Polisi membawa ayah Mia ke kantor penyidik pada pukul sepuluh pagi. Lelaki itu turun dari mobil dengan kemeja yang masih rapi dan dagu terangkat, seolah sedang datang ke rapat pemegang saham, bukan ke ruang pemeriksaan.
Ia menolak bicara sampai pengacaranya datang. Namun isi flash drive milik Mama Richard sudah lebih dulu sampai ke meja penyidik, dan setiap kali ia menolak menjawab, salah satu petugas cukup membuka satu lembar transfer dan mendorongnya ke tengah meja. Ruang geraknya menyempit satu lembar demi satu lembar.
Mia duduk di ruang tunggu bersama Adrian. Ia mengenakan pakaian paling sederhana yang pernah Yura lihat dikenakannya, tanpa perhiasan, tanpa riasan. Adrian duduk di sampingnya, menjaga jarak sopan, tetapi tidak beranjak sedetik pun.
Richard dan Yura tiba beberapa menit kemudian. Begitu melihat mereka, Mia berdiri.
"Aku ingin meminta maaf," katanya kepada Yura.
Yura berhenti di tengah ruangan. Ia sempat berpikir untuk menjawab dengan sesuatu yang manis, sesuatu yang membuat pagi itu lebih mudah bagi semua orang. Ia memutuskan tidak.
"Aku sudah mendengarnya," katanya. "Tapi permintaan maaf tidak menghapus akibatnya."
Mia mengangguk. Ia tidak membantah, dan itu membuat Yura sedikit menurunkan pertahanannya.
"Aku tahu," kata Mia. "Aku akan memberikan kesaksian. Semuanya. Dan aku akan mengganti kerugian yang bisa aku tanggung, termasuk kepada tim kamu. Aku tahu ada klien yang mundur karena berita itu."
"Itu bukan uang yang bisa dikembalikan."
"Aku tetap akan mencoba."
Richard memandang Mia cukup lama sebelum bicara.
"Kenapa kamu tidak memberitahu saya sejak awal?"
Mia menarik napas. "Karena aku takut kamu tidak akan percaya."
"Kamu memang tidak memberi saya kesempatan."
"Tidak," Mia mengakui. "Aku tidak memberimu apa-apa. Aku cuma pergi dan membiarkan kamu berdiri sendirian di depan semua orang."
Ia menunduk. Jemarinya meremas tali tas.
"Aku masih mencintaimu, Richard," katanya pelan. "Aku pikir kamu harus mendengarnya sekali dari mulutku sendiri, bukan dari berita. Tapi aku juga tahu hubungan kita sudah terlalu rusak untuk diselamatkan. Yang aku cintai itu bahkan bukan kamu yang sekarang. Yang aku cintai itu versi kamu yang aku bayangkan waktu semuanya belum sehancur ini."
Yura mendengar kalimat itu dan menahan napas. Ia memandang lantai, ke ubin kantor polisi yang retak di sudut, dan menyadari jantungnya berdegup terlalu keras untuk percakapan yang bukan miliknya.
Richard tidak menjawab. Mungkin memang tidak ada jawaban yang tidak kejam.
Adrian berdiri dan menyentuh punggung kursi Mia, tidak lebih dari itu.
"Dia belum tidur tiga malam," katanya kepada Richard, pelan sekali. "Kesaksiannya dia tulis tangan sendiri, semuanya, karena takut kalau diketik ada yang bisa mengubah isinya."
"Kamu yang menemaninya?"
"Saya yang mengantar. Dia yang memutuskan."
Mia mengeluarkan sebuah map cokelat dari tasnya dan menyerahkannya.
"Ini kontrak asli dan bukti terakhir. Ayahku berencana menjadikan perusahaanmu jaminan untuk utang politiknya. Bukan pinjaman biasa, Richard. Utang yang tidak tercatat di mana pun. Mama kamu membantu karena takut masalah lama ayahmu terbongkar."
Richard membuka map itu dan membaca halaman pertama. Rahangnya mengeras.
"Kamu ikut menandatangani sesuatu?"
"Aku menandatangani kontrak pernikahan, bukan pengalihan perusahaan." Suara Mia bergetar. "Ada tiga lembar tambahan yang mereka masukkan setelah aku menandatangani yang pertama. Aku baru melihatnya minggu lalu."
