Richard menyimpan ponsel itu di saku dalam jaketnya sebagai bukti. Ia berusaha menghubungi detektif, tetapi sinyal di dalam bangunan sangat lemah. Satu garis muncul, lalu hilang lagi. Ia mengangkat tangan tinggi-tinggi, berpindah ke dekat jendela pecah, dan tetap tidak berhasil.
"Percuma," katanya. "Dinding beton dan sungai. Tidak ada sinyal di sini."
Adrian memeriksa ruangan belakang dengan senter ponselnya dan menemukan pintu menuju lorong sempit. Ia berjongkok di ambangnya.
"Ada jejak kaki baru," katanya. "Basah. Belum kering."
Mereka mengikuti lorong itu satu per satu. Dindingnya berlumut dan langit-langitnya rendah sehingga Richard harus menunduk. Bau air payau semakin kuat, sampai akhirnya lorong berakhir di sebuah dermaga kayu yang licin.
Sebuah perahu kecil baru saja meninggalkan tepian. Lampu belakangnya masih terlihat, tenggelam pelan-pelan dalam kabut. Richard menyadari mereka terlambat, mungkin hanya terlambat dua menit, dan dua menit itu terasa seperti penghinaan.
"Mereka membawa Mia melalui air," kata Adrian.
Yura memandang kabut di atas sungai. Hujan sudah mereda, menyisakan udara yang menusuk. "Siapa mereka?"
Adrian menunduk. "Orang-orang ayah Mia."
"Ayahnya sendiri," gumam Yura tidak percaya.
"Mia pernah bilang ayahnya bisa melakukan apa saja demi perusahaan," kata Adrian. "Aku pikir itu cuma cara anak orang kaya mengeluh. Ternyata dia sedang memperingatkan aku."
Richard menghubungi pihak berwenang setempat begitu sinyalnya kembali di ruang terbuka. Ia menjelaskan alamat, menyebut nama Mia, dan meminta bantuan segera. Namun sebelum bantuan datang, sebuah mobil hitam melaju masuk ke halaman dermaga. Lampunya mati, tetapi suara bannya di atas kerikil terdengar jelas.
Tiga lelaki turun membawa senjata.
"Mundur," kata Richard pelan.
Mereka bersembunyi di balik tumpukan peti kayu tua. Yura menempelkan punggungnya ke peti sampai serpihan kayu menusuk telapak tangannya. Para lelaki itu menyebar, menyorotkan senter ke sela-sela peti dan bawah dermaga. Salah satunya membawa selembar kertas yang dilipat dua. Ketika ia membukanya sebentar untuk mencocokkan, Yura melihat foto dirinya sendiri.
"Perempuan itu harus dibawa hidup-hidup," kata lelaki itu kepada temannya. "Richard boleh mati."
Yura menahan napas sampai dadanya sakit. Richard menggenggam tangannya erat dan memberi isyarat dengan mata agar tetap diam. Jantung Yura berdetak begitu keras sampai ia takut suaranya terdengar.
Adrian menyentuh bahu Richard, lalu menunjuk ke atas. Sebuah tangga besi menempel di dinding, menuju gudang di lantai atas.
Mereka bergerak perlahan, satu langkah demi satu langkah, tetapi papan lantai berderit di bawah sepatu Richard. Salah satu lelaki menoleh dan langsung berteriak.
Richard mendorong Yura lebih dulu ke tangga, lalu berbalik menghadapi pengejar yang menerjang. Perkelahian berlangsung singkat. Richard menangkis satu pukulan, menghantamkan sikunya, dan mendorong lelaki itu ke tumpukan peti. Namun sebelum jatuh, lelaki tersebut sempat menekan sesuatu di pinggangnya, dan alarm melengking ke seluruh dermaga.
"Naik!" teriak Richard.
Yura berteriak memanggil namanya dari tangga. Richard mengibaskan tangan, menyuruhnya terus naik, lalu menyusul dengan dua anak tangga sekali langkah.
Mereka berlari ke lantai atas. Yura hampir tergelincir di anak tangga kelima, tetapi Adrian menariknya. Di atas, Adrian menemukan ruang kontrol lama dengan meja panjang berdebu dan radio yang, entah bagaimana, masih berfungsi. Ia langsung memutar kanalnya dan menghubungi polisi menggunakan frekuensi darurat, berbicara cepat dalam bahasa Inggris.
"Kita hanya punya beberapa menit," katanya setelah menutup.
