Terowongan itu sempit dan gelap. Dindingnya dari batu yang berkeringat, dan langit-langitnya begitu rendah sehingga bahu mereka sesekali menggesek dinding. Richard berjalan paling depan sambil menyorotkan senter ponsel, diikuti Yura, Mia, Adrian, dan detektif yang berjalan mundur di barisan paling belakang.
Suara langkah orang-orang dari atas rumah terdengar samar melalui tanah, seperti guntur yang salah tempat.
"Ke mana terowongan ini?" tanya Yura.
"Ke sisi lain pulau," jawab Mia. Suaranya hampir habis. "Ada perahu cadangan. Aku pernah ke sini waktu kecil. Ayah menyimpan banyak hal di tempat seperti ini."
Richard menoleh kepadanya sebentar. "Setelah kita keluar, kamu harus menjelaskan semuanya."
"Aku tahu."
Mia berjalan dengan susah payah. Kakinya masih kaku setelah berjam-jam terikat di kursi. Ia beberapa kali hampir jatuh, dan setiap kali itu terjadi, Yura yang menahan sikunya.
Aneh sekali, pikir Yura. Perempuan ini yang membuat hidupnya berantakan, langsung atau tidak langsung. Namanya masuk berita karena Mia. Ia dicaci ribuan orang karena Mia. Namun tangannya tetap bergerak sendiri setiap kali perempuan itu goyah. Meskipun terluka hati, Yura tidak sanggup meninggalkan orang yang sedang ketakutan.
"Terima kasih," bisik Mia.
"Jalan saja."
Di beberapa titik, air menetes dari langit-langit dan membasahi tengkuk mereka. Yura menghitung langkahnya sendiri supaya tidak memikirkan berapa banyak tanah yang menumpuk di atas kepalanya.
Di ujung terowongan, mereka menemukan pintu besi terkunci. Adrian mengeluarkan kunci kecil dari sakunya dan mencobanya. Logam beradu logam, tetapi tidak ada yang berputar.
"Tidak cocok."
"Kuncinya diambil ketika aku ditangkap," kata Mia.
Suara di atas semakin dekat. Detektif mengangkat senjatanya ke arah lorong yang baru mereka lewati.
Richard menyorotkan senter ke dinding, mencari apa pun yang tidak seharusnya ada di sana. Ia meraba batu satu per satu sampai jarinya menyentuh besi dingin yang tersembunyi di balik cerukan.
"Ada tuas."
Ia menariknya sekuat tenaga. Sekali tidak bergerak. Dua kali. Pada tarikan ketiga terdengar bunyi berderak panjang, dan pintu itu terbuka, memperlihatkan dermaga kecil serta sebuah perahu yang terikat di tiang kayu.
Mereka berlari keluar tepat ketika suara tembakan terdengar dari mulut terowongan. Bunyinya memantul, membuat telinga Yura berdenging. Detektif membalas dengan menembak ke udara dua kali, memberi mereka waktu untuk melompat masuk ke perahu.
"Naik! Naik!" teriak Adrian sambil melepas tali.
Detektif melompat paling akhir, satu kakinya sempat masuk ke air.
Mesin menyala setelah dua kali tarikan. Perahu bergerak meninggalkan pulau, meninggalkan pulau kecil yang lampunya satu per satu menyala di antara pepohonan. Richard mengemudikan sementara Adrian memeriksa luka di lengan Mia dengan sobekan kain dari mantelnya.
"Sekarang ceritakan semuanya," kata Richard tanpa menoleh.
Mia menatap air hitam di belakang mereka. Angin sungai mengibaskan rambutnya yang kusut.
"Ayahku bekerja sama dengan Mama kamu sejak dua tahun lalu. Mereka ingin menggabungkan perusahaan melalui pernikahan kita. Setelah itu, mereka akan menggunakan kontrak untuk mengambil alih saham."
"Kenapa kamu ikut?"
"Awalnya aku tidak tahu." Mia menunduk. "Aku pikir itu perjodohan biasa. Dua keluarga yang saling kenal, dua anak yang sama-sama sibuk. Aku hanya ingin pernikahan yang tenang, Richard. Aku bahkan sudah belajar menyukaimu."
