Mama Richard datang ke rumah sakit pagi-pagi sekali, sebelum jam besuk dibuka. Ia membawa buket bunga yang terlalu besar untuk kamar sekecil itu dan wajah penuh kesedihan yang sudah ia siapkan sejak di dalam mobil.
Yura berdiri begitu pintu terbuka. Ia meraih tasnya dan hendak keluar, tetapi Richard memanggilnya.
"Yur, tetap di sini."
"Ini urusan keluarga lo."
"Saya ingin berbicara dengan Mama di depan Yura."
Perempuan itu menatap keduanya bergantian. Ia meletakkan bunga di meja tanpa mencari vas, lalu duduk di tepi ranjang dengan punggung tegak, seperti sedang menghadiri rapat, bukan menjenguk anaknya yang bahunya baru dijahit.
Yura kembali ke sudut ruangan dan berdiri di dekat jendela. Ia bisa mencium parfum perempuan itu dari jarak tiga meter, wangi yang mahal dan dingin, jenis yang tidak akan pernah bisa ia beli dari komisi satu pernikahan. Perempuan itu sempat melirik ke arahnya sekali, lalu memutuskan bahwa Yura tidak cukup penting untuk disapa.
"Kamu membuat keputusan terburu-buru," katanya.
"Mama membantu ayah Mia."
"Saya hanya berusaha mempertahankan perusahaan keluarga."
"Dengan membayar media, membebaskan Satrio, dan mengancam ayah Yura?"
Wajah perempuan itu berubah pucat. Bunyi monitor di samping ranjang terasa terlalu keras di antara kalimat mereka.
"Saya tidak pernah memerintahkan siapa pun menculik atau membakar gudang."
"Tapi Mama mengetahui rencana mereka."
Ia menunduk. Jemarinya meremas tali tas di pangkuannya.
"Ayah Mia memegang bukti bahwa ayahmu dahulu melakukan penggelapan. Kalau saya tidak bekerja sama, dia akan menyeret nama keluarga kita ke pengadilan dan ke koran. Semuanya sekaligus."
Richard terdiam. Ia tahu ayahnya pernah memiliki masalah bisnis besar menjelang akhir hidupnya, tetapi tidak pernah mengetahui detailnya. Yang ia ingat hanya rumah yang mendadak sepi, telepon yang berdering tengah malam, dan ibunya yang selalu menjawab dengan suara paling tenang di dunia.
"Jadi Mama memilih mengorbankan saya?"
"Saya memilih menyelamatkanmu."
"Dengan menikahkan saya kepada anak orang yang memeras kita?"
"Pernikahan dengan Mia akan menyatukan aset dan menghapus masalah lama. Itu cara paling bersih."
"Mia tidak pernah setuju."
"Karena dia lemah."
Richard mengangkat wajahnya. "Mia menolak semuanya sejak awal. Dia bahkan memberi tahu saya sebelum Mama sempat menutupinya."
"Dan lihat akibatnya. Sekarang semuanya berantakan."
"Yang berantakan bukan karena Mia jujur, Ma. Yang berantakan karena Mama berbohong lebih dulu."
Yura yang sejak tadi berdiri di dekat jendela akhirnya maju satu langkah.
"Jangan menyebutnya lemah hanya karena dia mencoba menghentikan rencana keluarga."
Mama Richard menoleh. Tatapannya berubah tajam dalam sekejap, tidak lagi menyerupai perempuan yang tadi membawa bunga.
"Kamu tidak tahu apa pun tentang pengorbanan."
"Saya tahu rasanya menanggung utang orang lain," jawab Yura. Suaranya pelan, tetapi tidak goyah. "Saya sudah melakukannya sejak umur sembilan belas. Saya juga tahu keluarga tidak boleh menjadikan anak sebagai alat pembayaran."
Ruangan itu hening cukup lama. Mama Richard memalingkan wajah lebih dulu.
Richard menegakkan punggungnya meski bahunya berdenyut.
"Mulai hari ini, Mama harus memberikan semua bukti yang dimiliki."
"Kalau tidak?"
"Saya akan menyerahkan Mama kepada penyidik."
Kalimat itu diucapkan tanpa nada tinggi, dan justru karena itu terdengar mengerikan. Perempuan itu menatap anaknya, mencari sesuatu di wajah Richard yang mungkin bisa ia tawar. Ia tidak menemukannya.
Air mata mulai mengalir. Ia membuka tas, mengeluarkan sebuah flash drive kecil berwarna hitam, dan meletakkannya di telapak tangan Richard.
