pergi. Saya kirim petugas sekarang."
"Tapi Mama takut mereka mengikuti."
"Karena itu Tante jangan naik ojek online. Tunggu di dalam sampai ada petugas yang menyebut nama saya."
Setelah panggilan berakhir, Richard langsung menghubungi Arman dan meminta pengawalan dikirim. Yura berdiri di samping meja, menahan air mata dengan cara menatap langit-langit.
"Semua orang yang dekat dengan gue terus terancam," katanya.
"Ini bukan salah kamu."
"Tapi sejak lo kembali, semuanya jadi kacau." Ia menoleh. "Gue tidak sedang menyalahkan lo. Gue cuma menyebut faktanya."
Richard memandangnya. "Kalau saya tidak kembali, kamu mungkin tidak akan pernah tahu apa yang dilakukan keluarga Mia kepada keluargamu. Utang ayahmu tidak muncul dari langit, Yur. Ada yang membelinya, lalu memakainya."
Yura terdiam.
"Jangan menjadikan luka sebagai alasan untuk tetap bersamaku," katanya kemudian.
"Saya tidak sedang mencari alasan. Saya sedang memilih."
Polisi tiba empat puluh menit kemudian dan membawa mereka menuju gudang arsip lama. Lokasinya berada di kawasan pergudangan yang sudah lama ditinggalkan, di antara bangunan-bangunan tanpa nomor. Pintu besinya dibuka menggunakan kunci milik Surya, dan engselnya menjerit panjang.
Di dalam, ratusan kotak dokumen berdiri bertumpuk, tertutup debu setebal jari.
"Ayahmu menyimpan bukti di ruang bawah," kata Surya.
Mereka turun melalui tangga sempit yang hanya cukup untuk satu orang. Richard menemukan sebuah peti kayu dengan inisial ayahnya terukir di sudut. Saat ia memutar kunci itu, terdengar suara langkah dari lantai atas.
"Ada orang lain," bisik Yura.
Polisi mengangkat senjata. Richard membuka peti dan menemukan buku catatan tebal, beberapa kaset rekaman, serta sebuah amplop bertuliskan namanya.
Ia membuka amplop itu dengan tangan gemetar.
"Richard, jika kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada. Jangan percaya siapa pun yang mengatakan aku menghancurkan keluarga kita. Kebenaran ada pada orang yang paling takut membicarakannya."
Tiba-tiba lampu gudang padam.
Sebuah peluru ditembakkan dari lantai atas dan menghantam rak di belakang mereka. Polisi membalas. Yura berlindung di belakang punggung Richard, telinganya berdengung.
Dalam gelap, Surya berteriak, "Bawa bukti itu keluar! Mereka tidak boleh mendapatkannya!"
Richard menggenggam tangan Yura dan menyeret peti itu menjauh dari tangga. Dari ujung ruangan terdengar suara yang sangat dikenalnya.
"Berikan peti itu, Richard. Kamu sudah terlalu jauh menggali masa lalu."
Richard menyalakan senter.
Di ambang pintu berdiri Mama Richard. Wajahnya pucat, tetapi tangannya menggenggam pistol.