Tangga darurat itu bergetar setiap kali sepatu mereka menghantam besi. Richard berlari paling depan dengan napas memburu, satu tangannya terus terulur ke belakang seolah memastikan tidak ada yang tertinggal. Di atas mereka, langkah para pengejar terdengar seperti palu yang dipukulkan berulang-ulang ke pipa.
"Terus turun," katanya. "Jangan menoleh."
Yura tidak sanggup menjawab. Ia menggenggam tangan Mia erat-erat, sementara Adrian dan detektif menjaga jarak beberapa anak tangga di belakang agar rombongan mereka tidak terpisah.
Udara dini hari menusuk kulit. Gerimis membuat besi tangga licin, dan dua kali Yura hampir terpeleset.
Begitu mereka tiba di gang belakang hotel, sebuah mobil polisi berhenti mendadak. Ban bergesek dengan aspal basah. Dua petugas turun dan langsung mengarahkan senjata ke arah pintu tangga di atas mereka.
"Masuk!" teriak salah satu dari mereka.
Richard mendorong Yura lebih dulu ke dalam mobil, kemudian Mia dan Adrian. Detektif masuk paling akhir, tepat ketika dua lelaki bersenjata muncul di balkon lantai tiga.
"Tutup pintunya!"
Mobil melaju sebelum pintu benar-benar terkunci. Beberapa tembakan mengenai dinding bata di belakang mereka, tetapi tidak ada yang mengenai kendaraan. Yura menunduk di antara kursi dengan tubuh gemetar hebat.
"Kamu tidak terluka?" tanya Richard.
Yura menggeleng. Butuh beberapa detik sebelum suaranya keluar. "Kita harus pulang."
"Kita akan pulang."
"Sekarang, Chad. Bukan nanti."
Richard tidak membantahnya. Ia memandang layar ponselnya yang basah oleh gerimis. Arman mengirim pesan bahwa api di gudang semakin besar. Tim pemadam kebakaran sudah dipanggil, tetapi mereka belum menemukan jalan masuk yang aman.
"Bandara," perintahnya kepada petugas di kursi depan. "Kami harus terbang sekarang."
Petugas menjelaskan bahwa penerbangan komersial berikutnya baru tersedia tiga jam lagi. Richard meminta bantuan melalui jalur diplomatik, lalu menelepon dua kenalannya berturut-turut sampai ia mendapatkan pesawat sewaan. Sepanjang perjalanan, setiap menit terasa seperti satu jam bagi Yura.
"Kalau Ayah mati, gue tidak akan pernah memaafkan diri sendiri," katanya akhirnya.
"Bukan salah kamu."
"Tapi gue meninggalkan dia."
"Kamu meninggalkannya karena dia melarikan diri dari rumah." Richard menoleh. "Kamu tidak tahu dia akan ditangkap."
Yura menatapnya dengan mata basah. Lampu jalan yang berkelebat membuat wajah lelaki itu tampak timbul tenggelam.
"Lo selalu bisa menemukan alasan untuk membela gue."
Richard terdiam. Ada kalimat yang ingin ia ucapkan, bahwa ia tidak membela Yura karena kewajiban, melainkan karena sesuatu yang ia simpan bertahun-tahun tanpa berani menamainya. Namun keadaan tidak memberinya ruang. Ia kembali menatap jalan.
Di bandara, pesawat sewaan sudah menunggu dengan mesin menyala. Sebelum naik, detektif menahan lengan Richard dan menyerahkan sebuah ponsel.
"Pengirim pesan tertangkap di apartemen," katanya. "Dia bukan orang ayah Mia. Dia bekerja untuk seseorang dari Indonesia."
"Siapa?"
"Dia hanya menyebut satu nama sebelum pengacaranya datang."
Richard menatap detektif itu lama. "Katakan."
"Mama Anda."
Angin landasan menderu di antara mereka. Yura menutup mulutnya. Mia menunduk, seolah pengakuan itu hanya menguatkan ketakutan yang sudah lama ia simpan.
Richard memasuki pesawat tanpa mengatakan apa-apa. Ia memilih kursi dekat jendela dan duduk sendirian di sana. Yura mengambil kursi di sebelahnya, meski ia tahu lelaki itu sedang tidak ingin bicara.
Pesawat lepas landas beberapa menit kemudian.
"Richard," kata Mia dari kursi belakang. "Aku tahu kamu marah kepada Mamamu. Tapi jangan langsung menuduhnya sebagai dalang. Dia bisa saja dipaksa."
Richard menatapnya melalui celah kursi. "Dia membayar media dan orang-orang yang mengancam Yura."
"Mungkin karena ayahku memaksa."
"Apa pun alasannya, dia tetap memilih melakukannya."
Mia terdiam. Tidak ada yang membantah setelah itu.
Yura memandang ke luar jendela. Ia tidak ingin mendengarkan percakapan itu, tetapi setiap kata membawa mereka semakin dekat pada kebenaran yang menyakitkan.
