Richard sadar di ruang perawatan dengan bahu terbalut dan kepala berdenyut seperti ditekan dari dalam. Cahaya lampu di langit-langit terlalu putih untuk matanya. Ia butuh beberapa detik untuk mengenali bunyi monitor di sampingnya, lalu beberapa detik lagi untuk mengingat kenapa ia berada di sana.
Hal pertama yang dilihatnya adalah Yura, tertidur di kursi dengan kepala miring ke bahu, masih menggenggam ujung selimutnya. Rambutnya berantakan dan ada noda jelaga di pipinya yang belum sempat dibersihkan siapa pun.
Arman berdiri di dekat jendela sambil membaca berita dari ponsel. Wajahnya tegang.
"Sudah berapa lama saya di sini?" tanya Richard.
Suaranya serak, tetapi cukup untuk membangunkan Yura. Gadis itu tersentak, lalu langsung duduk tegak.
"Hampir enam jam," katanya. "Lo tidur seperti orang yang tidak punya urusan apa-apa."
"Ayahmu?"
"Masih diberi oksigen. Tapi dokter bilang paru-parunya tidak rusak." Yura menggosok matanya. "Dia belum mau bicara sama gue. Cuma menoleh ke dinding."
Richard mencoba menggeser tubuhnya agar bisa duduk. Bahunya langsung membalas dengan nyeri panjang yang menjalar sampai ke leher, dan ia terpaksa berhenti di tengah jalan.
Ia hendak bertanya lagi ketika pintu terbuka tanpa diketuk. Dua polisi masuk dan memperkenalkan diri dengan sopan, tetapi cara mereka berdiri membuat ruangan itu terasa seperti ruang interogasi, bukan kamar rumah sakit.
Salah satunya mengeluarkan tablet dan memutar rekaman berita. Di layar, seorang pembaca berita membacakan tuduhan dengan nada yang sudah memutuskan segalanya sejak kalimat pertama: pengusaha muda diduga membakar gudang miliknya sendiri untuk menghilangkan bukti.
Richard menatap layar itu dengan rahang mengeras.
"Saya tidak membakar apa pun. Saya menyelamatkan ayah Yura."
"Tapi kamera keamanan menunjukkan Anda masuk ke gudang sebelum kebakaran."
"Kamera itu mungkin sudah diedit."
"Anda punya bukti untuk klaim itu?"
"Belum. Tapi Anda juga belum punya bukti bahwa rekaman itu asli."
Polisi yang lebih muda mencatat jawabannya tanpa ekspresi. Yang satunya lanjut bertanya tentang dokumen perusahaan, tentang perjalanan ke London, tentang siapa saja yang mengetahui keberadaan mereka di hotel malam itu. Setiap pertanyaan disusun agar terdengar biasa, padahal semuanya mengarah ke satu titik.
Yura ikut menjelaskan. Ia bercerita tentang ancaman yang diterima ayahnya, tentang panggilan video dari gudang yang terbakar, tentang lelaki-lelaki bersenjata di balkon hotel. Ia bicara cepat, kadang terlalu cepat, sampai salah satu polisi mengangkat tangan.
"Nona, sebaiknya Anda menunggu di luar."
"Kenapa? Gue saksi."
"Kami akan meminta keterangan Anda secara terpisah."
Yura tidak beranjak. Ia baru berdiri setelah Richard mengangguk kecil ke arahnya, dan bahkan saat itu ia menutup pintu sedikit lebih keras daripada yang diperlukan.
Pemeriksaan berlangsung hampir satu jam. Ketika polisi akhirnya pergi, pengacara Richard masuk membawa map tipis dan wajah yang tidak menjanjikan apa pun.
"Jaksa sudah menerima laporan dari keluarga Mia," katanya. "Mereka meminta Anda tidak meninggalkan kota sampai pemeriksaan selesai."
"Seburuk apa?"
"Mereka berusaha menjadikan Anda tersangka. Namun belum ada bukti cukup untuk menahan Anda. Yang berbahaya bukan berkasnya, Pak. Yang berbahaya opini publik. Berkas bisa dibantah, opini tidak."
Richard menatap langit-langit sejenak. "Pastikan ayahnya mendapat perlindungan."