"Ini daftar pembayaran dan rekaman percakapan dengan ayah Mia. Saya menyimpannya kalau suatu hari mereka mengkhianati saya."
Richard mengambilnya dengan tangan gemetar. Benda sekecil itu terasa berat di telapaknya.
"Kenapa baru sekarang?"
"Karena saya tidak ingin kehilangan anak saya."
"Mama sudah kehilangan saya ketika memilih berbohong."
Perempuan itu membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia berdiri, merapikan roknya dengan gerakan otomatis, dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu ia berhenti sebentar, seolah menunggu anaknya memanggil.
Richard tidak memanggil.
Setelah pintu tertutup, Yura duduk di kursi di samping ranjang. Ia tidak menyentuh Richard, dan Richard tidak memintanya.
"Lo masih ingin melindungi dia?" tanya Yura pelan.
Richard menatap flash drive di tangannya cukup lama sebelum menjawab.
"Dia tetap ibu saya. Tapi hukum harus berjalan."
"Itu dua kalimat yang saling melawan."
"Saya tahu." Ia menutup telapak tangannya. "Saya akan hidup dengan keduanya."
Yura menahan sesuatu di tenggorokannya. Ia teringat ayahnya sendiri, yang juga pernah membuat pilihan buruk, dan bagaimana ia tetap datang ke rumah sakit setiap kali lelaki itu sakit. Mungkin memang tidak ada keluarga yang bisa dipilih secara bersih.
Seorang perawat masuk untuk mengganti perban, dan selama sepuluh menit tidak ada yang bicara. Yura memperhatikan buket yang masih tergeletak di meja, belum disentuh siapa pun, ujung kelopaknya sudah mulai cokelat karena tidak diberi air. Ia akhirnya mengambilnya, membawanya ke wastafel, dan mengisi gelas dengan air keran. Entah kenapa ia merasa tidak tega membiarkan bunga itu mati hanya karena yang membawanya berbohong.
Siang harinya, Arman membawa laptop dan membuka isi flash drive di ruang perawatan. Yura berdiri di belakang kursi, memperhatikan layar dengan lengan bersedekap.
Di dalamnya ada tiga folder. Yang pertama berisi tangkapan layar transfer, puluhan halaman, dengan nominal yang membuat Yura menahan napas. Yang kedua berisi rekaman suara. Yang ketiga hanya satu berkas teks berisi alamat.
"Ini yang paling penting," kata Arman sambil membuka lembar transfer. "Satrio menerima uang tiga kali dari perusahaan ayah Mia. Bukan lewat rekening pribadi, tapi lewat perantara. Yang terakhir dua hari sebelum kebakaran."
"Jumlahnya?" tanya Richard.
Arman menyebutkannya. Richard tidak berkomentar apa pun.
"Berarti dia sudah dibayar sebelum dibebaskan," kata Yura. "Orang tidak dibayar lebih dulu untuk pekerjaan yang belum diminta."
Arman menoleh, sedikit terkejut. "Betul, Nona."
"Gue ngurus anggaran pernikahan tiap minggu. Gue hafal bentuk uang muka."
Rekaman suara diputar berikutnya. Terdengar suara ayah Mia yang bicara santai, hampir tanpa emosi, tentang bagaimana nama Yura harus dihabisi lebih dulu supaya tidak ada yang mau membelanya di pengadilan opini. Lalu terdengar suara Mama Richard menjawab. Ia tidak melarang. Ia hanya menanyakan berapa biayanya.
Yura memalingkan wajah. Ada bagian dari dirinya yang berharap tidak pernah mendengar itu.
"Matikan," katanya.
Arman menghentikan rekaman.
"Maaf," kata Richard.
"Bukan lo yang ngomong."
"Tetap saja."
Berkas terakhir berisi alamat sebuah rumah petak di pinggir kota, lengkap dengan catatan tanggal. Itu tempat Satrio bersembunyi setelah keluar dari tahanan.
Richard menatap layar, lalu menoleh kepada Arman.
"Kirim semuanya ke penyidik. Sekarang. Jangan tunggu pengacara."
"Kalau ini bocor ke media lebih dulu, Pak?"
"Biarkan bocor. Untuk pertama kalinya, yang bocor adalah kebenaran."
Arman mengangguk dan mulai mengetik. Yura berdiri di samping jendela, memandang halaman rumah sakit yang mulai dipenuhi mobil siaran. Ia tidak merasa menang, belum, tetapi untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, mereka bukan lagi pihak yang hanya berlari.