Penerbangan menuju Indonesia berlangsung tegang. Arman terus mengirim perkembangan dari gudang. Api telah melalap sebagian atap. Petugas menemukan dua jejak kaki di belakang bangunan, tetapi belum menemukan ayah Yura.
"Mungkin mereka sudah membawanya keluar," kata Arman melalui panggilan video. Wajahnya berkilat oleh keringat dan jelaga. "Kami sedang memeriksa terowongan bawah tanah."
"Cari semua ruangan," perintah Richard. "Jangan berhenti hanya karena api."
"Pak, pemadam kebakaran meminta bangunan dikosongkan. Atap bisa runtuh kapan saja."
"Saya akan tiba sebelum itu."
Ketika pesawat mendarat, pagi hampir tiba. Richard dan Yura segera menuju gudang dengan dua mobil pengawalan. Mia ikut bersama mereka karena yakin ayahnya menyimpan jalur rahasia di bawah bangunan itu.
Asap hitam sudah terlihat dari kejauhan. Beberapa mobil pemadam kebakaran memenuhi jalan, sementara polisi memasang garis pembatas kuning. Bau kayu terbakar memenuhi udara.
Arman berlari menghampiri mereka.
"Kami menemukan pintu bawah tanah, tapi terkunci dari dalam."
"Ayah saya ada di sana?" tanya Yura.
"Kami mendengar suara ketukan, tetapi api terlalu panas."
Yura melangkah maju hendak menerobos garis pembatas. Richard menahan bahunya.
"Kita harus menunggu petugas."
"Mereka sudah menunggu!" Yura menepis tangan itu. "Dari tadi semua orang cuma menunggu!"
Mia tidak ikut berdebat. Ia mendekati pintu besi di samping gudang, meraba dinding, lalu menunjuk lambang kecil yang nyaris tertutup jelaga.
"Ini bukan pintu utama. Ada tuas di bawah lambang."
Arman meraba bagian tersebut, lalu menarik besi pendek yang tersembunyi. Pintu terbuka sedikit dan asap langsung menyembur keluar, memperlihatkan lorong gelap di baliknya.
"Saya ikut masuk," kata Yura.
Richard mengenakan masker pemadam dan mengambil senter dari petugas. "Kita masuk bersama petugas. Jangan melepaskan tangan saya."
Mereka menuruni lorong. Panas menyengat wajah bahkan melalui masker, dan asap membuat mata perih sampai berair. Di ujung terowongan terdengar suara batuk yang tersendat-sendat.
"Ayah!" teriak Yura.
"Yura! Jangan masuk!"
Suara itu membuat Yura melepaskan seluruh sisa kewaspadaannya. Ia berlari. Richard mengejar dan menemukannya berlutut di depan ayahnya yang terikat pada pipa, tepat di depan pintu besi yang catnya sudah menggelembung karena panas. Lelaki itu masih hidup, tetapi kesadarannya terus menurun.
Richard memotong tali menggunakan pisau kecil. Yura dan dua petugas mengangkat tubuh lelaki itu keluar. Ketika mereka hampir mencapai pintu, sebagian langit-langit runtuh dengan suara yang membuat telinga berdengung. Richard mendorong Yura ke depan, tetapi bahunya sendiri tertimpa balok kayu.
"Chad!"
Richard menahan rasa sakit. "Bawa Ayahmu keluar!"
Yura tidak mau meninggalkannya. Ia berbalik, dan bersama dua petugas mengangkat balok itu sedikit demi sedikit. Richard akhirnya berhasil membebaskan bahunya, tetapi darah sudah mengalir dari lengan dan pelipisnya.
Mereka keluar tepat ketika sebagian gudang ambruk. Ambulans segera membawa ayah Yura dan Richard.
Di dalam ambulans, Yura memegang tangan Richard yang terluka. Ia menangis tanpa suara, hanya bahunya yang berguncang.
"Jangan menangis," kata Richard lemah. "Saya masih hidup."
"Lo hampir mati karena keluarga gue."
"Bukan karena keluarga kamu." Richard menarik napas pendek. "Karena saya memilih menolong kamu."
Kalimat itu membuat Yura menatapnya. Richard memejamkan mata karena obat bius mulai bekerja.
Sebelum ambulans tiba di rumah sakit, ponsel Arman berdering. Ia mengangkatnya dengan wajah berubah pucat.
"Pak Richard, ada kabar buruk. Rekaman tentang perusahaan baru saja disiarkan media. Mereka menuduh Bapak membakar gudang untuk menghilangkan bukti dan menyandera Mia."
Yura menatap Richard yang mulai kehilangan kesadaran.
Perang mereka baru saja dimulai.
Di luar rumah sakit, wartawan telah memenuhi pintu masuk. Kilatan kamera menunggu penjelasan dari keluarga Richard, sementara polisi mulai mempertanyakan siapa yang terakhir berada di gudang. Yura menggenggam tangan Richard lebih erat. Ia sadar, setelah malam itu, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa kembali menjalani hidup seperti sebelumnya.