Richard keluar dari rumah sakit setelah dua hari. Dokter melarangnya bekerja setidaknya seminggu lagi, dan Richard mendengarkan seluruh larangan itu dengan sopan sebelum menandatangani surat pulang paksa.
"Lo memang tidak pernah bisa disuruh diam," kata Yura di lift.
"Kantor sedang tidak bisa ditinggal."
"Bahu lo juga tidak bisa ditinggal."
Richard tidak menjawab. Ia memandangi angka lantai yang turun satu per satu.
"Yur."
"Apa."
"Kalau di bawah nanti ramai, jangan jawab apa pun. Satu kata saja bisa mereka potong jadi judul."
"Gue sudah tiga hari jadi judul."
"Justru itu."
Ia tiba di gedung perusahaan bersama Yura menjelang pukul sembilan. Dari dalam mobil saja mereka sudah melihat puluhan wartawan berdiri di depan pintu utama, berdesakan di balik tali pembatas yang dipasang satpam sejak subuh.
Begitu pintu mobil terbuka, suara-suara itu menyerbu sekaligus.
"Tuan Richard, apakah benar Anda terlibat pembakaran?"
"Apakah Nona Yura akan dituntut?"
"Benarkah Anda menyandera calon istri Anda sendiri?"
Richard tidak menjawab satu pun. Ia berjalan lurus dengan tangan kirinya menuntun Yura di sisi yang terlindung, sementara pengacara membuka jalan menuju lobi. Kilatan kamera memantul di lantai marmer.
Di dalam, beberapa direksi sudah menunggu dengan wajah cemas. Tidak ada yang menyalami.
"Investor meminta penjelasan," kata Arman sambil menyerahkan map. "Saham turun tiga belas persen sejak berita terakhir. Dua bank menunda pencairan."
"Sudah siapkan ruang rapat?"
"Semua hadir, Pak. Termasuk yang biasanya tidak hadir."
Richard memasuki ruang rapat dan tidak duduk. Ia berdiri di ujung meja, menyalakan layar, lalu menampilkan rekaman yang diberikan ibunya. Suara ayah Mia mengisi ruangan yang dingin itu selama empat menit penuh, dan tidak ada satu orang pun yang menyentuh gelasnya.
Setelah rekaman berhenti, Richard menjelaskan hubungan ayah Mia dengan sengketa tanah, dengan pembayaran kepada media, dan dengan uang yang mengalir kepada Satrio lewat perusahaan perantara.
Beberapa direksi masih ragu. Salah satu yang paling senior mencondongkan badan.
"Bagaimana kami tahu rekaman ini asli?"
"Karena penyidik sudah memverifikasinya."
"Kalau ternyata tidak?"
"Maka saya yang akan duduk di kursi tersangka, bukan Anda." Richard menatapnya. "Tapi saya tidak akan mempertaruhkan perusahaan ini untuk rekaman palsu."
Seorang direktur lain, yang selama ini paling jarang bersuara, mengetuk mejanya pelan.
"Saya tidak mempersoalkan rekamannya," katanya. "Saya mempersoalkan waktunya. Kenapa baru sekarang, Pak Richard? Kenapa bukan tiga bulan lalu, sebelum perusahaan ini dipakai sebagai jaminan orang lain?"
Richard menatapnya cukup lama sebelum menjawab.
"Karena tiga bulan lalu saya masih percaya kepada orang yang salah. Itu kesalahan saya, dan saya tidak akan mengulanginya."
Tidak ada yang bertanya lagi setelah itu.
Pintu ruang rapat terbuka sebelum ada yang sempat membalas. Dua polisi masuk bersama seorang lelaki yang tangannya diborgol.
Satrio.
Ia tertangkap di sebuah apartemen kosong, di alamat yang persis sama dengan yang tertulis di flash drive, beberapa jam sebelum sempat melarikan diri ke luar kota.
"Satrio sudah mengakui bahwa ia membantu membakar gudang," kata penyidik. "Ia juga mengaku menerima perintah dari ayah Mia."
Ruangan itu mendadak berubah. Wajah-wajah yang tadi menuntut penjelasan kini menghindari tatapan Richard.
Satrio sendiri tidak menunduk. Ia menatap Richard dengan mata penuh kebencian yang sudah lama dipelihara.
"Saya hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi hak saya," katanya. "Kamu selalu mendapatkan semuanya. Sejak dulu. Sejak kita masih di kampus."