Richard melihat monitor CCTV yang masih menyala di sudut ruangan. Gambarnya hitam putih dan berbintik, tetapi cukup untuk membaca keadaan. Rekaman menunjukkan perahu yang membawa Mia menuju sebuah pulau kecil di tengah sungai, tempat sebuah rumah berdiri sendirian di antara pepohonan.
"Kita harus ke sana."
"Dengan apa?" tanya Yura.
Dari jendela ruang kontrol, terlihat perahu patroli milik pelabuhan bersandar tidak jauh dari situ. Richard menghubungi petugas melalui radio, menyebut namanya, menyebut nama perusahaannya, menyebut kata penyanderaan. Beberapa menit kemudian, suara sirene terdengar membelah kabut.
Para pengejar kabur ke arah mobil mereka. Namun dalam kepanikan itu, salah satu dari mereka meninggalkan sebuah map yang tertinggal di atas peti. Richard turun dan membukanya dengan tangan yang masih gemetar oleh adrenalin.
Di dalamnya, salinan kontrak yang seharusnya ia tanda tangani dalam pernikahan. Halaman demi halaman pasal yang tidak pernah ia baca utuh, karena ia mempercayakannya kepada Satrio.
Di halaman kelima ada kolom kosong untuk tanda tangannya. Kolom itu sudah diberi tanda silang kecil dengan pensil, rapi sekali, seperti orang menyiapkan formulir untuk anak sekolah.
Kontrak itu memberikan seluruh kendali perusahaan kepada perusahaan perantara milik ayah Mia.
"Mereka memang merencanakan mengambil perusahaanmu," ujar Yura sambil membaca dari balik bahunya.
Richard mengangguk. "Dan Mama membantu mereka."
Yura melihat sesuatu padam di wajah lelaki itu. Bukan marah. Lebih mirip lampu yang dimatikan dari dalam.
Ia tidak berkata apa-apa lagi sepanjang perjalanan.
Perahu patroli membawa mereka ke pulau kecil. Air menghantam lambung perahu dan membasahi celana mereka. Di sebuah rumah kosong yang catnya mengelupas, mereka menemukan Mia terikat di kursi. Wajahnya pucat, bibirnya pecah-pecah, tetapi ia masih sadar dan langsung mengangkat kepala begitu pintu terbuka.
Richard segera membebaskannya, membuka simpul di pergelangan tangannya dengan cepat. Mia memeluknya sambil terisak, namun Richard hanya menepuk bahunya sebentar, lalu melepaskan diri.
"Kamu terluka?"
"Tidak. Mereka hanya ingin menakutiku."
Yura berdiri beberapa langkah dari mereka, tidak tahu harus menaruh tangannya di mana. Mia memandangnya dengan mata penuh penyesalan.
"Maafkan aku, Yura."
Yura menelan semua yang ingin ia katakan. Semua berita, semua hinaan, semua malam tanpa tidur.
"Kita bicarakan nanti. Sekarang kita harus pergi."
Mia menggeleng cepat. "Tidak ada waktu. Ayahku sudah tahu kita menemukan kontrak. Dia akan mengirim semua bukti palsu ke media dan menuduh Richard membunuhku."
Richard menatapnya. "Apa maksudmu?"
Mia menunjuk ke sudut ruangan dengan dagunya. Di sana, di balik lubang ventilasi, sebuah kamera kecil menyala merah.
"Mereka merekam kita sejak awal. Kalau aku ditemukan bersama kalian di tempat seperti ini, mereka akan memalsukan cerita bahwa kalian menculikku. Kalian datang dari Indonesia, mencariku diam-diam, dan aku ditemukan terikat. Siapa yang akan percaya versi kita?"
Yura merasakan dingin menjalar dari tengkuk ke punggungnya. Jadi semua ini memang disiapkan. Bahkan penyelamatan ini pun sudah dihitung oleh mereka.
"Kalau begitu kita matikan kameranya," kata Yura.
"Percuma," jawab Mia. "Rekamannya tidak disimpan di sini."
Suara helikopter terdengar mendekat, memukul-mukul udara di atas atap. Detektif yang menyusul dengan perahu kedua melihat ke luar jendela.
"Kita dikepung."
Mia meraih tangan Yura, menggenggamnya seperti orang yang tenggelam.
"Kalau ingin keluar hidup-hidup, kita harus melalui terowongan di bawah rumah."