"Ayah Nona Yura?"
"Dia satu-satunya saksi yang pernah melihat wajah mereka dari dekat."
Pengacara itu mencatat, lalu pamit.
Yura kembali masuk dan duduk di kursi yang sama. Ia mengangguk mendengar rangkuman Richard, meski pikirannya sedang berada di tempat lain. Di luar rumah sakit, media terus menyebut namanya sebagai kaki tangan Richard. Ada tayangan yang memasang fotonya berdampingan dengan foto gudang yang terbakar, seolah keduanya menjelaskan satu sama lain. Kolom komentarnya sudah penuh sejak pagi, dan Yura berhenti membacanya setelah kalimat kelima.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Neli.
Yur, dua klien mundur. Yang bulan depan juga minta uangnya dikembalikan. Aku sudah coba jelasin, tapi mereka baca berita.
Yura menatap layar itu lama sekali.
"Ada apa?" tanya Richard.
"Cantika kehilangan dua klien."
"Bisnis kamu bisa diselamatkan."
"Tidak kalau semua orang percaya gue penjahat." Suaranya datar, bukan marah. Itu justru yang membuat Richard tidak nyaman. "Lo tahu berapa lama gue bangun nama itu? Empat tahun. Dari nol. Dari nawarin jasa di kolom komentar orang."
"Saya tahu."
"Lo tidak tahu."
Richard mengulurkan tangannya yang tidak terbalut dan menggenggam tangan Yura. Gadis itu tidak menariknya.
"Kita akan membuktikan kebenarannya," katanya. "Bukan minggu depan. Secepat yang bisa."
Yura tidak menjawab, tetapi ia juga tidak melepaskan genggaman itu.
Malamnya, kabar pertama yang bagus akhirnya datang. Seorang penyidik menelepon dan meminta izin naik ke ruang perawatan. Ia membawa laptop dan menaruhnya di atas meja kecil di samping ranjang.
"Kami menemukan potongan rekaman asli dari kamera gudang," katanya. "Yang beredar di media hanya bagian tengahnya."
Ia memutar video itu. Gambarnya kasar dan berbintik, tetapi cukup jelas. Empat lelaki masuk melalui pintu samping membawa jeriken. Mereka menyiramkan isinya ke tumpukan palet kayu, lalu pergi. Penanda waktu di sudut layar menunjukkan pukul dua lewat sebelas. Mobil Richard baru terlihat di gerbang lima puluh menit kemudian.
"Mereka memasang bahan bakar sebelum Anda tiba," kata penyidik. "Masalahnya, wajah mereka belum terlihat jelas."
Richard mencondongkan badan meski bahunya berdenyut. "Perbesar yang kedua dari kiri."
Petugas itu menarik kotak seleksi dan memperbesar gambar sampai berpiksel. Sosok itu menoleh sekilas ke arah kamera, mungkin karena mendengar sesuatu.
"Pria ini seperti Satrio," kata penyidik.
Ruangan mendadak hening. Yura merasakan sesuatu yang dingin turun di punggungnya.
"Satrio ada di tahanan," kata Richard.
"Itu yang saya pikir juga. Saya sudah mengeceknya." Penyidik menggulir berkas di layar. "Dia dibebaskan atas jaminan pukul sembilan malam. Beberapa jam sebelum kebakaran."
"Siapa yang menjaminnya?"
"Nama penjaminnya kuasa hukum. Tapi uangnya berasal dari rekening perantara."
Richard menatap layar itu tanpa berkedip. Ada seseorang yang mengeluarkan Satrio dari tahanan, seseorang yang tahu persis kapan ia dibutuhkan dan di mana ia harus berada malam itu. Seseorang dengan uang, dengan akses, dan dengan alasan.
Yura memandang Richard. Ia ragu sejenak sebelum mengucapkannya.
"Mama lo?"
Richard tidak menjawab. Ia hanya menatap gambar buram di layar sampai penyidik menutup laptopnya dan pamit. Namun diamnya itu lebih jelas daripada jawaban apa pun, dan Yura tahu kecurigaan terhadap ibunya sudah berhenti menjadi kecurigaan.