"Kamu mengkhianati sahabatmu sendiri."
"Sahabat?" Satrio tertawa pendek. "Kamu tidak pernah menganggapku setara. Kamu memberiku pekerjaan, bukan tempat."
"Saya memberimu jabatan yang tidak pernah saya berikan kepada siapa pun."
"Jabatan," ulang Satrio. "Kamu tahu apa yang orang bicarakan setiap kali saya masuk ruangan? Tangan kanan Richard. Bukan nama saya. Tangan kanannya."
"Dan untuk itu kamu membakar gudang dengan seorang lelaki tua terikat di dalamnya?"
Satrio tidak menjawab. Untuk pertama kalinya sejak masuk, ia memalingkan wajah.
Richard membuka mulut, lalu mengatupkannya kembali. Ia tidak membalas. Yang ia rasakan bukan lagi kemarahan, melainkan kekecewaan yang tumpul dan berat, jenis yang tidak bisa diselesaikan dengan menang berdebat.
Polisi membawa Satrio keluar. Suara borgolnya terdengar sampai lift menutup.
Penyidik juga mengumumkan bahwa ayah Mia sedang dicari dan kemungkinan besar sudah melarikan diri dari rumahnya sejak dua malam lalu. Mia bersedia menjadi saksi, sementara Mama Richard dipanggil untuk pemeriksaan pertama sore itu juga.
Konferensi pers digelar satu jam kemudian di lobi.
Richard berdiri di depan mikrofon dengan lengan masih tergantung di selempang. Ia menjelaskan kronologi dari awal: undangan ke London, ancaman terhadap keluarga Yura, kebakaran, dan siapa yang sebenarnya membawa jeriken ke dalam gudang.
Untuk pertama kalinya, kamera merekam Yura tanpa menempelkan tuduhan pada namanya.
"Sebelum saya menutup," kata Richard, "ada satu hal yang harus saya perjelas. Nama Nona Yura disebut dalam berita dua hari terakhir sebagai perusak rumah tangga dan pencuri dokumen. Kedua tuduhan itu tidak benar, dan tidak ada satu pun bukti yang pernah diajukan untuk mendukungnya."
Yura menoleh cepat. Ia tidak tahu bagian itu akan ada.
"Dia adalah orang yang menyelamatkan keluarga saya dan membantu menemukan kebenaran," lanjut Richard. "Kalau ada yang ingin menuntut seseorang hari ini, tuntut saya. Jangan dia."
Blitz menyala bertubi-tubi. Pertanyaan berhamburan, tetapi pengacara sudah menutup sesi.
Pernyataan itu tersebar sebelum sore. Potongannya beredar di mana-mana, dipotong pendek, dipasangi musik, dibicarakan orang yang bahkan tidak tahu siapa mereka. Menjelang malam, ponsel Yura penuh oleh pesan. Beberapa klien lama menghubungi Cantika Wedding Organiser untuk meminta maaf, dua di antaranya bahkan meminta jadwal ulang.
Neli menelepon sambil setengah menjerit. "Yur, yang batal minggu lalu balik lagi! Yang batal minggu lalu balik lagi!"
Yura hanya tertawa kecil dan menutup telepon sebelum suaranya terdengar bergetar.
Setelah konferensi selesai dan lobi kembali sepi, ia menghampiri Richard yang sedang bersandar di dinding dekat lift, kelelahan yang tidak ia tunjukkan seharian akhirnya terlihat di wajahnya.
"Lo tidak perlu menyebut nama gue," kata Yura.
"Saya ingin semua orang mendengar."
"Itu bisa memperburuk posisi lo."
"Posisi saya sudah buruk. Nama kamu tidak harus ikut."
"Gue kira lo tipe yang menghitung risiko dulu sebelum ngomong."
"Saya menghitungnya."
"Terus?"
"Hasilnya tetap sama."
Yura menunduk. Ia memandangi ujung sepatunya beberapa saat, mencoba mengatur sesuatu di dadanya yang tidak mau diatur.
"Terima kasih," katanya akhirnya.
Richard tersenyum tipis. "Jangan mulai menangis."
"Siapa yang menangis."
"Mata kamu."
Yura tertawa kecil dan mengusap wajahnya dengan punggung tangan, tetapi matanya tetap berkaca-kaca, dan keduanya tahu tidak ada gunanya berpura-pura sebaliknya.