Pesan dari nomor tak dikenal itu membuat suasana di dalam perahu mendadak membeku. Bahkan Adrian berhenti mengikat perban di lengan Mia. Richard membaca kalimat tersebut berulang kali, berharap ada bagian yang salah ia pahami. Namun, ancamannya jelas: jika mereka membuka bukti, ayah Yura akan mati malam itu juga.
Yura meraih ponselnya dan membaca pesan tersebut. Wajahnya langsung pucat.
"Ayah masih hidup," katanya, lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri daripada memberi tahu orang lain.
"Kita belum tahu," jawab Richard.
"Mereka tahu dia sedang bersembunyi. Berarti dia masih hidup. Mereka gak akan mengancam pakai orang mati."
Mia menatap Yura dengan rasa bersalah. "Orang-orang ayahku mungkin mengikuti kalian dari Indonesia."
"Jangan menyalahkan diri sendiri sekarang," kata Yura, meskipun suaranya bergetar. "Kita harus menemukan Ayah lebih dulu."
Richard meminta detektif melacak nomor pengirim pesan. Detektif segera menghubungi jaringan rekannya, berbicara cepat sambil mengetik di ponselnya. Lokasi yang muncul berpindah-pindah melalui beberapa menara komunikasi. Pengirim sengaja menggunakan perangkat yang berbeda agar sulit ditemukan.
"Saya bisa mendapatkan perkiraan lokasi terakhir dalam sepuluh menit," kata detektif.
"Kita tidak punya sepuluh menit," jawab Richard.
Ia segera menghubungi Arman di Indonesia. Sambungan video tersambung setelah beberapa dering. Wajah Arman tampak tegang, dan di belakangnya terlihat lampu kantor yang masih menyala meskipun sudah dini hari di sana.
"Pak, saya sudah meminta petugas mencari ayah Nona Yura. Belum ada kabar. Rumahnya masih dijaga, tetapi lelaki itu menghilang lewat gang belakang."
Yura mendekat ke layar. "Arman, periksa semua tempat yang mungkin didatangi Ayah. Rumah istri mudanya, tempat judi, atau teman-temannya."
"Sudah kami lakukan, Nona. Ada satu lokasi yang belum diperiksa. Sebuah gudang lama di daerah pasar. Tempat itu pernah menjadi lokasi kerja ayah Nona Yura."
Richard langsung berdiri, membuat perahu sedikit oleng. "Kirim alamatnya."
Arman mengirimkan koordinat. Richard meminta kapten perahu mempercepat perjalanan ke dermaga. Mereka harus kembali ke hotel untuk menyusun rencana, tetapi pikiran Yura sudah lebih dahulu terbang ke Indonesia, ke gudang berdebu yang pernah ia datangi waktu kecil sambil membawakan rantang makan siang.
"Chad," kata Yura pelan, "gue mau pulang."
"Kita akan pulang setelah memastikan Mia aman dan bukti ini tersimpan."
"Ayah gue mungkin sedang disiksa sekarang."
"Saya tahu. Tapi kalau kita pulang tanpa persiapan, mereka akan menjadikan kita sasaran berikutnya. Dan tidak ada yang tersisa untuk menolong siapa pun."
Yura menunduk. Ia membenci logika Richard karena benar. Namun, menjadi rasional ketika keluarganya terancam terasa hampir mustahil.
Mia mendekat kepadanya dan duduk di bangku yang sama. "Aku akan ikut pulang."
Yura menatapnya. "Kamu baru saja dikejar orang-orangmu sendiri."
"Justru karena itu aku harus memberikan kesaksian. Ayahku tidak akan berhenti kalau aku tetap bersembunyi. Selama aku hilang, dia bisa menulis cerita apa pun tentang aku."
Richard tidak menolak. Mereka menyusun rencana sepanjang sisa perjalanan: Arman mengamankan dokumen asli di brankas kantor, pengacara menyiapkan pernyataan resmi, dan polisi di Indonesia diminta menunggu di dekat gudang lama tanpa mendekat.
Sebelum mereka tiba di hotel, nomor tak dikenal kembali mengirim pesan. Kali ini ada foto ayah Yura duduk di sebuah kursi, wajahnya memar dan tangan terikat ke belakang. Di belakangnya terlihat dinding gudang dengan tulisan pudar.
Yura menjerit kecil. Ia hampir menjatuhkan ponsel ke lantai perahu.
Richard menangkap bahunya. "Kita akan menyelamatkannya."
"Mereka menyakitinya, Chad."
"Saya tahu."
"Kita harus berangkat sekarang."
Richard menatap foto itu lebih dekat, memperbesar bagian belakangnya. Tulisan di dinding membuatnya terdiam. Ada logo lama perusahaan tempat ayah Yura pernah bekerja, tetapi di bawahnya terdapat simbol yang sama dengan logo perusahaan perantara milik ayah Mia.