Yura menatap air hitam di samping perahu. Kalimat itu seharusnya tidak membuatnya merasa apa-apa, tetapi tetap saja terasa seperti sesuatu yang menusuk pelan.
Richard tidak menanggapi bagian terakhir itu.
"Ketika menemukan dokumen, aku mencoba meminta bantuan Mama kamu. Aku pikir dia akan marah dan melindungimu. Tapi dia menyuruhku diam. Dia bilang aku masih terlalu muda untuk mengerti cara menyelamatkan perusahaan."
Richard tertawa tanpa humor sedikit pun. Suaranya hilang ditelan deru mesin. "Jadi kamu pergi dengan Adrian agar bisa mencari bukti."
"Iya. Aku juga sengaja membuat seolah-olah meninggalkanmu karena selingkuh. Aku berharap skandal itu menghentikan pernikahan tanpa membuat ayahku curiga. Kalau pernikahannya batal karena aku yang jahat, tidak ada yang akan mencari alasan lain." Ia mengangkat wajah ke arah Yura. "Aku tidak tahu mereka akan menyeret Yura."
Yura menatap Mia lama sekali sebelum menjawab.
"Kamu bisa memberitahu kami sejak awal."
"Aku takut kamu juga akan dijadikan sasaran."
"Aku sudah dijadikan sasaran, Mia. Nama gue ada di semua berita. Klien gue kabur. Ibu gue baca sendiri tulisan yang bilang anaknya perebut calon suami orang."
Mia menunduk. "Maaf."
Satu kata itu terdengar terlalu kecil untuk semua yang sudah terjadi. Namun Yura tidak punya tenaga untuk memperdebatkannya sekarang.
"Nanti," katanya akhirnya. "Kalau semua ini selesai, kita duduk berdua. Gue masih mau marah sama kamu. Tapi bukan sekarang, dan bukan di atas perahu."
Mia mengangguk.
Richard tidak mengatakan apa-apa. Wajahnya terlihat lebih lelah daripada sebelumnya, seperti orang yang bangun dan menemukan rumahnya kosong. Dalam waktu kurang dari seminggu, ia kehilangan kepercayaan kepada ibunya, tunangannya, dan sahabatnya sendiri.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Yura.
Richard memandang kota yang mulai terlihat di kejauhan, garis lampu yang memanjang di tepi sungai. "Membawa semua bukti pulang."
"Dan pernikahanmu?"
"Sudah tidak ada."
Mia menatapnya sedih. "Richard..."
"Kita akan bicara setelah semua ini selesai," katanya, nadanya tidak keras, justru itu yang membuatnya terdengar final. "Tapi saya tidak bisa menikahi seseorang yang menyembunyikan kebenaran sebesar ini. Bukan karena saya marah. Karena saya tidak akan pernah bisa berhenti bertanya-tanya apa lagi yang tidak kamu katakan."
Mia mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Ia menerima keputusan itu tanpa membantah sedikit pun, dan justru kepasrahan itu yang membuat Yura ikut merasa sesak.
Ponsel Richard berdering. Arman mengirim pesan bahwa media Indonesia baru saja menerima rekaman palsu yang menuduh Richard menculik Mia bersama Yura. Berita itu akan tayang dalam beberapa menit.
Richard menunjukkan pesan tersebut kepada semua orang di perahu.
"Mereka bergerak lebih cepat dari kita," kata Adrian.
Yura menggenggam tangan Richard. Tangannya dingin karena angin, tetapi genggamannya kuat.
"Kita harus bicara dulu sebelum mereka menguasai cerita. Kalau berita mereka tayang duluan, apa pun yang kita katakan nanti cuma terdengar seperti pembelaan."
Richard menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak semua masalah dimulai, ia tidak melihat Yura sebagai mantan kekasih yang kembali dari masa lalu, melainkan sebagai orang yang memilih tetap berada di sisinya ketika semua orang lain berpaling.
"Kita akan mengungkap semuanya," katanya.
"Semuanya?" tanya Yura. "Termasuk Mama lo?"
Richard diam beberapa detik. "Termasuk Mama saya."
Di kejauhan, sirene polisi semakin dekat, memantul di permukaan air. Namun di layar ponsel Richard, sebuah pesan terakhir muncul dari nomor tak dikenal.
"Jika kalian membuka bukti itu, ayah Yura akan mati malam ini."