"Kamu bisa membuktikan urutan itu?"
"Notarisnya bersedia bersaksi. Dia juga takut."
Seorang petugas keluar dan memanggil nama mereka satu per satu. Pemeriksaan dimulai sebelum tengah hari dan tidak selesai sampai matahari condong. Berjam-jam mereka duduk di ruang yang berbeda, mengulang hal yang sama dengan kalimat yang berbeda, sementara juru ketik mencatat tanpa pernah mengangkat wajah.
Yura sempat tertidur sepuluh menit di kursi ruang tunggu dengan tas dipeluk seperti bantal. Ketika ia bangun, ada jaket asing menyelimuti bahunya. Ia tidak perlu bertanya milik siapa.
Ayah Mia akhirnya mengakui sebagian rencananya, cukup untuk menutup pintu di belakangnya. Satrio, dari ruang sebelah, membenarkan seluruh transaksi uang.
Ketika mereka keluar, langit sudah gelap. Lampu halaman kantor polisi menyala satu-satu, dan udara membawa bau hujan yang belum turun.
Richard dan Yura berdiri di tangga depan. Untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu, tidak ada yang harus mereka kejar malam itu.
"Semuanya selesai?" tanya Yura.
"Belum." Richard memasukkan tangannya ke saku. "Pengadilan akan panjang. Satu tahun, mungkin lebih. Tapi setidaknya kita tidak lagi berlari."
Yura tersenyum kecil. "Lo akan kembali ke kehidupan lama setelah ini?"
Richard menatapnya. "Saya tidak tahu bagaimana kehidupan lama saya. Banyak hal sudah berubah."
"Termasuk Mia."
"Termasuk kamu."
Yura menahan napas. Angin malam menerbangkan rambut ke wajahnya, dan ia membiarkannya, karena mengangkat tangan saat ini akan terasa seperti melarikan diri.
Richard mengulurkan tangan, tetapi tidak langsung menyentuhnya. Telapak tangan itu terbuka di antara mereka, menunggu, tanpa memaksa.
"Yur, saya tidak ingin memaksa kamu memaafkan saya," katanya. "Saya juga tidak akan berpura-pura tujuh tahun itu bisa dihapus dengan satu kalimat. Tapi saya ingin kesempatan untuk mengenal kamu lagi, tanpa kebohongan dan tanpa orang lain mengatur hidup kita."
Yura memandang tangan itu.
Ia teringat masa SMA, kelas yang panas, dan lelaki yang selalu menunggunya di gerbang belakang. Ia teringat perpisahan yang tidak pernah dijelaskan, pesan yang tidak pernah dibalas, dan bagaimana ia berhenti bertanya kepada siapa pun setelah tahun ketiga karena malu pada dirinya sendiri. Ia teringat ibunya yang bertanya kenapa ia berhenti makan, dan bagaimana ia menjawab bahwa ia sedang diet.
Lalu ia teringat balok kayu yang menimpa bahu lelaki itu, dan bagaimana Richard masih sempat berteriak agar ia menyelamatkan ayahnya lebih dulu.
"Kita mulai dari awal," katanya.
Richard tersenyum. "Dari awal?"
"Dari pertemanan." Yura mengangkat satu jari. "Dan gue serius. Kalau lo masih membuat gue kesal, gue pergi."
"Saya akan berusaha tidak membuat kamu kesal."
"Jangan janji terlalu tinggi."
"Baik. Saya akan berusaha membuat kamu kesal lebih jarang."
Yura menahan tawanya dan gagal.
Mereka berjalan meninggalkan kantor polisi. Di seberang jalan, seorang wartawan yang sejak tadi menunggu mengangkat kameranya dan memotret. Kali ini Yura tidak menunduk dan tidak menutupi wajahnya. Ia menggenggam tangan Richard dengan sadar, tahu persis gambar itu akan tayang besok pagi, dan memilih tetap melakukannya.
Di dalam mobil, sebuah pesan baru masuk dari nomor asing. Hanya ada satu kalimat:
"Perang pertama memang sudah selesai, tetapi rahasia ayah Richard belum terbuka."