"Tempat ini bukan gudang pasar biasa," katanya. "Mereka menggunakan lokasi yang terhubung dengan jaringan ayah Mia."
Adrian mendekati layar dan menyipitkan mata. "Aku mengenal simbol itu. Ayah Mia memiliki beberapa gudang di Indonesia melalui perusahaan cangkang."
"Kirimkan semua alamatnya," perintah Richard.
Adrian menelusuri data di laptop, menahannya di pangkuan sambil melindungi layar dari percikan air. Dua menit kemudian, ia menemukan satu gudang di pinggir kota yang cocok dengan latar foto.
Richard segera menghubungi Arman. "Jangan masuk sebelum polisi tiba. Kirim tim pengawas, bukan karyawan biasa. Kalau mereka melihat gerakan mencurigakan, tunggu instruksi."
"Baik, Pak."
Yura menatap Richard dengan mata berkaca-kaca. "Kalau polisi terlambat?"
"Kita tetap tidak boleh bertindak sembarangan."
"Itu Ayah saya."
"Dan kamu juga harus tetap hidup."
Kata-kata itu membuat Yura terdiam. Richard memegang tangannya dan menggenggamnya erat. Sentuhan sederhana itu membuat Yura merasa sedikit lebih kuat, meskipun dadanya masih terasa seperti diremas.
Mereka tiba di hotel menjelang tengah malam. Jalanan sudah kosong dan hanya lampu jalan yang menyala. Detektif menyarankan agar Mia tetap tinggal di kamar aman, tetapi Mia menolak.
"Kalau ayahku melihat saya, dia mungkin mau menukar ayah Yura dengan bukti," katanya. "Saya harus menjadi umpan."
"Tidak," kata Richard tegas.
"Ini kesempatan terakhir kita."
"Saya tidak akan menukar satu orang dengan orang lain."
Mia menatap Richard lama. "Dulu kamu selalu memilih keputusan yang paling aman. Sekarang kamu melindungi Yura, bukan aku."
Richard tidak menjawab. Yura memalingkan wajah ke arah jendela, tetapi tetap mendengar setiap kata, dan setiap kata itu menempel di kepalanya.
Detektif kemudian menerima hasil pelacakan. Sinyal pengirim pesan muncul dari sebuah apartemen di dekat bandara London. Polisi setempat segera dikirim ke sana. Jika pengirim tertangkap, mereka mungkin bisa mengetahui siapa yang memberi perintah.
Tiba-tiba semua lampu hotel padam. Gelap total selama dua detik, lalu alarm kebakaran berbunyi, diikuti teriakan dari lorong. Detektif menarik senjata dan meminta semua orang tiarap.
"Mereka menemukan kita," bisik Adrian.
Pintu kamar digedor dari luar, keras dan berulang. Richard menarik Yura ke belakang lemari, sementara Mia bersembunyi bersama detektif di sisi kamar mandi. Suara seorang lelaki terdengar dari balik pintu, tenang dan jelas.
"Kami tahu kalian membawa bukti. Serahkan perempuan itu dan ayah Yura akan tetap hidup."
Richard menatap Yura. Gadis itu menggeleng cepat, menahan tangis dengan tangan menutup mulut.
Dari ponselnya, sebuah panggilan video masuk. Wajah ayah Yura tampak di layar, lebih tua sepuluh tahun daripada terakhir kali Yura melihatnya. Lelaki itu kini dikelilingi api kecil yang mulai membakar lantai gudang.
"Yura, jangan datang!" teriaknya. "Mereka ingin membakar tempat ini!"
Panggilan terputus.
Richard menatap pintu yang terus digedor. Di satu sisi, orang-orang bersenjata menunggu mereka. Di sisi lain, ayah Yura mungkin hanya memiliki beberapa menit sebelum terbakar hidup-hidup.
Ia menggenggam tangan Yura.
"Kita keluar lewat balkon."
"Lalu Ayah?"
"Kita selamatkan dia. Tapi semua orang harus mengikuti rencana saya."
Richard memberi isyarat kepada detektif. Adrian memapah Mia, lalu mereka bergerak menuju balkon belakang. Di bawah, gang sempit tampak gelap dan basah.
Richard memandang Yura sekali lagi.
"Percaya sama saya."
Yura mengangguk.
Mereka melompat ke tangga darurat tepat ketika pintu kamar jebol. Dari dalam, terdengar suara tembakan. Mereka berlari menuruni tangga besi yang licin, sementara di kejauhan sirene polisi mulai mendekat.
Di Indonesia, Arman mengirim pesan terakhir: timnya telah menemukan gudang tempat ayah Yura disekap. Api sudah mulai membesar.
Richard mempercepat langkah.
Malam itu, dua nyawa dan seluruh kebenaran berada dalam hitungan menit.