Ayah Yura masih dirawat di rumah sakit akibat sesak asap. Kamarnya berada di lantai empat, menghadap tembok gedung sebelah, dan sepanjang hari satu-satunya suara di sana adalah desis oksigen.
Ketika Yura datang membawa bubur dan air hangat, lelaki itu langsung memalingkan wajah ke arah jendela. Ia tampak malu setelah tahu siapa yang menariknya keluar dari terowongan.
"Kamu tidak perlu datang," katanya.
"Aku tetap anak Ayah."
"Ayah sudah membuat hidup kalian hancur."
Yura meletakkan wadah bubur di meja, menarik kursi, lalu duduk di samping ranjang. Ia tidak langsung bicara. Ia membuka tutup wadah itu, mengaduk isinya pelan-pelan supaya uapnya keluar, dan meletakkan sendok di tangan ayahnya.
"Makan dulu."
"Yura."
"Makan dulu, Yah. Habis itu ngomong."
Lelaki itu akhirnya menyuap dua kali, lalu meletakkan sendoknya. Tangannya gemetar, dan Yura pura-pura tidak melihat.
"Ayah harus berhenti melarikan diri," katanya. "Ayah harus menceritakan semua utang. Semuanya. Berapa, ke siapa, sejak kapan. Kalau tidak, mereka akan terus punya alasan untuk datang ke rumah Mama."
Lelaki itu menghela napas panjang dan napasnya tersangkut di tengah, memicu batuk yang cukup lama. Yura menunggu sampai reda.
Lalu pengakuan itu keluar, sedikit demi sedikit, seperti sesuatu yang sudah terlalu lama disimpan sampai lupa caranya diucapkan.
Sebagian uang yang dipinjam habis di meja judi. Sebagian lagi diberikan kepada seorang perempuan yang sudah ia temui bertahun-tahun, yang selama ini Yura kira hanya rekan kerja ayahnya. Dan yang paling berat diucapkan terakhir: ia pernah mengambil uang dari tempat kerjanya karena terdesak, dan itulah alasan sebenarnya ia dipecat delapan tahun lalu, bukan karena perusahaan bangkrut seperti yang selalu diceritakan di rumah.
Yura mendengarkan semuanya tanpa memotong sekali pun.
Di layar ponsel yang ia sandarkan pada gelas, wajah Mama Yura ikut mendengar melalui panggilan video. Perempuan itu menangis, tetapi anehnya tidak terlihat terkejut. Mungkin ada hal-hal yang sudah lama diketahui seorang istri tanpa pernah berani ditanyakan.
"Mas," suara Mama Yura terdengar dari layar. "Perempuan itu yang dulu sering telepon ke rumah, ya? Yang selalu bilang salah sambung?"
Lelaki itu tidak menjawab. Diamnya sudah cukup.
"Mama," kata Yura pelan, "nanti kita bicara."
"Mama tidak apa-apa." Perempuan di layar mengusap pipinya dengan ujung kerudung. "Mama cuma ingin tahu mana yang benar. Delapan tahun Mama membela orang yang tidak pernah mau menjelaskan apa yang Mama bela."
"Sudah selesai?" tanya Yura ketika ayahnya berhenti.
"Sudah."
"Berapa semuanya?"
Ayahnya menyebut satu angka. Yura mengulanginya pelan, seolah dengan diucapkan angka itu akan menyusut sedikit.
"Itu belum bunganya," tambah lelaki itu.
"Gue tahu."
Ia menghitung di kepalanya: berapa pernikahan yang harus ia tangani, berapa tahun, berapa malam tanpa tidur. Angkanya tidak masuk akal, dan ia tetap menyelesaikan hitungan itu sampai habis.
"Kami akan menyelesaikan ini lewat hukum. Ayah harus menjalani akibatnya."
Lelaki itu menatap putrinya. "Apakah Richard akan tetap membayar?"
"Tidak."
Ada sesuatu yang runtuh di wajah ayahnya mendengar kata itu.
"Tapi dia membantu menyediakan pengacara," lanjut Yura, "supaya tidak ada pihak yang memeras keluarga kami lagi. Utangnya tetap utang Ayah. Bedanya, sekarang ada yang mengatur supaya Ayah tidak dipaksa membayar dua kali kepada orang yang sama."
Ayahnya mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak Yura masuk, ia menoleh dan benar-benar menatap wajah anaknya.
"Kamu mencintainya?"
Yura terdiam. Sendok di tangannya berhenti di udara.
"Itu bukan urusan Ayah."
"Bukan," lelaki itu setuju. "Tapi Ayah yang menyeretnya ke dalam api. Jadi Ayah merasa berhak bertanya sekali."
Yura meletakkan sendok itu di pinggir wadah.
"Kalau dia membuatmu bahagia," kata ayahnya lagi, "jangan lepaskan hanya karena masa lalu. Ayah melepaskan banyak hal karena masa lalu, dan lihat Ayah sekarang."
Nasihat itu datang bertahun-tahun terlalu lambat dari orang yang paling tidak berhak memberikannya. Namun entah kenapa, justru itu yang membuat Yura menunduk dan tidak sanggup menjawab.
Ia merapikan selimut ayahnya, mengecek tabung oksigen, lalu keluar sebelum matanya benar-benar penuh.
Di luar kamar, Richard sedang berdiri di lorong sambil memegang map cokelat. Ia sudah menunggu entah berapa lama, dan tidak mengatakan apa pun tentang mata Yura yang memerah.
"Sudah?"
"Sudah." Yura mengusap wajahnya. "Itu apa?"
Richard menyerahkan map tersebut. Di dalamnya ada dokumen kesepakatan dengan para penagih lama. Pengacaranya berhasil menarik seluruh urusan itu keluar dari tangan penagih jalanan dan memindahkannya menjadi perkara hukum yang sah, lengkap dengan jadwal cicilan yang diawasi pengadilan.
Yura membalik halaman pertama. Tulisannya penuh istilah yang tidak ia mengerti, tetapi ada satu baris yang ia pahami tanpa kesulitan: nama ibunya, dan di sebelahnya keterangan bahwa rumah itu dicoret dari daftar jaminan.
"Ini artinya apa?"
"Artinya besok pagi tidak akan ada orang datang ke rumah ibumu dan menempelkan kertas di pintu."
Yura menatap halaman itu lebih lama daripada yang ia sadari.
Di halaman terakhir ada satu paragraf lagi yang membuatnya berhenti membaca.
"Rumah Mama gue tidak jadi disita?"
"Tidak bisa disita," kata Richard. "Rumah itu bukan jaminan. Mereka menekan ibumu dengan dokumen yang sejak awal tidak sah."
Yura menutup map itu dan memeluknya ke dada.
"Kamu tidak harus melakukan semua ini," katanya pelan.
"Saya tahu."
"Lalu kenapa?"
Richard tidak langsung menjawab. Ia menatap lorong yang sepi, lampu-lampu yang terlalu terang, papan penunjuk arah ke ruang operasi.
"Karena saya pernah meninggalkan kamu tanpa penjelasan," katanya akhirnya. "Waktu itu saya pikir diam adalah cara melindungi kamu. Saya salah, dan kamu yang membayar akibatnya selama bertahun-tahun. Saya tidak mau mengulanginya dengan cara lain."
Yura merasakan dadanya sesak. Ada begitu banyak yang ingin ia katakan, sebagian marah, sebagian bukan, dan semuanya berebut keluar pada waktu yang sama sehingga tidak satu pun berhasil.
Dari ujung lorong terdengar troli makanan didorong perawat. Bau sup dan disinfektan bercampur di udara. Richard menggeser selempangnya karena bahunya mulai pegal, dan Yura otomatis mengulurkan tangan membetulkan letak talinya sebelum sempat berpikir. Keduanya sadar pada detik yang sama, dan sama-sama memilih tidak membahasnya.
Yura baru membuka mulut ketika ponsel Richard berbunyi.
Lelaki itu melihat layar, lalu keningnya berkerut.
"Dari Mia."
Ia membuka pesan tersebut, membacanya sekali, lalu membacanya lagi.
Ayahnya telah ditemukan di sebuah vila di luar kota. Ia tidak melawan saat dijemput. Dan ia membawa serta satu map berisi bukti terakhir tentang kontrak perusahaan, yang selama ini disimpan tanpa pernah diserahkan kepada siapa pun.